30 Hari Bercerita #10 Surat untuk Sumatera – Gayo

Kepada saudaraku di tanah Sumatera – Gayo,
Aku menulis ini sembari menatap layar yang bersih, di sebuah ruangan yang terang, sementara di sana, aku tahu kalian mungkin sedang sibuk membersihkan sisa lumpur, membuat sumur bor, atau meniup bara kayu bakar agar dapur tetap berasap.

Prahara yang melanda sejak November lalu hingga hari-hari di awal 2026 ini bukanlah sekadar berita baris yang lewat di linimasa bagi saya. Saya merasakan dinginnya air yang merendam harapan, saya merasakan lumpur yang menutup jalan, dan saya mengerti getirnya tawa Bapak saat harus kembali ke kayu bakar untuk sekadar memasak nasi.

Namun, di surat ini, saya tidak ingin hanya mengirimkan prihatin. Prihatin itu murah, ia seringkali habis saat jempol orang-orang selesai melakukan scrolling, reshare, Dan mengirim emoji sedih. Saya ingin mengirimkan harapan. Harapan bahwa tulang punggung kalian lebih kuat dari beban bencana ini, dan bahwa daya tahan kalian adalah guru bagi kami semua.

Ada sebuah permintaan yang mungkin terdengar aneh:

Tolong, doakan kami yang di luar Sumatera.
Doakan saudara-saudaramu di Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Doakan agar mata hati kami terbuka. Karena seringkali, kami yang hidup di pulau-pulau dengan infrastruktur mentereng ini mengalami kebutaan yang parah. Kami sering merasa Indonesia itu baik-baik saja hanya karena listrik selalu tersedia atau persediaan beras kami penuh.

Kami sering lupa bahwa Indonesia itu luas, dan seringkali perhatian kami hanya terhenti di mana lampu kota paling terang bersinar.

Doakan agar kami memiliki kepedulian yang sungguh, bukan sekadar solidaritas digital yang instan dan mudah dilupakan.

Sembari kalian berjuang memulihkan keadaan, mari kita sama-sama memohon:
Semoga Tuhan mengirimkan atau membentuk pemimpin-pemimpin yang mengerti Indonesia seutuhnya. Pemimpin yang tidak hanya mendengar laporan, tapi mengerti perihnya lecet kehilangan penghasilan, panen yang gagal, tangan yang terus bekerja. Pemimpin yang sadar bahwa Indonesia adalah sebuah bentang panjang dari Sabang sampai Merauke, bukan sekadar sebuah lagu tanpa makna

Tetaplah tegak, Saudaraku, ketahuilah bahwa ada doa yang tak putus dikirimkan. Tapi sekali lagi, tolong doakan kami agar tidak menjadi manusia yang mati rasa terhadap saudaranya sendiri.

Salam hormat

HWS