Ada jeda yang magis tepat setelah hujan deras berhenti mengguyur Mangga Besar siang kemarin. Aroma petrikor menguap kuat di udara. Dalam perjalanan pulang usai makan siang, langkah saya terhenti di depan Bougenville di tepi jalan. Bukan bunganya yang merah merona yang menarik perhatian saya, melainkan daun-daunnya. Di sana, butiran air hujan masih menggelayut. Mereka menempel di ujung daun, membulat sempurna, bergetar pelan tertiup angin, namun menolak untuk tumpah ke bumi.

Saya menyebut pemandangan ini sebagai “The art of failing to fall”—seni gagal jatuh.
Secara hukum fisika, gravitasi seharusnya sudah menarik mereka menyatu dengan tanah. Tapi mereka bertahan di sana, di ambang batas antara melekat dan melepaskan.
Saya termangu melihatnya. Pemandangan sederhana itu mendadak terasa sangat personal. Bukankah harapan seringkali seperti butiran air itu?

Ia bertahan di ujung hati, melawan gravitasi realitas yang berat. Mungkin keberadaannya di sana tidak serta-merta mengubah keadaan. Hujan sudah reda, masalah mungkin masih ada. Namun, harapan itu memilih untuk bertahan sebentar lagi, walau cuma sesaat, menunda kejatuhannya.
Dalam pergumulan hidup atau persoalan pekerjaan yang sedang kita hadapi, seringkali dunia menuntut kita untuk segera ‘jatuh’—menyerah, menerima nasib, atau bergegas move on. Tapi seperti kata Sang Maestro hujan, Sapardi Djoko Damono, dalam sajaknya (ada berita apa hari ini Den Sastro?):
“Apakah kenangan yang selalu basah oleh hujan, yang warnanya seperti kelereng, yang terbang ketika angin turun – tak bisa meninggalkanmu? Apakah masih ada yang berhak ber jalan di sampingmu? Setelah kelahiran, hidup.”
Pada akhirnya, butiran itu memang akan jatuh juga. Entah menguap disinari matahari sore, diterbangkan angin, atau luruh karena tak kuasa lagi menahan beban. Setiap persoalan pun toh suatu saat akan menemui akhirnya.
Namun, ada keindahan tersendiri dalam momen singkat saat ia memilih untuk bertahan:
bening dan utuh
sebelum akhirnya hilang. Dan kadang, sekadar “bertahan sedikit lebih lama” adalah satu-satunya kekuatan yang kita miliki hari ini.