30 Hari Bercerita #5 Ritual Antara Dua Stasiun

Mungkin bagi sebagian besar orang, hari kerja dimulai saat kita melakukan fingerprint atau membuka PC/laptop. Bagi saya, hari kerja dimulai saat pintu kereta menutup dan kereta mulai meluncur meninggalkan Stasiun Harjamukti.
Saya sering merenung, di tengah hiruk-pikuk dunia yang makin kompetitif, memiliki pekerjaan adalah sebuah kemewahan yang patut dirayakan setiap pagi. Bukan sekadar soal gaji, tapi soal martabat. Dengan bekerja, saya punya ruang untuk berekspresi, berdiskusi, hingga menikmati makan siang yang hangat.

Yang paling penting: saya bisa berdiri di atas kaki sendiri. Menjadi mandiri berarti tidak menjadi beban bagi orang lain, meskipun terkadang kita harus “tahan banting” terhadap satu-dua cibiran yang lewat. Faktanya, bekerja itu bukan cuma soal durasi 8 atau 10 jam di kantor. Realitasnya sering lebih dari itu. Namun, kuncinya bukan pada berapa lama kita duduk di kursi, melainkan bagaimana kita memaksimalkan setiap fragmen waktu untuk memberi dampak pada produktivitas.

Di sinilah transportasi umum menjadi “kantor kedua” saya yang paling efisien.

Saat menumpang LRT, saya punya pilihan: tidur sejenak untuk menabung energi, mendengarkan podcast, atau membaca buku. Namun, ada pemandangan menarik yang saya observasi setiap hari dari Stasiun Harjamukti. Begitu masuk kereta, hampir semua orang langsung terpaku pada layar HP. Sangat sedikit yang memilih membaca buku atau sekadar memejamkan mata untuk merenung. Kita seolah takut kehilangan informasi, padahal kadang yang kita butuhkan adalah sedikit keheningan sebagai “amunisi” sebelum “perang” di kantor dimulai.

Tapi, ada satu ritual yang sedapat mungkin tidak saya lewatkan. Di jalur antara Harjamukti hingga TMII, mata saya selalu mencari ke arah cakrawala. Karena di sanalah, jika beruntung dan udara sedang bersih, Gunung Salak akan berdiri dengan jernihnya menyapa pagi.

Pemandangan ini sangat eksklusif, hanya milik mereka yang berangkat pagi. Siang sedikit saja, ia akan segera bersembunyi di balik kabut dan awan polusi. Kehadirannya yang singkat itu terasa seperti sebuah “berkat” yang membisikkan bahwa hari ini (semoga) akan baik-baik saja.

Bagi saya, perjalanan menuju kantor adalah transisi secara mental. Sebuah waktu untuk mensyukuri kemandirian, kesehatan, kesempatan sebelum kita sibuk memberikan dampak bagi orang banyak.

Selamat berkarya.