“Kembali ke zaman tahun 1970-an. Masak pakai kayu bakar karena gas langka dan harganya selangit,” tulis Ayah di grup WhatsApp keluarga pagi ini.
Membaca pesan dari ayah, saya tidak tahu harus tertawa atau sedih. Di saat kita sudah di tahun 2026, kota kelahiran saya, Takengon, justru dipaksa melakukan perjalanan waktu mundur 50 tahun ke belakang. Bencana banjir yang menghantam sejak 26 November 2025 lalu menyisakan luka yang belum juga mengering. Listrik baru normal dua hari ini. Namun, “hantu” berikutnya muncul: krisis energi. Gas menghilang, dan kalaupun ada, harganya sudah “di luar nalar”.
Ayah bercerita dengan santai, khas beliau yang selalu optimis. Katanya, untung ada tumpukan kayu bekas di depan rumah yang tadinya hanya menunggu untuk dibakar sampah, eh, ternyata sekarang jadi harta karun. Malah beliau bercerita, banyak tetangga yang kini memasak di depan rumah mereka. Bayangkan, pemandangan kota di tahun 2026, tapi asap kayu mengepul dari depan teras rumah masing-masing karena dapur dalam tak lagi sanggup beroperasi tanpa gas.


Saya teringat keponakan saya, Elden, dan adik-adiknya. Mereka adalah generasi yang hanya tahu kompor tinggal klik atau pencet tombol. Mereka tidak kenal aroma asap yang pedih di mata atau cara menyusun kayu agar bara tetap terjaga. Sementara bagi generasi saya, memori memasak air panas dengan kayu bakar adalah bagian dari masa kecil yang kami pikir sudah usai.
Ada ironi yang menyesakkan di sini.
Di dunia luar, kita bicara panjang lebar tentang kepedulian lingkungan dan emisi karbon. Namun di Takengon saat ini, memungut kayu hanyut dari Kali Peusangan bukan lagi soal “gaya hidup hijau”, melainkan soal: “Bagaimana caranya agar besok kita bisa makan?” Ini adalah benturan keras antara idealisme lingkungan versus naluri bertahan hidup yang paling purba.
Ayah saya masih bisa tertawa. Beliau bahkan bilang kalau kayu habis, bisa minta ke kawan di daerah Kala atau Alur Sane. “Yang penting akses sudah bisa semuanya, mudah,” tulisnya dengan emoji senyum. Sebuah ketabahan luar biasa yang membuat saya termenung di sini, di tengah segala kenyamanan fasilitas kota besar.
Sampai kapan kita harus menggantungkan hidup pada “kayu hanyut” dan tawa nostalgia orang tua untuk menutupi rapuhnya pemulihan pascabencana?
Malam ini, saat Anda menyalakan kompor dengan sekali ceklek, ingatlah bahwa di sudut lain negeri ini, ada tangan-tangan yang harus lecet membelah kayu hanya agar asap dapur tetap mengepul.