30 Hari Bercerita #3 Dimana Rumahmu Berada, Disitulah Hatimu Berada

“Di mana rumahmu?” seringkali bukan sekadar pertanyaan tentang koordinat GPS. Di balik jawaban kita, sering ada pernyataan terselubung tentang status, pencapaian, dan identitas. Rumah adalah kebanggaan yang kita pamerkan kepada dunia.

Namun, bagi saya, pelajaran tentang rumah adalah sebuah perjalanan panjang yang melintasi berbagai rupa hunian.

Saya tumbuh besar di asrama polisi di Takengon. Di sana, rumah adalah keseragaman. Tampak luar boleh sama, namun “isinya” adalah medan perang harga diri. Karena bangunannya identik, orang akan membandingkan apa yang ada di dalam. Siapa yang punya TV lebih besar atau sofa lebih empuk seringkali menjadi bahan bisik-bisik tetangga. Di asrama, rumah adalah panggung kompetisi kecil.

Saat asrama dibongkar, Ayah membawa kami mengontrak di tepian Sungai Peusangan, Takengon. Jangan bayangkan riverside mewah di luar negeri; ini adalah kehidupan tepi sungai yang jujur. Pemandangan harian saya adalah sampan yang melintas, orang memancing, dan anak-anak mandi, lengkap dengan “kamar mandi layang” yang ikonik.

Hanya enam bulan di sana, kami pindah lagi ke sebuah rumah yang jauh lebih layak. Itulah rumah impian masa kecil saya. Ada kamar yang luas, halaman untuk bermain bola, bahkan Ibu memelihara ayam dan bebek. Namun, ironinya, saya hanya sempat menikmatinya selama dua tahun sebelum akhirnya merantau ke Medan, lalu terdampar di hiruk-pikuk Pulau Jawa.

Tahun-tahun setelah itu adalah petualangan dari satu “rumah” sementara ke rumah lainnya. Dari kamar kos yang sempit, kontrakan di gang yang hanya cukup untuk satu motor, hingga apartemen 4×5.

Di sana saya tersadar: Rumah bukan lagi soal luas bangunan atau status sosial. Perjalanan ini mengingatkan saya pada pemikiran Romo Mangun tentang Wastu Citra dimana rumah bukanlah sekadar persoalan teknis batu dan semen, melainkan soal bagaimana manusia memanusiakan dirinya. Bagi Romo Mangun, ada perbedaan antara “Griya” (bangunan fisik) dan “Wastu Citra” (ruang yang memiliki jiwa). Saya baru menyadarinya sekarang: Rumah bertransformasi dari simbol status menjadi tempat meletakkan lelah, tempat melepaskan topeng profesional, dan merasa diterima seutuhnya setelah dihajar habis-habisan oleh kejamnya dunia.

Saat ini, hati saya sedang pilu. Kota kecil saya, Takengon, sedang berduka. Banyak teman-teman saya kehilangan rumah mereka karena bencana. Saya membayangkan anak-anak di sana yang kini kehilangan “kebanggaan” dan tempat mereka bermimpi. Trauma itu nyata ketika tempat perlindungan paling aman pun bisa direnggut dalam sekejap.

Di tengah duka itu, saya mendapati diri saya merindukan hal-hal paling sederhana: Aroma sarapan sebelum sekolah, memandang danau dari jendela belakang, ritual menyiram tanaman, hingga tertidur di sofa sambil memeluk buku.

Kini, setiap kali saya memandang atap rumah yang saya tinggali, ada rasa syukur yang berbaur dengan ngeri. Duka yang menyelimuti Takengon saat ini adalah alarm keras bagi saya: bahwa rumah, setinggi apa pun status yang ia tawarkan dan sekuat apa pun temboknya dibangun, itu hanyalah “pinjaman” yang bisa ditarik kembali oleh semesta dalam satu kedipan mata.

Kita sering kali terlalu sibuk membangun istana untuk dipamerkan, sampai lupa bahwa kita sedang berdiri di atas bumi yang bisa bergejolak kapan saja.

Melihat teman-teman di sana kehilangan segalanya, saya belajar untuk mendekap apa yang saya miliki sekarang dengan lebih erat, namun dengan tangan yang tidak lagi menggenggam terlalu keras. Saya berempati pada mereka yang kini harus kehilangan tempat menyimpan kenangan, seraya menyadari bahwa saya pun hanya sedang “menitip lelah” sementara di sini.

Pada akhirnya, rumah yang paling sejati adalah ruang aman yang tetap kokoh memeluk jiwa-jiwa yang lelah dan terluka.

Depok, 3 Januari 2026

30HariBercerita # #30hbc2603