Ada satu tempat di mana manusia paling jujur dengan perasaannya: Stasiun. Stasiun adalah tempat di mana drama kemanusiaan dipentaskan tanpa naskah.
Berkali-kali, dalam penugasan dinas saya di stasiun, saya berhenti sejenak hanya untuk menyaksikan momen-momen itu. Melihat seseorang memeluk erat kerabatnya dengan mata berkaca-kaca membuat saya merasa terberkati. Bagi saya, stasiun juga adalah panggung sandiwara kehidupan yang paling murni. Mereka yang menjemput dan mengantar sebenarnya sedang menjalankan tugas kemanusiaan yang agung; sebuah pengingat bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah fana—ada yang tiba, ada yang berangkat.
Cinta saya pada kereta api bukanlah kebetulan. Ibu sayalah yang menanamkan benih itu.
Saya ingat betul saat masih SD, di musim Natal dan Tahun Baru seperti sekarang, beliau selalu bercerita tentang betapa serunya perjalanan dengan kereta api. Maklum, saya tinggal di Aceh yang tidak ada sama sekali kereta api. Beliau mengajak kami mengunjungi Inangtua (kakak Ibu) ke Siantar. Kami berangkat dari Stasiun Medan, penuh kegirangan. Dulu, Ibu bercerita tentang hiruk-pikuk pedagang asongan di dalam gerbong—dan saya masih melihatnya sendiri – sesuatu yang kini telah menjadi sejarah. Siapa sangka, berpuluh tahun kemudian, justru sayalah yang kini bekerja di industri ini.
Setiap kali melihat anak-anak kecil berbinar menatap jendela kereta, saya seperti melihat diri saya sendiri. Percayalah, bagi anak-anak, perjalanan adalah petualangan terbesar mereka.
Lucunya, meski kini bekerja di kereta, saya justru belum sempat mencicipi lagi Siantar Express yang legendaris itu. Setiap kali dinas ke Medan dan ingin bernostalgia, jadwalnya selalu berbenturan karena kereta tersebut menginap di Siantar. Akhirnya, perjalanan saya sering saya alihkan menuju Tanjung Balai. Namun, masih saya ingat perjalanan itu, minimal dari Medan ke Tebing Tinggi.







Bicara soal rel, ingatan saya melompat ke belakang rumah Opung di Medan. Dulu, setiap Minggu saat hendak ke gereja, rel kereta adalah jalan pintas kami. Kami berjalan dengan setengah melompat di atas bantalan kayu tanpa menyadari betapa bahayanya jalur itu.
Dulu saya hanya melihatnya sebagai tumpuan kaki. Sekarang, setelah bertahun-tahun melakukan audit, saya paham bahwa bantalan kayu itu bukan sembarang kayu. Ia dipilih dengan kriteria teknis yang sangat tinggi untuk menahan beban ribuan ton.
Refleksi ini membawa saya pada kata-kata Agatha Christie dalam otobiografinya:
“Trains are wonderful… To travel by train is to see nature and human beings, towns and churches and rivers, in fact, to see life.”
Apa yang dikatakan Christie sangat relevan bagi saya. Saat dulu menyusuri rel menuju Siantar sambil membayangkan cerita ibu, saya melihat itu sebagai kota tujuan. Namun kini, melalui pekerjaan saya, saya melihat “kehidupan” yang lebih luas di sepanjang jalurnya. Kereta dan rel menghubungkan masa kecil saya dan akhirnya menyaksikan kehidupan itu sendiri.
Mungkin saat ini, Ibu sedang tersenyum – atau bahkan tertawa – dari surga melihat anaknya—si bocah yang dulu terpukau dengan ceritanya—kini justru menjadi bagian dari penjaga mimpi-mimpi perjalanan orang-orang.
Jakarta, 2 Januari 2026