30 Hari Bercerita #1 Mengapa Bercerita?


Seringkali, di ruang rapat korporat atau dalam obrolan serius dengan sahabat, kita terbiasa membombardir lawan bicara dengan fakta, data, dan nasihat “bijak”. Tapi, cobalah jujur, berapa banyak dari semua itu yang benar-benar menempel dan mengubah perilaku?

Saya teringat sebuah pemikiran tajam dari Anthony de Mello, seorang Jesuit dan psikoterapis. Ia pernah berkata bahwa satu hal yang paling sulit ditolak manusia adalah cerita. Orang bisa dengan mudah menepis argumen teologis, mengabaikan nasihat moral, tapi mereka akan luluh dan mendengarkan sebuah cerita.

Kalimat itu menampar saya.

Saya menyadari, sebagai pribadi yang sering berkutat dengan strategi dan analisa, saya pun sering luput. Padahal, saya sendiri jauh lebih mengingat kisah masa lalu yang diceritakan orang tua saya ketimbang deretan petuah mereka.

Ternyata, ini bukan cuma perasaan subjektif. Riset di bidang psikologi kognitif oleh Profesor Stanford Graduate School of Business Jennifer Aaker di buku The Dragonfly Effect (2011), menyebutkan bahwa manusia cenderung mengingat cerita hingga 22 kali lebih baik daripada fakta. Penelitian tersebut juga mengungkap kalau hanya 5% audiens yang mengingat statistik, sementara 63 % mengingat cerita.
Otak kita sepertinya memang ‘kabelnya’ dirakit untuk menerima narasi, bukan sekadar data mentah.

Itulah mengapa saya memulai tantangan 30 hari bercerita ini.

Saya ingin mencoba “mewariskan” sesuatu. Bukan warisan materi, melainkan kepingan-kepingan ingatan. Saya menyadari ingatan saya suatu saat akan menurun. Saya berharap cerita-cerita sederhana ini bisa menjadi “sesuatu” yang entah bagaimana mampu ‘mewarnai’ siapapun yang membacanya, sama seperti cerita orang lain telah mewarnai hidup saya.

Ke depannya, mungkin Anda akan banyak melihat visual dari dua dunia yang saya cintai: garis-garis tegas rel kereta api dan jalur trekking yang sunyi. Mengapa? Karena di sanalah, di antara deru ritmis roda besi dan aroma tanah basah di hutan, saya paling sering menemukan perjumpaan-perjumpaan kecil yang memperkaya batin. Perjalanan fisik seringkali hanyalah metafora untuk perjalanan ke dalam diri, bukan?

Pada akhirnya, kita semua hanyalah kumpulan cerita yang sedang berjalan. Berbagi cerita adalah cara paling purba untuk berkata, “Saya pernah ada di sini, saya merasakan ini, dan kamu tidak sendirian.”

Sekarang giliran Anda. Coba ingat-ingat, apa SATU cerita (bukan nasihat) dari seseorang di masa lalu Anda yang paling membekas dan mengubah cara pandang Anda hingga hari ini? Ceritakan di kolom komentar.

30haribercerita #30hbc2601 #Storytelling #Refleksi #AnthonyDeMello #LifeJourney #KeretaApiIndonesia