Ada sebuah keresahan yang belakangan ini sering mampir di kepala saya. Di tengah gempuran video singkat (reels) berdurasi 15 detik yang membuat rentang perhatian kita makin memendek, di tengah hiruk-pikuk media sosial yang terasa seperti pasar malam yang tak pernah tidur, saya tiba-tiba rindu pada sesuatu yang sunyi. Sesuatu yang panjang, mendalam, dan… lambat.
Saya rindu pada era “blogging”.
Beberapa hari lalu, iseng-iseng saya membuka sebuah thread di media sosial. Saya melempar sebuah pertanyaan sederhana, yang sejujurnya agak pesimis: “Apakah masih ada yang menulis jurnal di blog wahai kalian kaum milennial?”
Saya mengira unggahan itu akan sepi. Paling-paling hanya satu atau dua orang teman lama yang menyahut. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Notifikasi saya meledak. Puluhan orang mengirimkan tautan, menunjukkan “rumah digital” mereka yang masih berdiri kokoh di tengah badai media sosial.
Malam itu, saya tidak jadi tidur awal. Saya justru “jalan-jalan”—melakukan ritual lama yang dulu kita sebut blogwalking. Dan apa yang saya temukan sungguh menghangatkan hati. Ternyata, blog belum mati. Ia hanya sedang menyaring orang-orang yang benar-benar punya jiwa untuk berbagi.
Memulai Perjalanan di Sudut yang Teduh
Langkah pertama saya membawa saya ke sebuah beranda bernama pustakasabtu.substack.com. Membacanya seperti masuk ke perpustakaan kecil di hari Sabtu yang gerimis. Ada kehangatan dalam setiap kurasi tulisannya, sebuah pengingat bahwa literasi dan pemikiran yang matang masih punya tempat yang sangat terhormat di hati para pembacanya.
Tidak jauh dari sana, saya mampir ke laman gelarriksa.medium.com. Di sini, narasinya terasa lebih lugas namun tetap punya kedalaman yang khas Medium. Saya merasa seperti sedang duduk di sebuah kedai kopi, mendengarkan seorang teman bercerita tentang perspektif hidup yang belum pernah terpikirkan sebelumnya.
Saat saya mulai merasa terhanyut dalam kata-kata, saya menemukan sebuah esai yang sangat relevan dengan pencarian saya malam itu. Melalui tautan open.substack.com/pub/naajmi/p/the-art-of-not-fading-away-kamu-belum, saya seolah diajak merenung tentang “seni untuk tidak memudar”. Tulisan Naajmi ini seperti memvalidasi perasaan saya: bahwa di dunia yang serba cepat ini, menulis di blog adalah cara kita menjaga eksistensi diri agar tidak hilang ditelan arus informasi yang dangkal.
Menemukan Jejak di Antara Platform Klasik
Saya kemudian rindu pada platform-platform klasik yang dulu merajai internet. Saya pun mengetuk pintu dipewein.wordpress.com. Ada sesuatu yang sangat nostalgik melihat tampilan WordPress yang rapi, berisi catatan-catatan jujur yang mengalir apa adanya. Rasanya seperti menemukan buku harian seseorang yang disimpan dengan rapi di laci meja kayu. Langkah saya membawa ke dipewein.wordpress.com, blog milik Gandes yang menyebut dirinya “Si Pencerita.” Di sini, saya menemukan cerita perjalanan ke Melbourne, renungan tentang perasaan “tak apa-apa menjadi tidak oke,” dan potongan kehidupan yang ditulis dengan lembut. Blog ini seperti album foto, tapi dalam bentuk kata-kata—setiap tulisan adalah bingkai yang menyimpan emosi.
Saya singgah sejenak di agabisena.medium.com dan gifarabdalah.medium. Agabisena menyebut dirinya “narrative alchemist”—penulis naratif, penyair, dan mantan jurnalis. Tulisan-tulisannya adalah campuran antara puisi dan refleksi, seperti percikan cahaya di ruang gelap. Gifarabdalah, meski belum sempat saya telusuri lebih dalam, memberi kesan serupa: ruang untuk berpikir dan merasakan.
Cerita Perjalanan dan Manisnya Keseharian
Semakin larut malam, perjalanan saya semakin berwarna. Saya sempat mampir ke newakhyarisalsablastory.blogspot.com, meski detailnya belum lengkap. Ada juga happyvanillaa.blogspot.com, yang dari judulnya tampak puitis. Blogspot, meski dianggap “jadul,” ternyata masih menjadi rumah bagi banyak tulisan personal. Ada kehangatan tersendiri ketika membaca blog di platform ini—seperti membuka buku harian seseorang.
Perjalanan saya berakhir di lalakitc.com dan kompasiana.com/mynotetrip. Blog ini adalah dunia yang berwarna: travelling, kuliner, review teknologi, gaya hidup, bahkan cerpen. Saya membaca tentang pengalaman ke Pulau Lancang, event reggae, dan review gadget seperti ASUS Zenbook. Pemiliknya, Mbak Lala, adalah content creator yang piawai merangkai cerita dan informasi. Blog ini mengingatkan saya bahwa menulis bukan hanya tentang refleksi, tapi juga berbagi pengalaman yang bisa menginspirasi orang lain.
Mengapa Mereka Masih Menulis?
Setelah mengunjungi semua “rumah” itu, saya duduk terdiam di depan layar laptop yang mulai meredup. Saya merenung: Mengapa mereka masih bertahan? Mengapa masih repot-repot menyusun paragraf demi paragraf di saat orang lain lebih memilih mengunggah foto dengan caption satu kata?
Jawabannya mulai jernih di kepala saya.
Pertama, untuk menjaga kewarasan. Di dunia yang menuntut kita untuk selalu bereaksi cepat, menulis blog adalah tindakan perlawanan. Blog memberi kita ruang untuk berhenti sejenak, mengolah emosi, dan menyusun pikiran yang berantakan menjadi sesuatu yang koheren. Ini adalah terapi. Kedua, untuk refleksi. Media sosial seringkali hanya menangkap “permukaan”. Blog menangkap “kedalaman”. Saat kita menulis kembali apa yang kita alami dalam bentuk narasi panjang, kita sebenarnya sedang belajar mengenal diri sendiri lebih jauh. Ketiga, untuk meninggalkan jejak digital yang bermakna. Foto bisa hilang di tumpukan galeri, video bisa terhapus algoritma, tapi tulisan yang diletakkan di sebuah domain atau platform blog pribadi terasa lebih abadi. Ia adalah warisan pemikiran bagi diri kita di masa depan, atau bagi orang lain yang mungkin sedang mencari jawaban atas kegelisahan yang sama.

Mari Menulis Lagi
Malam itu, rasa pesimis saya hilang sepenuhnya. Saya merasa segar, terinspirasi, dan—yang paling penting—tidak sendirian. Ternyata masih banyak “petani kata” yang tekun merawat kebun digital mereka, meski tidak banyak yang menonton atau memberi like.
Tulisan ini saya buat untuk kalian yang mungkin selama ini merasa ragu untuk kembali menulis. Kalian yang merasa blog sudah ketinggalan zaman. Percayalah, di sudut internet yang sunyi ini, suara kalian masih sangat dinantikan.
Menulislah. Bukan karena ingin dilihat banyak orang, tapi karena kamu punya sesuatu untuk dikatakan. Menulislah untuk menjaga budaya berpikir kritis dan mendalam agar tidak punah ditelan arus.
Menulis adalah seni untuk tidak memudar. Setiap kata yang kita tulis adalah jejak kecil yang akan bertahan lebih lama daripada status singkat di media sosial. Jadi, kalau kamu punya blog, jangan berhenti menulis. Kalau belum, mungkin ini saatnya mulai. Karena di dunia yang serba cepat, menulis adalah cara kita berkata: “Aku ada, aku berpikir, dan aku ingin berbagi.”Karena selama masih ada orang yang mau membaca dan menulis dengan hati, blog tidak akan pernah benar-benar mati.