Ironi Dalam Galeri

Kita sering bicara tentang “memanusiakan manusia” di kantor, tapi sering kali kita gagal melakukannya di galeri foto ponsel kita sendiri.

Ada sebuah fenomena psikologis yang hampir dialami semua orang saat melihat foto grup. Mata kita akan secara otomatis mencari wajah sendiri terlebih dahulu. Hanya butuh waktu kurang dari satu detik untuk melakukan “audit visual” terhadap penampilan pribadi. Jika rambut kita rapi dan senyum kita pas, foto itu dianggap “layak share”.

Namun, di situlah letak ironinya.

Filter “Yang Penting Saya Bagus”

Kita sering kali menjadi kurator yang kejam. Dalam satu sesi foto bersama setelah pelayanan di gereja atau rapat di kantor, biasanya ada 3-5 jepretan. Saat hendak membagikannya ke grup atau media sosial, jari kita cenderung memilih foto di mana: kita tampak sempurna, meski teman di sebelah sedang berkedip (setengah merem); pose kita gagah, meski rekan sejawat sedang tampak blur karena bergerak; senyum kita maksimal, meski wajah orang lain sedang tampak kecut atau tidak siap.

Kita melakukan “pengorbanan” atas martabat visual orang lain demi estetika pribadi. Kita mengirimkan foto itu ke grup tanpa rasa bersalah, seolah-olah orang lain dalam bingkai itu hanyalah latar belakang bagi kehebatan kita.

Padahal, jika kita kembali ke filosofi perjumpaan yang kita bahas sebelumnya, sebuah foto bersama seharusnya menjadi monumen kebersamaan, bukan sekadar etalase pribadi. Jika kita egois dalam memilih foto, sebenarnya kita sedang merusak “altar” kebersamaan itu sendiri. Kita lebih peduli pada branding diri daripada menghargai kehadiran orang lain yang sebenarnya berdiri di sana untuk melengkapi cerita kita.

“In alio spectas, in te non vides.”

(Kamu melihat pada orang lain, tapi kamu tidak melihat dirimu sendiri).

Mungkin sudah saatnya kita menimbang kembali cara kita berbagi. Memilih foto di mana semua orang tampak “manusiawi” (meski kita sendiri tampak sedikit kurang maksimal) adalah bentuk tertinggi dari rasa hormat dan kasih kepada sesama pelayan atau rekan kerja.

Mungkin salah satu kebijaksanaan baru yang perlu dipupuk di usia mendewasa ini adalah menggunakan etika dalam berbagi foto:

 – Sebelum menekan tombol send, coba tatap satu per satu wajah di foto itu, dengan mempertanyakan hal ini:

– Apakah mereka akan merasa senang melihat dirinya di sana?

 – ataukah kita sedang mengharapkan satu like tambahan dari foto kita tanpa melihatnya secara keseluruhan? 

Karena pada akhirnya, persahabatan dan pelayanan yang tulus tidak diukur dari seberapa bagus foto kita di Instagram, melainkan dari seberapa besar kita menjaga martabat satu sama lain, bahkan dalam hal sekecil pose foto.

Mari kita renungkan.