Dari Tanah Toba ke Dunia: Sebuah Perjumpaan dengan Sitor Situmorang

Perjalanan saya ke Gramedia Jalan Matraman hari ini ternyata mempertemukan saya dengan dua hal yang tak direncanakan. Pertama, sebuah sudut hangat bernama Kafe Buku Makarya—ruang kecil yang membuat buku dan waktu berjalan lebih pelan. Kedua, sebuah perjumpaan lama: buku kumpulan cerpen Ibu Pergi ke Surga karya Sitor Situmorang. Buku yang pernah saya resensi sebelas tahun lalu, dan kini seperti menunggu untuk dibuka kembali.

Ibu Pergi ke Surga berisi 23 cerpen yang ditulis Sitor dalam rentang panjang, dari 1950 hingga 1981. Cerita-cerita ini terasa seperti catatan harian seorang pengembara: tentang kampung halaman, persahabatan, cinta, kehilangan, dan pencarian makna hidup. Latar ceritanya berpindah-pindah—Samosir, Danau Toba, Jakarta, Yogyakarta, Paris, Belanda, hingga Italia. Dunia tradisi Batak berpadu dengan pengalaman Eropa dan bayang-bayang pemikiran eksistensialisme yang kala itu sedang berkembang.

Ada cerpen tentang kampung halaman yang digambarkan begitu hidup: Pulau Samosir yang “seperti raksasa tergolek” di tengah Danau Toba, pekan di Haranggaol tempat orang-orang menukar hasil bumi, hingga denyut kehidupan Parapat di malam hari. Ada pula kisah-kisah personal—tentang diplomat muda, cinta pertama seorang gadis Italia yang jatuh cinta pada Bali, dan tentu saja cerpen paling hening: Ibu Pergi ke Surga. Sebuah cerita tentang pulang, tentang Natal, tentang kehilangan yang disimpan rapat demi menjaga kekhidmatan bersama, hingga akhirnya harus diakui dalam sunyi.

Bisa book-date juga

Menariknya, Sitor Situmorang lahir di kecamatan yang sama dengan ibu saya: Pusuk Buhit. Dari desa-desa di lereng gunung yang indah di Tanah Toba, lahir seorang sastrawan yang karyanya mendunia, diterjemahkan ke berbagai bahasa, dan tetap relevan lintas zaman. Perjumpaan ini membuat saya kembali sadar: akar yang kuat sering kali melahirkan suara yang jauh bergema.

Resensi lengkap yang pernah saya tulis masih tersimpan di blog, sebagai jejak kecil perjalanan membaca saya:
https://blogbukuhelvry.blogspot.com/2011/04/ibu-pergi-ke-surga.html

Refleksi saya sederhana: waktu boleh singkat, toko buku boleh ramai, tapi buku yang baik selalu tahu kapan harus memanggil kita kembali. Kadang, di antara rak buku dan secangkir kopi, kita diingatkan bahwa membaca bukan hanya tentang cerita, melainkan tentang pulang ke ingatan, ke asal-usul, dan ke diri kita sendiri.