Suasana Natal tahun ini di Takengon terasa sangat memprihatinkan. Seperti dikutip dari media sosial IG RRI Takengon dan BBC Indonesia, kebaktian Natal di Gereja Katolik Santo Petrus dan HKBP Takengon berlangsung dengan penuh kesyahduan, namun dalam keterbatasan yang nyata. Jemaat masih sulit untuk datang ke gereja, dan hingga hari ini kepastian terhubungnya Takengon dengan kota-kota lain pun belum jelas.
Takengon bukan sekadar sebuah tempat di peta bagi saya. Di sanalah saya bertumbuh. Masa kecil saya dimulai dari TK di lingkungan Katolik, dan perjalanan iman saya berlanjut melalui Sekolah Minggu hingga remaja di HKBP Takengon. Dua gereja ini bukan hanya bangunan, tetapi bagian dari cerita hidup, doa-doa sederhana, dan harapan yang dibentuk sejak dini.
Natal mengingatkan kita bahwa terang sering kali lahir di situasi yang paling gelap. Di tengah keterbatasan, kesyahduan ibadah di Takengon menjadi kesaksian bahwa iman dan pengharapan belum padam. Doa saya, semoga keadaan di Takengon segera membaik, akses kembali terbuka, dan kehidupan berangsur pulih. Kiranya damai Natal menguatkan setiap jemaat, setiap keluarga, dan setiap hati yang menanti pertolongan.
Selamat Natal. Semoga terang itu terus menyala, dari Takengon untuk kita semua.