Perjalanan pulang sore itu dimulai dari Stasiun Gambir. Tadinya ada rencana mengikuti apel posko Nataru, namun hingga lewat pukul lima sore kegiatan itu belum juga dimulai. Kabar terakhir justru menyebutkan baru akan berlangsung sekitar pukul tujuh malam. Saya memutuskan pulang.
Awalnya sederhana saja: menuju Gondangdia untuk naik KRL. Namun entah kenapa, langkah ini berubah arah. Saya turun dan memilih berjalan kaki menuju Dukuh Atas. Sore hari ternyata ramah bagi pejalan kaki. Trotoar dari Gondangdia cukup lebar, rapi, dan nyaman. Jakarta, di jam-jam tertentu, bisa terasa begitu bersahabat.
Di tengah perjalanan, saya sampai di Sarinah. Tanpa rencana, saya mendapati sekelompok orang sedang menyanyikan lagu-lagu Natal. Caroling, di ruang publik, dengan orang-orang yang singgah sebentar—sebagian merekam, sebagian hanya berdiri dan mendengarkan. Saya ikut berhenti. Menonton. Menikmati momen yang terasa langka. Entah kapan lagi saya akan melihat suasana seperti ini.

Alunan lagu itu sederhana, namun cukup menghibur perjalanan pulang. Di tengah keramaian kota, ada kehangatan yang singkat tapi nyata. Namun di sela-sela nyanyian, pikiran saya melayang jauh. Teringat saudara-saudara di Aceh yang sedang tidak beruntung. Listrik padam, Natal dirayakan dalam kondisi gelap, dengan keterbatasan. Anak-anak Sekolah Minggu, para remaja, orang tua, keluarga-keluarga yang setia menantikan pertolongan—seperti dalam refleksi Advent—menunggu dengan sabar, berharap pada terang yang dijanjikan Tuhan.
Saya melihat banyak orang datang hanya sebentar. Singgah, merekam, lalu pergi. Mungkin memang begitu caranya kota bekerja: memberi momen sekejap, lalu membiarkan kita melanjutkan perjalanan masing-masing.
Langkah saya pun kembali berlanjut menuju Dukuh Atas. Perjalanan itu mengajarkan saya bahwa kebahagiaan sering hadir singkat, tanpa rencana. Ia datang di sela keputusan kecil—berjalan kaki, berhenti sejenak, mendengar lagu yang tak kita cari. Namun kebahagiaan itu tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu berdampingan dengan kesadaran bahwa di luar lingkar kecil kenyamanan kita, ada saudara-saudara yang sedang berjuang.
Segenap simpati dan solidaritas saya kirimkan bagi keluarga dan saudara-saudara di Aceh. Bukan sekadar empati dari kejauhan, tetapi doa yang sungguh dan pengharapan yang tidak padam. Perjalanan pulang itu menjadi pengingat bahwa iman bukan hanya dirayakan dalam lagu dan terang, tetapi juga dalam kesetiaan menunggu, berbagi, dan tetap mengasihi—bahkan ketika pertolongan belum tiba.
Gondangdia – Dukuh Atas, 17 November 2025