Memoria

Kemarin Jakarta kembali berbaik hati. Di atas derit gerbong LRT yang meluncur membelah langit sore, saya berhasil “mencuri” lagi satu momen sunset. Lumayan, satu lagi kepingan cahaya untuk menambah koleksi di galeri ponsel yang kian penuh.

Zaman sekarang, kita sangat terbantu oleh kecerdasan buatan seperti Google Photos. Ia pintar, bahkan terlalu pintar. Ia bisa mengelompokkan gambar hanya berdasarkan pola; ia tahu mana rona oranye matahari terbit dan mana semburat matahari terbenam, meski bagi mata manusia, keduanya sering kali tampak identik.

Jujur saja, menata ribuan foto secara manual berdasarkan tema, tempat, atau tanggal adalah sebuah “PR” yang melelahkan. Kita sering kali malas melakukannya. Namun, kita baru akan merasa sangat tertolong saat suatu hari nanti butuh memanggil kembali memori itu. Klasifikasi adalah kunci agar kenangan tidak terkubur menjadi sampah digital.

Namun, ada satu hal yang tidak bisa dilakukan oleh algoritma sepintar apa pun: menangkap nilai emosional di balik wajah-wajah yang terekam.

Perenungan ini membawa saya pada rutinitas di gereja. Setiap kali selesai bertugas sebagai pemandu nyanyian jemaat atau pemusik, ada satu ritual yang tak pernah lewat: berfoto, lalu kirim ke grup sebagai bentuk “laporan”. Setelah foto itu terkirim di grup WhatsApp, ia biasanya akan menguap begitu saja. Pertanyaannya: Siapa yang benar-benar mengumpulkan foto-foto yang tercecer itu? Siapa yang memindahkannya ke folder yang rapi? Siapa yang dengan sabar mencatat nama-nama rekan yang ada di dalam foto tersebut?

Jawabannya: Hampir tidak ada.

Kita cenderung egois dengan memori. Kita hanya akan menyimpan foto di mana wajah kita terlihat bagus, lalu membiarkan sisanya hilang ditelan waktu. Kita sering kali lupa siapa rekan yang berdiri di sebelah kita saat bertugas hari itu. Foto itu sepertinya hanya menjadi bukti kerja, bukan lagi arsip kebersamaan.

Mungkin benar bahwa untuk urusan foto, kita sering kali egois. Kita mengumpulkan gambar, tapi tidak merawat kenangan. Kita menyimpan pixel, tapi kehilangan konteks.
Padahal, mengarsipkan foto dengan rapi lengkap dengan nama dan tanggal adalah bentuk penghormatan. Dengan mencatat siapa yang bertugas bersama kita, kita sedang mengakui bahwa pelayanan itu bukan kerja tunggal, melainkan sebuah harmoni bersama.

Jangan sampai algoritma Google lebih mengenal koleksi foto kita daripada hati kita sendiri yang mengenal orang-orang di dalamnya.
“Memoria est thesaurus omnium rerum et custos.”
(Ingatan adalah perbendaharaan dan penjaga segala sesuatu).

Jika kita tidak menjaga “perbendaharaan” itu sekarang, suatu saat nanti kita hanya akan memiliki ribuan foto tanpa tahu lagi siapa saja yang pernah mengisi hidup kita.