Bonus Lap Cerita #34 Dialektika

Menutup jurnal panjang ini, saya menyadari bahwa yang saya lakukan selama Januari hingga awal Februari ini bukanlah sekadar menulis, melainkan sebuah dialektika batin. Pikiran saya terus berdialog, terkadang berdebat dengan barisan teks di buku filsafat, terkadang berbisik lirih saat berjumpa kawan lama, atau mendadak riuh saat melihat antusiasme anak muda yang baru mencicipi dunia kerja.

Berikut adalah catatan penutup dari seluruh rangkaian permenungan saya:

  1. Dialektika Antara Memori dan Realita
    Menapaki cerita demi cerita terasa seperti melipat waktu. Saya belajar bahwa hal-hal yang tampaknya sederhana ternyata menyimpan lapisan makna yang dalam:
    Dialog dengan Masa Lalu, lewat konsep akuntansi, saya berdamai dengan angka 6 di rapor SMA. Saya berhenti menghakiminya sebagai kegagalan dan mulai memandangnya sebagai “biaya” (Debere) untuk sebuah kebijaksanaan (Credere). Dialog dengan Perjumpaan mbak penjaga roti di Loko Cafe LRT Cikoko hingga para pekerja muda yang terpaut 20 tahun, saya belajar bahwa setiap orang adalah cermin. Mereka memantulkan kembali sisi diri saya yang mungkin sudah lama tertutup debu rutinitas.
  2. Menghadapi Sisa Perjalanan
    Di angka 43 ini, saya tidak akan memoles realita menjadi terlalu manis. Saya sadar, sisa perjalanan ini membawa tantangan yang tidak ringan bahwa saya tidak memungkiri ada kekuatiran masa depan, seperti kabut yang terkadang menutupi jalur pendakian hidup saya ke depan.
    Selanjutnya saya melihat circle pertemanan yang semakin mengecil. Namun, alih-alih kesepian, saya belajar bahwa ini adalah proses filtrasi alami untuk menyisakan mereka yang benar-benar satu frekuensi.
    Terkadang saya merasa “asing” atau terlalu senior untuk masuk ke komunitas yang didominasi jiwa-jiwa muda. Namun, saya sadar, saya tidak di sana untuk berlari secepat mereka, melainkan untuk menjadi jangkar bagi mereka yang sedang terombang-ambing.
  3. Membangun Warisan Dari Cerita
    Lalu, apa yang bisa saya lakukan selain membuat cerita?
    Saya mulai belajar menjadi Mentor, yaitu mengubah pengalaman menjadi peta bagi mereka yang baru mulai. Jika saya tak lagi secepat dulu, saya bisa menjadi orang yang menunjukkan di mana mata air berada. Saya memaknai meja kerja seperti Altar Ibadah, terus memantaskan diri. Menjadikan meja kerja sebagai altar profesionalisme, memastikan setiap kebijakan dan strategi yang saya buat adalah legacy yang bermanfaat.
  4. Terakhir, Memberikan hak tubuh untuk istirahat dan hak hati untuk pulih. Karena tanpa kesehatan, warisan ini tidak akan dibangun dalam semalam, sehari demi sehari, sedikit demi sedikit. Rumah cerita saya mulai bertumbuh.

Terima kasih telah menemani saya melompat dari kenangan buku Tabanas kuning hingga ke sunrise di Magelang, demikian juga di tempat tempat lain.

Terima kasih telah mendengarkan dialog imajiner saya dengan Ibu, yang meskipun telah di surga, tetap menjadi inspirasi terbesar dalam setiap kata yang saya rakit.
Sebagai bekal untuk menapaki tahun-tahun ke depan, saya titipkan satu peribahasa Latin yang sangat dalam:
“Perfer et obdura; dolor hic tibi proderit olim.”
(Bertahanlah dan tetap teguh; rasa sakit/lelah ini suatu saat akan berguna bagimu).

oplus_131075

Januari telah usai, bonus lap telah tuntas, dan usia baru telah dimulai. Saya melangkah keluar dari jurnal ini dengan keyakinan bahwa di mana pun ada matahari terbit, di situ selalu ada cerita baru yang layak untuk diperjuangkan.

Selamat menjalani hidup yang baru, untuk saya, dan untuk Anda semua.
Salam hangat,
HWS