Di negeri ini, kata “pelarian” punya dua arti. Bagi kita para pelari trail amatiran dan pencari suaka dari keruwetan ibukota, pelarian adalah berlari di antara rimbunnya Sentul. Namun bagi sebagian pihak, pelarian tampaknya ditafsirkan sebagai ajang menutup akses tanah dan mengunci pagar rapat rapat.
Kabar tentang tertutupnya Tanjakan Abah Donny untuk aktivitas trail running bikin saya tersenyum kecut.

Sungguh sebuah komedi absurd di tengah situasi ekonomi yang sedang tidak lucu sama sekali.
Mari hitung matematika sederhana rakyat jelata yang cuma ingin menjaga otak tidak bergeser: modal bensin motor 30 ribu rupiah bolak balik Depok ke Sentul, ditambah 50 ribu rupiah buat jajan kopi hitam dan gorengan seboros borosnya. Cukup dengan modal tidak sampai seratus ribu, kita sudah bisa membeli kesehatan mental untuk menyambung hidup seminggu ke depan dan itu tidak dibiayai negara.

In this sad economy, tidak gila saja sudah prestasi yang sangat luar biasa. Apa yang bisa dihemat ya dihemat. Apa yang gratis dimanfaatkan. Apa yang belum berbayar ya digunakan sebaik baiknya.
Lalu datanglah korporasi pemilik lahan membawa gembok besarnya.
Ini fenomena klasik yang agak menggelitik. Ketika sebuah lintasan tadinya cuma sepetak semak yang tidak dilirik, lalu komunitas datang menyusurinya, membentuk ekosistem, menghidupkan warung warga lokal, bahkan secara swadaya membuat toilet dan tempat cuci tangan dari patungan kecil kecilan, tiba tiba ada yang merasa berkuasa penuh. Begitu ruang itu hidup dan bernyawa, langsung muncul rasa rakus untuk mengontrol atau memanfaatkan situasi.

Lucu memang peta prioritas hari ini. Negara dengan sangat dermawan mengobral izin tambang di mana mana dan menggelontorkan anggaran MBG yang berlimpah ruah. Tapi giliran ruang terbuka hijau buat rakyat berolahraga? Aksesnya langsung disikat dan digembok, siapa yang peduli gizi jiwa?

Saya kadang ragu dan bertanya tanya, seberapa tebal ego yang merasuk ke dalam sanubari pengusaha pengusaha ini? Apakah mentang mentang punya sertifikat tanah, lantas lupa bahwa pemiliknya juga bagian dari ekosistem sosial? Kenapa tidak ada dialog terlebih dahulu? Kenapa tidak duduk bersama membicarakan opsi? Kenapa refleks utamanya selalu main tutup?
Sepertinya ada yang sedang kurang sehat di papan atas sana. Kurang healing, kurang main ke alam, atau barangkali memang masih merasa kurang uang. Padahal kalau mau belajar sedikit tentang keramahan publik, lihatlah stasiun kereta api. Pihak stasiun tidak pernah melarang atau menutup akses bagi orang yang cuma numpang lewat. Bahkan kencing di stasiun itu gratis!
Jangan pernah meremehkan kekuatan komunal. Jalur tanah itu bernyawa karena jejak langkah kaki orang orang yang mencintainya. Dan percayalah wahai pemilik lahan, perusahaan Anda tidak akan mendadak bangkrut atau jatuh miskin hanya karena membiarkan telapak sepatu para pelari melintasi jengkal tanah Anda. Alam selalu punya cara sendiri untuk berterima kasih. Membuka akses bagi sesama adalah bentuk investasi berkah yang tidak akan pernah bisa Anda baca di dalam laporan keuangan anda.
Sebelum memasang papan larangan berikutnya, cobalah petinggi korporasi itu sesekali turun ke trek. Pakai sepatu running, seduh kopi hitam di warung lokal, dan rasakan sendiri kenapa tanah itu begitu berarti bagi jiwa jiwa yang butuh penghiburan.
