Judul ini adalah mesin waktu. Ia membawa ingatan melompat jauh ke belakang, ke era tatkala BlackBerry bertengger gagah di puncaknya. Kala itu, orang orang gemar menyematkan kalimat bergengsi di ujung email mereka: Powered by BlackBerry.
Sebuah stempel status sosial terselubung.
Saya yang waktu itu sama sekali bukan pengguna perangkat berkeyboard fisik tersebut, memilih membuat plesetan yang pas rimanya: Powered by Don’t Worry.

Saya bahkan tidak pernah masuk ke dalam grup chat kantor hanya karena tidak memegang gawai itu. Saya bersyukur juga tidak masuk, karena tampaknya sama seperti sekarang, bunyi bunyi notifikasi seringkali menjadi gangguan ketimbang bunyi meneduhkan.
Saya menyadari seperti pepatah latin, Barba non facit philosophum, yang berarti jenggot tidak membuat seseorang menjadi filsuf atau juga makna diperluas, menjadi lebih bijaksana. Saya meyakini bahwa simbol luar tidak serta merta menentukan kelas maupun kualitas diri seseorang. Tanpa ponsel canggih untuk bergaya saat itu, plesetan pun cukuplah untuk menghibur diri.
Namun masa itu berlalu sudah. Dunia berganti rupa, teknologi lama tersisih, teknologi baru datang, namun ternyata urusan rasa khawatir ternyata tetap bertahan di tempatnya. Tak mau terganti.
Menuliskan kata Don’t Worry di baris penutup email sungguh jauh lebih mudah daripada mempraktikkannya dalam realitas. Terlalu banyak ketakutan dan kecemasan yang berembus di sekeliling kita. Siapapun tak bebas dari rasa kuatir. Bahwa sepintar apapun kita merangkai kata untuk menenangkan hati, kita kerap gagal menyembuhkan rasa cemas di dalam diri sendiri ketika gelombang ketakutan itu datang.
Tiba tiba saja, kenangan lama itu menyeruak kembali.
Didorong rasa penasaran, saya membuka arsip obrolan di ponsel dan mengetikkan satu kata kunci: kuatir.
Setelah mengular jauh melintasi waktu, muncul satu percakapan yang nyaris terlupakan: sebuah jejak obrolan di Wisma Atlet pada Juli 2021. Di sana tercatat perbincangan dengan Mbak Meinar, saat itu saya mengajaknya mengobrol di ruang tunggu RS Wisma Atlet. Kami menunggu kepastian kamar. Saat itu, saya berharap mendapatkan kamar agar sekamar dengan abang saya yang terlebih dahulu di sana. Di ruang tunggu itu, kami bertukaran nomor Whatsapp. Dalam chat yang sya buka arsipnya, Ia menceritakan gambaran pilu di sekitarnya, tentang seorang pemuda yang dengan setia menjaga ibunya saat angka saturasi oksigen sang ibu merosot ke angka 60.
Saturasi yang merosot tajam, napas yang tersengal sengal, demam tinggi yang enggan reda, serta raungan sirine ambulans yang bersahut sahutan sepanjang hari. Itulah titik puncak rasa khawatir terbesar sepanjang hidup saya.
Masa masa kelam itu secara nyata menggambarkan pepatah Mors certa, hora incerta, kematian itu pasti, namun waktunya tidak ada yang tahu. Maknanya menegaskan betapa rapuhnya keberadaan manusia ketika bayang bayang maut berdiri persis di depan mata tanpa bisa diprediksi.
Ah, jika boleh memohon, cukuplah badai COVID itu menjadi bagian dari sejarah masa lalu. Jangan pernah ada lagi peristiwa serupa yang terulang. Sangat mustahil untuk tidak khawatir pada detik detik mencekam tersebut.
Kini, setelah lima tahun berlalu, Tuhan masih mengaruniakan panjang umur. Masa jeda ini menjadi ruang yang sangat berharga untuk mengingat kembali betapa berlimpahnya kebaikanNya.
Saya mungkin pernah merasa keren mengusung motto Powered by Don’t Worry sebagai perisai diri dari riak dunia. Namun pada akhirnya, saya menyadari bahwa yang benar benar mampu menopang hidup melewati ujian terberat bukanlah kebijaksanaan stoik yang menepis cemas, melainkan keberanian untuk melepaskan kendali dan berserah sepenuhnya.
Bukan lagi Powered by Don’t Worry, melainkan Powered by Surrender.
Praise The Lord.