Gaudeamus igitur, juvenes dum sumus.
“Karenanya mari kita bersukacita selagi kita muda.”
Kidung klasik yang kerap berkumandang di ruang akademis ini sebenarnya bukan sekadar lagu perayaan kelulusan seorang mahasiswa atau mahasiswi. Lirik gaudeamus adalah sebuah seruan filosofis untuk merayakan kehidupan di tengah segala kefanaan, keletihan, dan kerumitannya.
Namun sebuah pertanyaan reflektif muncul: bagaimana mungkin kita bisa benar benar bersukacita jika batin kita masih terjebak dalam lingkaran kekecewaan akibat menaruh ekspektasi dan usaha yang keliru pada orang lain?
Di sinilah esensi Gaudeamus menemukan titik temunya dengan seni mengasihi diri sendiri. Ketika muncul kejenuhan dan pertanyaan tentang untuk apa semua usaha dikerahkan, spirit Gaudeamus mengajak kita untuk memutar arah energi tersebut. Mengarahkan usaha terbaik ke dalam diri sendiri bukan sebuah tindakan egois, melainkan sebuah prasyarat mutlak. Kita tidak akan pernah bisa membagikan sukacita yang tulus kepada sesama jika cawan batin kita sendiri kosong dan gersang.
Mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri bukanlah sebuah kompetisi tentang siapa yang lebih dulu atau siapa yang mendapat porsi lebih banyak. Ini adalah soal kesiapan. Kita baru bisa memberikan dampak dan kasih yang murni kepada orang lain setelah kita benar benar selesai dengan urusan mengasihi diri kita sendiri. Tanpa itu, pengorbanan yang kita lakukan hanya akan menjadi topeng keluh kesah. Kita akan mudah merasa menjadi pihak yang paling habis tenaga, paling tulus, lalu berakhir dengan mentalitas sebagai korban yang menuntut hitung hitungan atas setiap kebaikan.
Spirit bersukacita akan hilang, digantikan oleh kepahitan.
Oleh karena itu, tanda bahwa kita sedang menghidupkan semangat Gaudeamus adalah ketika kita mulai berinvestasi pada diri sendiri. Sukacita itu mewujud nyata dalam tindakan menata diri, menjaga kesehatan, tampil lebih baik, hingga langkah kaki yang mantap saat mendaki gunung untuk menikmati keindahan ciptaan. Proses ini adalah bentuk pelukan hangat pada diri sendiri, sebuah ruang aman untuk memulihkan kerapuhan sebelum kita kembali melangkah ke dunia luar.
Proses mendewasakan diri ini memerlukan ketekunan dan tidak dapat dilakukan secara tergesa gesa.
Pada akhirnya, kemampuan kita untuk menghargai dan membawa sukacita bagi orang lain merupakan cerminan langsung dari bagaimana kita memperlakukan diri kita sendiri. Seseorang yang gagal menghargai sesamanya sebenarnya sedang menunjukkan bahwa ia belum mampu menghargai dirinya sendiri dengan benar.
Di sinilah makna terdalam dari Gaudeamus menemukan sejatinya nilai. Menjadi muda dalam kidung tersebut bukanlah perihal angka atau usia biologis, melainkan tentang jiwa yang senantiasa memilih untuk bersukacita, apa pun keadaannya.
Ketika kita telah selesai dengan diri sendiri, kita memiliki kekuatan penuh untuk terus menyinarkan harapan dan senantiasa bertekun dalam tugas serta panggilan hidup kita dengan hati yang utuh, tangguh, dan penuh.
Selamat bersukacita.



