Burung Berkicau: Buku Lama yang Tetap Relevan untuk Zaman yang Terus Berubah


Jumat lalu saya mendapat kesempatan membawakan book sharing di kantor. Buku yang saya pilih bukan buku yang baru terbit, bukan pula buku yang sedang menjadi perbincangan hangat. Justru sebaliknya. Buku itu telah saya baca sekitar tahun 2010, lebih dari 15 tahun yang lalu. Buku tersebut adalah Burung Berkicau karya Anthony de Mello, SJ, versi terjemahan dari The Song of the Bird yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1982.

Menariknya, ketika membuka kembali halaman demi halaman buku ini untuk mempersiapkan sesi book sharing, saya menemukan bahwa pesan-pesan yang disampaikan Anthony de Mello ternyata tidak kehilangan relevansinya. Bahkan, di tengah dunia yang semakin cepat, penuh distraksi, dan dipenuhi tekanan untuk selalu tampil berhasil, pesan-pesan dalam buku ini terasa semakin penting.

Burung Berkicau bukanlah buku motivasi dalam pengertian umum. Buku ini tidak menawarkan rumus sukses, tidak mengajarkan cara menjadi kaya, dan tidak pula memberikan langkah-langkah praktis mencapai target hidup. Sebaliknya, Anthony de Mello mengajak pembaca berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri. Melalui puluhan cerita pendek yang berasal dari beragam tradisi, mulai dari Zen, Sufi, Buddha, Hindu, hingga Kristen, ia mengajak kita melihat hidup dengan cara yang berbeda.

Buku ini mengajarkan bahwa banyak persoalan yang kita hadapi bukan semata-mata berasal dari dunia luar, melainkan dari cara kita memandang dunia.
Karena itu, inti buku ini bagi saya dapat dirangkum dalam satu kalimat: Perubahan sejati dimulai dari kesadaran diri.

Salah satu kisah yang paling membekas bagi saya adalah cerita tentang seorang sufi yang sepanjang hidupnya terus mengubah isi doanya.
Saat muda ia berdoa agar diberi kekuatan untuk mengubah dunia.
Ketika dewasa ia berharap dapat mengubah keluarga dan orang-orang di sekitarnya.
Namun menjelang akhir hayatnya ia menyadari bahwa doa yang paling penting sebenarnya adalah:
“Tuhan, berilah aku rahmat untuk mengubah diriku sendiri.”

Pesan ini sangat sederhana, tetapi juga sangat mendalam. Sering kali kita menghabiskan energi untuk mengubah organisasi, sistem, budaya kerja, atau bahkan orang lain. Namun yang paling sulit justru adalah mengubah diri sendiri.

Di era media sosial, kecerdasan buatan, dan banjir informasi seperti saat ini, kita memiliki akses terhadap pengetahuan yang jauh lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya. Namun pengetahuan tidak selalu berbanding lurus dengan kebijaksanaan. Anthony de Mello mengingatkan bahwa yang terpenting bukanlah seberapa banyak yang kita ketahui, melainkan seberapa dalam kita memahami diri sendiri.

Salah satu kutipannya yang terkenal berbunyi:
“We see people and things not as they are, but as we are.” Kita sering merasa sedang menilai dunia secara objektif, padahal yang kita lihat sering kali hanyalah refleksi dari pikiran, pengalaman, dan prasangka kita sendiri.

Beberapa waktu lalu saya kembali membaca review yang pernah saya tulis tentang buku ini di blog buku pribadi.
Dari review tersebut, saya mencoba merangkum gagasan-gagasan utama Anthony de Mello ke dalam bentuk infografis agar lebih mudah dibagikan dan dinikmati oleh pembaca masa kini.
Karena pada akhirnya, seperti yang diingatkan de Mello dalam pengantar bukunya: “Setiap cerita di sini adalah mengenai Anda, bukan orang lain.”

Dan mungkin itulah alasan mengapa Burung Berkicau tetap terasa hidup hingga hari ini.

Jangan terlalu sibuk mengubah dunia. Mulailah dengan menyadari, memahami, dan mengubah diri sendiri.

Helvry, 2010 – 2026