Pada 27 Agustus 1883, Krakatau meledak dan mengubah dunia. Kini, 143 tahun, Gunung Anak Krakatau kembali mengingatkan kita bahwa aktivitas bumi di Selat Sunda belum pernah benar-benar selesai.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau dilaporkan meningkat sejak Juli 2026 dan mencapai intensitas tertinggi pada 5 September 2026. Erupsi berulang membawa abu vulkanik ke atmosfer dan sebarannya dilaporkan mencapai Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Lampung, hingga Bengkulu. Hujan abu bahkan dilaporkan di sejumlah kawasan Jabodetabek. Arah dan jangkauan abu dapat berubah dalam waktu singkat, bergantung pada tinggi kolom erupsi serta arah dan kecepatan angin.
Laporan tersebut membawa ingatan saya kembali kepada sebuah buku yang pernah saya ulas pada 2011:
Krakatoa: Saat Dunia Meledak: 27 Agustus 1883 oleh Simon Winchester

Buku ini bukan semata-mata cerita mengenai sebuah gunung yang meletus. Simon Winchester membawa pembaca menelusuri sejarah Nusantara, perdagangan kolonial, biogeografi, lempeng tektonik, perkembangan telegraf, hingga kehidupan masyarakat sebelum dan setelah bencana.
Melalui buku tersebut, kita memahami bahwa letusan Krakatau tahun 1883 bukan sebuah peristiwa yang berdiri sendiri. Letusan itu merupakan titik temu antara alam, manusia, ilmu pengetahuan, teknologi komunikasi, kekuasaan, dan peradaban.
Anak Krakatau dan Ingatan tentang 1883
Gunung yang aktif saat ini bukan tubuh Krakatau yang sama seperti sebelum letusan besar 1883. Setelah sebagian besar kompleks Krakatau runtuh dan membentuk kaldera, aktivitas vulkanik bawah laut melahirkan gunung baru yang kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau.
Karena mempunyai hubungan geologis dan historis dengan Krakatau 1883, setiap peningkatan aktivitas Anak Krakatau mudah menimbulkan kekhawatiran. Namun, penting untuk tidak langsung menyimpulkan bahwa erupsi yang terjadi sekarang akan berkembang menjadi peristiwa sebesar letusan 1883.
Badan Geologi menjelaskan bahwa erupsi berulang saat ini menunjukkan masih berlangsungnya suplai magma dan gas di dalam tubuh gunung. Meskipun demikian, frekuensi erupsi yang tinggi tidak otomatis berarti akan terjadi erupsi yang lebih besar. Penilaian aktivitas gunung api harus dilakukan berdasarkan berbagai parameter pemantauan, bukan hanya jumlah letusan atau tinggi kolom abu. (https://regional.kompas.com/read/2026/09/06/110706478/aktivitas-gunung-anak-krakatau-meningkat-badan-geologi-ungkap-penyebab)
(https://nasional.kompas.com/read/2026/09/06/12540541/bmkg-aktivitas-gunung-anak-krakatau-mulai-meluruh-frekuensi-erupsi-menurun)
Pada 6 September 2026, BMKG juga melaporkan bahwa aktivitas Anak Krakatau mulai meluruh dibandingkan kondisi pada 4 September. Frekuensi erupsinya menurun, tetapi aktivitas menerus masih mungkin terjadi. Erupsi yang diamati disebut memiliki karakter strombolian, berupa letusan-letusan relatif kecil yang berulang akibat magma cair dengan tekanan gas sedang. Status Anak Krakatau dilaporkan berada pada Level III atau Siaga. [4](https://nasional.kompas.com/read/2026/09/06/12540541/bmkg-aktivitas-gunung-anak-krakatau-mulai-meluruh-frekuensi-erupsi-menurun)
[5](https://regional.kompas.com/read/2026/08/23/062000578/gunung-anak-krakatau-erupsi-9-kali-pvmbg–aktivitas-masih-fluktuatif)
Artinya, kita perlu waspada tanpa panik, serta mempercayakan penilaian bahaya kepada lembaga resmi yang melakukan pemantauan secara terus-menerus.
Ketika Abu Vulkanik Mencapai Jabodetabek
Bagi warga yang tinggal jauh dari Selat Sunda, erupsi gunung api mungkin terasa sebagai kejadian yang tidak berhubungan langsung dengan kehidupan sehari-hari. Namun, penyebaran abu Anak Krakatau hingga Jabodetabek menunjukkan bahwa dampak suatu erupsi tidak berhenti di sekitar kawah.
Analisis pemantauan pada 6 September 2026 menunjukkan adanya klaster abu yang bergerak menuju DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan perairan sekitarnya. Abu vulkanik juga dilaporkan menimbulkan keluhan warga dan memengaruhi aktivitas penerbangan. [1](https://www.kompas.com/tren/read/2026/09/06/064028465/pvmbg-ungkap-2-klaster-sebaran-abu-anak-krakatau-mengarah-ke-jakarta-hingga)
[2](https://nasional.kompas.com/read/2026/09/06/13412591/abu-vulkanik-erupsi-gunung-anak-krakatau-tersebar-ke-5-provinsi)
Abu vulkanik bukan debu rumah tangga biasa. Partikel halusnya dapat mengiritasi mata, kulit, hidung, tenggorokan, dan saluran pernapasan. Orang dengan asma atau gangguan pernapasan kronis perlu memberikan perhatian lebih terhadap paparan abu. Aktivitas fisik berat di luar ruangan juga dapat membuat lebih banyak partikel terhirup. [6](https://www.kompas.com/tren/read/2026/09/06/101500965/jangan-sembarangan-bersihkan-abu-vulkanik-anak-krakatau-dari-tubuh-ini)
Kondisi tersebut merupakan contoh nyata bahwa mitigasi bencana gunung api tidak hanya berbicara tentang evakuasi masyarakat di sekitar gunung. Mitigasi juga mencakup perlindungan kesehatan, pengelolaan transportasi udara, penyampaian informasi publik, pemantauan meteorologi, dan kesiapan wilayah yang berada di jalur sebaran abu.
Buku yang Membantu Memahami Kedahsyatan 1883
Dalam bukunya, Simon Winchester tidak langsung membawa pembaca ke pagi ketika Krakatau meledak. Ia terlebih dahulu mengajak pembaca memahami bagaimana Nusantara terbentuk, bagaimana bangsa Eropa datang melalui jalur perdagangan, bagaimana Batavia berkembang, dan bagaimana para ilmuwan sedikit demi sedikit memahami bumi.
Nama Alfred Russel Wallace menjadi penting karena pengamatannya terhadap perbedaan fauna di Bali dan Lombok memperlihatkan hubungan antara makhluk hidup dan sejarah geologi. Alfred Wegener mengemukakan gagasan pergeseran benua. Para ilmuwan sesudahnya mengembangkan pemahaman tentang lempeng tektonik dan subduksi.
Rangkaian sejarah ilmu pengetahuan tersebut membantu pembaca memahami bahwa Krakatau berada di kawasan yang sangat aktif. Lempeng samudra Indo-Australia menunjam ke bawah Lempeng Eurasia atau Sunda. Proses yang berlangsung jauh di bawah permukaan itu menghasilkan magma dan membentuk rangkaian gunung api di kawasan Indonesia.
Buku ini menunjukkan bahwa sebuah bencana tidak dapat dipahami hanya dari gambar gunung yang mengeluarkan asap. Kita perlu memahami proses yang berlangsung di bawah bumi, kondisi masyarakat di sekitarnya, teknologi yang tersedia, dan bagaimana manusia merespons tanda-tanda bahaya.
Hari Ketika Dunia Meledak
Erupsi Krakatau pada 1883 tidak datang tanpa pendahuluan. Aktivitas vulkanik telah berlangsung sejak Mei dan semakin sering menjelang akhir Agustus. Pada 27 Agustus 1883, rangkaian ledakan besar menghancurkan sebagian kompleks Krakatau dan memicu tsunami dahsyat.
Sekitar 36.000 orang meninggal, sebagian besar akibat tsunami yang menghantam pesisir Selat Sunda. Suara ledakannya terdengar ribuan kilometer jauhnya, termasuk di Australia dan Pulau Rodrigues. Abu serta aerosol vulkanik tersebar di atmosfer, menghasilkan fenomena langit merah, kuning, dan lembayung di berbagai tempat.
Dunia juga menerima kabar mengenai Krakatau melalui jaringan telegraf bawah laut. Karena itu, Krakatau sering dikenang bukan hanya sebagai bencana berskala global, tetapi juga sebagai salah satu peristiwa besar pada awal era informasi global.
Kapal-kapal yang berada di Selat Sunda memberikan kesaksian mengenai kegelapan, hujan lumpur, pasir, dan abu. Dari catatan seperti itulah pembaca dapat membayangkan bahwa peristiwa tersebut bukan sekadar angka dalam buku sejarah. Di tengah ledakan dan gelombang, terdapat manusia yang berusaha bertahan hidup.

Dampak yang Tidak Hanya Bersifat Geologis
Salah satu kekuatan buku Winchester adalah keberhasilannya memperlihatkan bahwa dampak Krakatau tidak berhenti ketika suara ledakan menghilang.
Bencana tersebut menimbulkan kehilangan keluarga, permukiman, mata pencaharian, dan rasa aman. Di Banten, dampaknya bertemu dengan kemiskinan, tekanan kolonial, ketidakadilan, serta ketidakpercayaan kepada pemerintah Hindia Belanda.
Sebagian masyarakat menafsirkan letusan melalui keyakinan sosial dan keagamaan yang berkembang pada masa itu. Dalam situasi masyarakat yang telah lama berada di bawah tekanan, bencana ikut menjadi latar bagi tumbuhnya keresahan dan perlawanan terhadap kekuasaan kolonial.
Bencana alam memang berasal dari proses alam. Namun, besar kecilnya penderitaan manusia juga ditentukan oleh kondisi sosial, kepadatan penduduk, kualitas bangunan, akses informasi, kesiapan evakuasi, kemiskinan, dan kepercayaan kepada pemerintah.
Pelajaran tersebut terasa semakin relevan sekarang, ketika pesisir Selat Sunda telah menjadi wilayah dengan penduduk, industri, pelabuhan, jalan, kawasan wisata, dan berbagai infrastruktur penting.
Pada 1883, telegraf membuat kabar Krakatau dapat menyebar ke berbagai benua dalam waktu yang pada zamannya dianggap sangat cepat.
Sekarang kita memiliki satelit, sensor seismik, kamera pemantauan, jaringan seluler, media sosial, sirene, sistem informasi kebencanaan, dan komunikasi hampir seketika. Sebaran abu bahkan dapat dipantau menggunakan citra satelit Himawari-9, informasi PVMBG, MAGMA Indonesia, serta koordinasi dengan VAAC Darwin.
Akan tetapi, kemajuan teknologi tidak otomatis membuat masyarakat selamat.
Informasi hanya berguna jika:
1. disampaikan secara cepat dan jelas;
2. berasal dari lembaga yang dapat dipercaya;
3. diterima oleh masyarakat yang membutuhkan;
4. dipahami tanpa menimbulkan kepanikan;
5. diterjemahkan menjadi tindakan yang tepat; dan
6. didukung koordinasi antarlembaga.
Pada masa media sosial, tantangannya bukan lagi sekadar kekurangan informasi. Kita juga menghadapi informasi yang terlalu banyak, bercampur antara laporan resmi, kesaksian warga, video lama, spekulasi, dan kabar yang belum terverifikasi.
Karena itu, ketika aktivitas gunung meningkat, masyarakat perlu memeriksa waktu publikasi, lokasi kejadian, sumber video, status resmi gunung, arah sebaran abu, dan rekomendasi terbaru dari lembaga berwenang.
Mitigasi Dimulai Sebelum Bencana
Kita tidak dapat menghentikan pergerakan lempeng, suplai magma, atau erupsi gunung api. Namun, kita dapat mengurangi risiko dengan memperbaiki kesiapsiagaan.
Masyarakat perlu mengenali zona bahaya, jalur evakuasi, tempat evakuasi sementara, dan cara mencapai lokasi yang lebih tinggi. Keluarga perlu memiliki rencana komunikasi jika anggota keluarga sedang berada di sekolah, tempat kerja, pasar, atau lokasi berbeda ketika keadaan darurat terjadi.
Masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki juga harus mematuhi larangan memasuki radius bahaya yang ditetapkan pemerintah. Dalam laporan terbaru, Badan Geologi mengimbau masyarakat agar tidak mendekati atau beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat erupsi.
Jika abu vulkanik terdeteksi di suatu wilayah, masyarakat sebaiknya mengikuti arahan pemerintah setempat, membatasi kegiatan luar ruangan bila diperlukan, menggunakan perlindungan pernapasan yang sesuai, dan melindungi mata. Abu yang menempel pada mata atau kulit tidak boleh digosok secara sembarangan karena partikelnya dapat menyebabkan iritasi. [6](https://www.kompas.com/tren/read/2026/09/06/101500965/jangan-sembarangan-bersihkan-abu-vulkanik-anak-krakatau-dari-tubuh-ini)
Arah sebaran abu dapat berubah mengikuti kondisi angin. Karena itu, peta sebaran yang beredar pada pagi hari belum tentu menggambarkan kondisi pada sore atau malam hari. Informasi perlu diperbarui berdasarkan data meteorologi dan vulkanologi terkini.
Mitigasi membutuhkan sistem peringatan dini yang berfungsi, jalur evakuasi yang tidak terhalang, simulasi berkala, transportasi bagi kelompok rentan, komunikasi lintas wilayah, dan pembagian kewenangan yang jelas.
Pengalaman masa lalu memperlihatkan bahwa koordinasi sering menjadi titik lemah penanggulangan bencana. Teknologi yang canggih tidak banyak membantu jika informasi terlambat, masyarakat tidak mengetahui tindakan yang harus dilakukan, atau lembaga-lembaga terkait bekerja sendiri-sendiri.
Membaca Sejarah untuk Menyiapkan Masa Depan
Buku Simon Winchester membantu kita memahami bahwa Krakatau 1883 bukan sekadar cerita mengenai ledakan yang sangat keras. Krakatau adalah kisah tentang rapuhnya peradaban ketika berhadapan dengan kekuatan alam.
Lebih dari 143 tahun telah berlalu. Dunia telah berubah, penduduk semakin padat, teknologi semakin maju, dan informasi bergerak jauh lebih cepat. Akan tetapi, Anak Krakatau masih tumbuh dan aktif di Selat Sunda.
Karena itu, pertanyaan yang ditinggalkan buku ini tetap relevan:
> Jika suatu hari terjadi bencana besar di Selat Sunda, sudah siapkah pengetahuan kita berubah menjadi tindakan?
Mengingat Krakatau bukan berarti hidup dalam ketakutan. Mengingat Krakatau berarti menghormati korban masa lalu dengan membangun masyarakat yang lebih siap pada masa kini.
Seperti dikatakan Will Durant:
“Peradaban ada karena persetujuan geologis, dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.”
Alam memiliki siklusnya sendiri. Tugas manusia bukan menantang atau meremehkannya, melainkan mempelajari, memantau, mempersiapkan diri, dan menjaga sesama.
Tetap waspada, ikuti informasi resmi, serta tetap selamat dan aman.
@hws06092026
