Baca Selengkapnya di Caption

Saya mengikuti media sosial. Bukan karena saya menganggapnya sebagai tempat suci pertukaran gagasan, tentu saja. Namun, saya juga tidak percaya bahwa media sosial semata-mata hanya panggung flexing, tempat orang memamerkan kehidupan sosial yang sering kali lebih tertata daripada kehidupan sebenarnya.

Di media sosial, yang semu tidak lagi sekadar menyerupai kenyataan. Ia perlahan-lahan menjadi kenyataan itu sendiri.

Mungkin inilah yang disebut simulacra: ketika tiruan tidak lagi membutuhkan yang asli. Kita tidak perlu benar-benar bahagia. Kita hanya perlu mengunggah bukti bahwa kita tampak bahagia. Tidak perlu benar-benar produktif. Cukup foto laptop, secangkir kopi, dan buku yang dibuka pada halaman yang tidak pernah dibaca semuanya.

Sesekali, di tengah festival kebahagiaan sintetis itu, muncul konten yang konon edukatif. Ada tips memasak, cara berlari yang benar, tutorial memperbaiki keran, metode mengatur keuangan, sampai cara menjalani hidup yang tenang dari seseorang yang sepanjang videonya berteriak-teriak.

Semua tampak baik. Peradaban seolah sedang bergerak maju.

Namun, ada dua kebiasaan yang membuat saya eneg.

Pertama: Ilmu Pengetahuan Telah Dipindahkan ke Caption

Seorang pembuat konten tampil dalam video dengan wajah serius. Ia memegang benda tertentu, menunjuk bagian tertentu, lalu mengatakan bahwa ada satu detail penting yang harus kita ketahui.

Saya pun memperhatikan.

Saya menunggu.

Saya menyiapkan diri menerima pencerahan.

Lalu, pada akhir video, keluarlah kalimat sakral itu:

 “Untuk penjelasan lengkapnya, baca caption.”

Tentu saja.

Video berdurasi satu menit itu ternyata bukan tempat untuk menjelaskan sesuatu. Video hanya umpan agar saya membuka caption. Ilmu pengetahuan kini disusun seperti permainan mencari harta karun. Jawabannya tidak boleh diletakkan di tempat kita mencarinya. Ia harus disembunyikan di bawah video, di antara tagar, promosi produk, kode diskon, dan ucapan terima kasih kepada merek yang “sudah mendukung konten ini”.

Kita datang untuk belajar cara memasak nasi goreng. Kita pulang dengan membaca esai seribu kata, tiga belas tagar, dan tautan pembelian produk skincare.

Mungkin begitulah pendidikan masa depan. Guru masuk kelas, menyalakan proyektor, lalu berkata:

 “Materi lengkapnya ada di caption.”

Setelah itu, beliau pulang.

Kedua: Kebenaran Ditebus dengan Komentar

Ada pula video berjudul:

Lima Tempat Paling Menarik yang Harus Dikunjungi di Kota Bandung

Nomor satu disebutkan.

Nomor dua dibahas.

Nomor tiga diterangkan.

Nomor empat dipresentasikan dengan penuh semangat.

Lalu tibalah nomor lima, puncak dari seluruh perjalanan intelektual tersebut.

Namun, alih-alih memberikan jawaban, pembuat konten berkata:

“Kalau menurut kalian, nomor lima apa? Tulis di kolom komentar!”

Luar biasa.

Pembuat daftar itu sendiri ternyata tidak mengetahui isi daftarnya.

Bayangkan seorang dosen memberikan empat jawaban dalam ujian, lalu meminta mahasiswa menebak jawaban kelima agar engagement kelas meningkat. Bayangkan buku sejarah berhenti pada bab terakhir dengan kalimat:

“Menurut pembaca, bagaimana Orde Baru ini berakhir? Tulis jawaban kalian di bawah.”

Atau dokter yang setelah menjelaskan empat gejala penyakit berkata:

“Untuk gejala kelima, coba tebak di kolom komentar. Nanti saya pin jawaban yang paling menarik.”

Kebenaran nomor lima rupanya bukan sesuatu yang perlu diketahui. Ia hanya perlu menghasilkan interaksi.

Jawaban bisa menunggu. Algoritma tidak bisa.

Kita Bukan Lagi Membaca, Melainkan Memberi Makan Algoritma

Saya tidak tahu persis fenomena ini harus diletakkan di rak filsafat yang mana. Mungkin ia bagian dari simulacra. Mungkin juga bentuk baru ekonomi perhatian. Mungkin kita perlu istilah yang lebih sederhana: keterlibatan lebih unggul dari akal sehat.

Semua kegiatan kita dipetakan.

Berapa detik kita berhenti.

Video mana yang kita ulang.

Caption mana yang kita buka.

Komentar mana yang membuat kita marah.

Wajah siapa yang paling lama kita pandangi.

Kemudian algoritma menyimpulkan bahwa itulah yang kita inginkan.

Padahal, boleh jadi kita berhenti bukan karena tertarik, melainkan karena bingung. Kita membuka caption bukan karena menyukai metode penyampaiannya, tetapi karena informasi sengaja ditahan. Kita masuk ke kolom komentar bukan karena ingin berdiskusi, tetapi karena nomor lima diculik dan disandera di sana.

Namun, bagi mesin, rasa penasaran, kejengkelan, kebingungan, dan ketertarikan adalah hal yang sama. Semuanya dihitung sebagai engagement.

Mesin tidak peduli apakah kita tercerahkan atau tersiksa. Yang penting: kita masih disana.

Pola yang Sama

Ini yang terasa berbahaya.

Setelah perilaku kita dipetakan, keinginan kita mulai dibentuk. Linimasa kemudian diisi dengan hal-hal yang dianggap sesuai dengan diri kita. Video yang sama. Pendapat yang serupa. Struktur yang identik. Musik latar yang itu-itu lagi.

“Lihat detailnya di caption.”

“Tulis jawaban kalian di komentar.”

“Nomor empat bikin kaget.”

“Jangan lupa simpan video ini.”

Sama polanya.

Sama polanya!!

Seolah-olah seluruh kreativitas manusia akhirnya mencapai bentuk tertingginya dalam lima kalimat ajakan bertindak.

Padahal, bagaimana mungkin kenyataan selalu memiliki pola yang sama?

Hidup seharusnya penuh anomali, kekacauan, kejutan, kontradiksi, dan hal-hal yang tidak sesuai dengan preferensi kita. Namun, algoritma menyodorkan dunia yang telah dirapikan agar cocok dengan kebiasaan kita. Ia memberikan cermin, lalu meyakinkan kita bahwa cermin itu adalah jendela.

Akibatnya, pertambahan pengetahuan kita mungkin sangat kecil. Kita merasa memperoleh banyak informasi karena menonton puluhan video setiap hari. Padahal, yang kita konsumsi hanyalah gagasan serupa dalam kemasan berbeda.

Kita tidak memperluas cakrawala. Kita hanya menggulir halaman.

Kita tidak menemukan dunia baru. Kita hanya membaca caption dan menebak jawaban di kolom komentar.

Dan siapa yang paling diuntungkan dari semua ini?

Tentu saja bukan kita.

Pemilik platform mendapatkan perhatian. Pembuat konten mendapatkan interaksi. Pengiklan mendapatkan data. Sementara kita mendapatkan kesempatan istimewa untuk menebak nomor lima.

Entahlah.

Mungkin saya terlalu sinis. Mungkin saya hanya orang tua dalam tubuh pengguna aktif media sosial. Mungkin saya sedang marah kepada sebuah sistem yang diam-diam tetap saya layani setiap hari.

Sebab setelah menulis seluruh keluhan ini, mungkin saya tetap akan membuka media sosial.

Saya akan menemukan sebuah video edukatif.

Saya akan menontonnya sampai selesai.

Lalu pembuatnya akan berkata: “Penjelasan lengkapnya ada di caption.”

Dan dengan kesadaran filosofis yang utuh, saya pun akan membuka caption tersebut.

Karena saya korban algoritma.

Namun, seperti semua korban yang rajin memberi like, saya juga pelanggan setianya.

Selamat Hari Literasi

14 September 2026