Menakar Kerapuhan Cinta Lewat Lensa Efesus 2

Seorang rekan bertanya, benar kah cinta dapat membuat manusia rapuh? Ini diberikan dalam konteks khotbah efesus 2:1-10.

Jika dibawa dalam  teks Efesus 2:1-10, Maka kita justru diajak untuk melihat batas pemisah yang tegas antara apa yang rapuh dan apa yang kekal. Mari kita periksa:

Pertama, perihal kasih Karunia vs Usaha Manusia. Secara teologis, Efesus 2:1-10 adalah proklamasi tentang Sola Gratia (hanya karena anugerah). Teks ini menegaskan bahwa keselamatan adalah pemberian cuma-cuma dari Allah, bukan hasil dari pencapaian atau perbuatan baik manusia. Kedua, sebelum menerima anugerah, manusia digambarkan “mati karena pelanggaran-pelanggaran” (ayat 1). Bagaiamana mungkin yang mati tentu  bisa menyelamatkan dirinya sendiri? apalagi membangun sebuah fondasi hidup yang kekal? Ketiga, pemulihan terjadi karena inisiatif Allah yang kaya dengan rahmat serta didorong oleh kasih-Nya yang besar (ayat 4). Dari sini kita paham bahwa dasar iman Kristen bukanlah tentang seberapa kuat manusia bisa mencintai Tuhan atau sesamanya, melainkan seberapa dalamnya Tuhan telah mengasihi manusia yang rapuh ini.

Dalam penggunaan sehari-hari, kata “cinta” sering kali merujuk pada letupan emosi, ketertarikan, dan pemenuhan kebutuhan ego. Dalam bahasa Yunani, ini bisa mendekati Eros (cinta romantis) atau Philia (kasih persahabatan). Sifatnya bersyarat, fluktuatif, dan bergantung pada situasi. Cinta jenis ini membuat manusia rapuh karena bersandar pada perasaan yang bisa berubah kapan saja.

Kata yang digunakan dalam Efesus 2:4 adalah Agape. Ini adalah kasih yang bersumber dari keputusan kehendak, bukan sekadar dorongan perasaan. Agape adalah kasih yang berkorban, tidak menuntut balas, dan setia pada komitmen.

Mengapa cinta Seperti Eros Dan Philia sering kali mengalami penyempitan makna, terutama di era media sosial? Karena ketika cinta diukur dari kurasi visual di akun media sosial, yang terbangun adalah ilusi, bukan kedalaman relasi. Bagaimana mungkin sebuah komitmen jangka panjang dibangun hanya dari apa yang tampak di layar?
Kemudian ketika badai realita datang (konflik, kekecewaan, watak asli yang menyebalkan), cinta yang hanya bermodal emosi spontan akan langsung retak. Manusia menjadi rapuh karena mereka menggantungkan kebahagiaan pada sesuatu yang tidak kuat.

Pertanyaan selanjutnya, apa yang membuat kuat? Jawabannya ada pada transformasi dari Cinta menjadi Kasih. Sesuatu akan menjadi kuat bukan karena usaha manusia untuk memperkuatnya, melainkan karena ia diletakkan di atas fondasi yang tepat. Efesus 2:10 menyebutkan bahwa kita adalah “buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik.”

Pekerjaan baik, termasuk tindakan mencintai sesama, adalah dampak dari fakta bahwa kita telah dipulihkan oleh Kasih Allah (Agape). Ketika kita mengasihi orang lain dengan bersumber dari kasih Allah, kita tidak lagi menjadi rapuh. Mengapa? Karena ketika manusia mengecewakan kita, tangki emosi dan kepastian hidup kita sudah penuh di dalam Tuhan.

Pernyataan “cinta membuat manusia rapuh” ada benarnya jika kita berbicara tentang cinta yang ego-sentris (emosi spontan, ekspektasi sepihak, dan ilusi visual). Cinta jenis ini memang tidak bisa diandalkan untuk seterusnya. Namun, cinta tidak akan membuat rapuh jika ia telah naik kelas dan berakar pada Kasih (Agape) sebagaimana yang digambarkan dalam Efesus 2. Cinta manusiawi itu rapuh, tetapi Kasih Ilahi adalah sauh yang menjangkar jiwa manusia.

Selamat mencinta dalam kasih.