Sepuluh Menit yang Membuka Jalan: Hikmah dari Perbincangan Sepele

Pernahkah Anda merasa pikiran Anda buntu? Ide tak lagi mengalir, dan segala rencana tampak seperti omong kosong yang tidak mungkin diwujudkan?

Atau pernahkah Anda begitu penuh oleh keinginan—ide-ide besar yang melintas seperti parade mimpi—namun tak satu pun berhasil disalurkan? Seolah tak ada ruang untuk mengeksekusinya, tak ada jalan keluar dari labirin tugas-tugas rutin yang terus menumpuk?

Saya pernah. Bahkan, cukup sering.

Namun, dua percakapan singkat minggu ini menyadarkan saya bahwa inspirasi tidak datang dari langit, melainkan dari sesama manusia. Filsuf Yunani Herakleitos pernah mengatakan, “Everything flows”—semuanya mengalir. Tetapi untuk mengalir, kadang kita hanya butuh satu percikan kecil. Dan percikan itu, sering kali datang dari obrolan sepele, di sudut waktu yang tak direncanakan.


Yang pertama, terjadi bersama Ridho.

Kami bertemu di depan toilet setelah sebuah rapat penilaian GCG yang, jujur saja, lebih banyak menguras energi daripada menambah semangat. Rapat-rapat semacam itu, meski penting, sering terasa seperti simulasi produktivitas yang justru menggerus daya juang.

Ridho sedang menggenggam ponsel. Saya sapa. Tak ada rencana apa-apa, hanya ingin basa-basi. Kami berbincang ringan: tentang kabar, tentang data penjualan yang lama tak disentuh sejak masa Nataru. Tapi kemudian obrolan mengalir lebih dalam. Kami bicara tentang problem operasional di perjalanan kereta api—soal stok, soal perilaku, soal kehadiran kru. Lalu, datanglah satu percikan: “Mengapa tidak kita angkat saja ini jadi kajian atau riset kecil-kecilan?” katanya.

Kalimat itu sederhana, tapi membangkitkan sesuatu dalam diri saya.

Mengapa tidak, memang?

Bukan untuk sekadar sok intelek, tetapi karena kami merasa ada tanggung jawab moral untuk memperkenalkan dan membagikan pengetahuan secara bijak. Mungkin ini cara kami menjadi insan intelektual yang tidak hanya mengkonsumsi data, tetapi juga menyajikannya kembali dengan makna. Di akhir pembicaraan, Ridho bahkan sudah menyusun outline awalnya. Lima belas menit yang terasa seperti oase di tengah padang gurun kesibukan.


Yang kedua, bersama Teh Sri.

Kami membahas soal pemantauan kinerja tenaga alih daya. Selama ini, metode yang digunakan sangat sederhana—sekadar lewat grup WhatsApp. Tapi dalam praktiknya, grup WA bukan solusi, melainkan jebakan. Notifikasi yang tiada henti justru membuat kita kehilangan fokus, dan ironisnya, merasa sibuk tanpa betul-betul produktif. Seperti kata Kierkegaard, “Banyak orang mengejar kesibukan agar tidak perlu menghadapi dirinya sendiri.”

Saya tunjukkan pada Teh Sri prototipe sistem informasi yang sedang saya rancang: sebuah alur pemantauan dari hulu ke hilir yang terintegrasi sampai ke pengakuan pendapatan. Ia menyambut dengan antusias. Kami berpikir, mengapa tidak dikolaborasikan dengan sistem eksisting?

Satu hal besar kadang memang dimulai dari percikan kecil. Tak ada revolusi yang lahir dalam kebisingan besar; ia sering kali bersemi dari keheningan, dari dialog dua insan yang saling mendengar.


Dua percakapan itu membuat saya merefleksi banyak hal.

Saya sering merasa kelelahan dengan pekerjaan-pekerjaan kecil yang berulang. Laporan demi laporan, rekap demi rekap. Semua seolah menjauhkan saya dari esensi diri. Kadang saya merasa tak berkembang, hanya berjalan di tempat. Tapi berbicara tentang ide, tentang niat baik, tentang menciptakan sesuatu yang bermanfaat—membuat saya kembali hidup.

Sekilas saya mencoba mencari nama saya di Google. Hasilnya? Tak banyak. Padahal saya mengklaim diri memiliki minat di bidang corporate strategy, risk management, dan information system. Tapi nyaris tak ada yang bisa dibaca publik. Tak ada karya. Tak ada tapak jejak. Lalu untuk apa semua ini?

Usia pensiun saya tidak lama lagi. Sedangkan sepuluh tahun terakhir, saya habiskan di tempat ini. Pertanyaan itu datang dalam hati: Apa yang sudah saya tinggalkan? Apa yang bisa saya banggakan jika kelak semua ini berakhir? Saya takut kehilangan kenikmatan mencipta, kehilangan rasa ingin tahu, kehilangan gairah berpikir setelah semua rutinitas berhenti.

Tapi kemudian saya tersenyum. Karena hari ini, saya menulis ini.

Kadang, tidak punya teman pun ada berkahnya—setidaknya satu tulisan bisa selesai. Saya menyadari, seperti menabung kebiasaan baik, inspirasi juga datang dari disiplin kecil. Dan manusia adalah sumber inspirasi itu sendiri. Selama kita terus membuka hati, membuka ruang untuk mendengar dan berdialog, maka kita tidak akan pernah benar-benar kehabisan semangat.

Kata Socrates, “The unexamined life is not worth living.” Maka inilah cara saya menjaga kewarasan: dengan memeriksa hidup, dengan menulisnya, dan dengan berbagi. Agar saya tidak menjadi manusia yang picik, tetapi yang berkembang, waras, dan—semoga—bijaksana.

Dan jika pun tidak bijaksana, setidaknya saya bahagia pernah mencoba.


Jakarta, awal Juni 2025
Helv.