30 Hari Bercerita #16 Harap Tidak Coret Tembok

Pengumuman ini saya baca di Perpustakaan Jakarta Cikini, di bilik bermain Anak. Jika kita jujur, pengumuman semacam ini di bilik anak sebenarnya tidak ditujukan untuk anak-anak. Anak-anak tidak peduli pada birokrasi estetika. Jadi, peringatan itu sebenarnya percuma bagi anak-anak.

Mungkin Itu adalah upaya pertahanan diri orang dewasa yang melihat bahwa keindahan adalah bebas dari coretan, agar belanja “investasi” tidak dicemarkan oleh goresan krayon.

Kita sering melakukan ini: membuat aturan untuk orang lain, yang ia tidak mengerti untuk apa. Kita berharap dunia berjalan sesuai rencana dan dilindungi dengan harapan yang kita susun, seolah-olah semua variabel bisa kita kendalikan lewat “semoga harapan terwujud”.

Namun, itulah pelajaran paling jujur tentang berharap.
Kadang, kita harus berani mengganti judul harapan kita. Jika awalnya harapan berjudul “Dinding yang Bersih”, mungkin perlu menggantinya menjadi “Dinding yang Bertumbuh”.

Setiap coretan adalah sebuah pembuktian bahwa tangan-tangan mungil itu sedang belajar berkoordinasi dengan pikiran, sedang mengenal tekanan, dan sedang mencoba memahami bagaimana jejak diri bisa ditinggalkan di dunia ini.

Alih-alih melihatnya sebagai noda yang harus dihapus, mari melihat dengan perspektif baru:
Coretan yang tegas berarti ada tenaga yang tumbuh.
Variasi warna berarti ada imajinasi yang sedang meledak.
Area yang terjangkau berarti ada pertumbuhan fisik yang nyata.

Ternyata, melihat tembok yang penuh coretan adalah cara terbaik untuk bersyukur bahwa di dalam ruangan ini, ada kehidupan yang sedang mekar dengan sangat sehat