30 Hari Bercerita #22 Perlawanan Kecil di Bawah Rintik Hujan

Jakarta belakangan ini sedang melankolis. Hujan datang tak dijemput, betah berlama-lama dari pagi, siang, hingga sore. Udara memang jadi sejuk dan adem, tapi kalau berlangsung terus-menerus, ada rasa melungun yang perlahan merayap di antara aktivitas yang kaku.

Pagi saya habis untuk virtual meeting. Di era virtual culture ini, stamina ternyata bisa jauh lebih draining ketimbang rapat tatap muka. Kita dipaksa sabar mendengarkan orang berbicara bergantian dalam kotak-kotak kecil di layar, yang terkadang mutunya—jujur saja, terasa sekelas pemborosan waktu yang amat sangat. Tapi ya begitulah, kehadiran adalah kewajiban, meski hati sering kali sudah “leave” duluan.

Maka, saat siang tiba dan hujan makin deras, saya memutuskan untuk kabur sejenak. Berbekal payung pinjaman, saya menerobos hujan demi sebuah ritual paling sakral: makan siang.

Tempat makan langganan saya sepi, berkah terselubung dari hujan yang deras. Di sana, saya menemukan momen “Zen” saya. Nasi putih yang masih mengepul hangat itu terasa enak sekali, sebuah kemewahan sederhana yang mengalahkan segala jenis appetizer mahal.

Saya duduk menatap hujan di jalanan, menikmati udara tanpa asap rokok. Rasanya, tinggal butuh segelas kopi hitam panas dan sepiring gorengan untuk menyempurnakan surga kecil ini.

Namun, kedamaian itu diuji oleh sebuah getaran:
“Ada koreksi slide BLA BLA BLA, tambahkan IRR dan payback period. Ditunggu pukul 15.00.”

Sebaris pesan WhatsApp itu hadir layaknya interupsi kasar di tengah simfoni hujan.

Namun, kali ini saya memilih untuk melawan.
Saya tidak langsung meloncat berdiri. Saya tidak terburu-buru membereskan piring. Sebaliknya, saya tutup ponsel saya. Saya letakkan ia terbalik di atas meja, membungkam segala tuntutan untuk sementara.

Mata saya kembali menatap rintik hujan. Damai. Saya membiarkan diri saya tetap berada di sana, di antara aroma tanah basah dan sisa uap nasi hangat. Meski saya tak bisa berbohong, di dalam kepala, otak saya sudah mulai berputar menyusun angka-apa yang akan saya isi di kolom-kolom Excel itu nanti. Saya membiarkan pikiran bekerja, tapi saya melarang raga saya untuk tergesa-gesa.

Maka siang itu saya juga sedang menuntut payback period saya sendiri. Saya ingin waktu dan energi yang sudah saya “investasikan” sejak pagi itu, kembali kepada saya secara efektif lewat rintik hujan yang syahdu ini. Sebuah imbal balik berupa ketenangan, sebelum saya kembali ke layar monitor.

oplus_131104