30 Hari Bercerita #23 Tentang Waktu Tuhan yang Terbaik

Hujan sisa semalam masih betah menggantung di langit pagi ini. Kelabu yang sama masih menyelimuti pikiran, membawa ingatan pada perjumpaan di rumah duka kemarin. Di saat saya menulis ini, mungkin para sahabat sedang dalam perjalanan panjang menuju kampung halaman, mempersiapkan peristirahatan terakhir bagi sosok yang dicintai.

Namun, duka seolah tak memberi jeda.
​Pagi ini, kabar duka lain datang dari Medan. Sahabat saya kehilangan ayahnya. Saat saya mengirimkan pesan bela sungkawa, ia membalas dengan kalimat yang menggetarkan hati, sebuah pernyataan tentang keikhlasan yang paling dalam:

“Tuhan memberi dan mengambil di waktu yang terbaik.”

​Mendengarnya, saya terdiam. Betapa kuatnya hati yang bisa tetap bersyukur di tengah kehilangan yang hebat.
Untuk menenangkan gejolak di kepala, saya memilih menyentuh tanah. Hari ini saya memindahkan beberapa pot bunga, salah satunya adalah Kamboja (Frangipani).

​Ada alasan mengapa saya memberikan perhatian lebih pada tanaman ini: ​Kamboja sering kali dipandang sebagai simbol keheningan, namun bagi saya, ia adalah janji tentang keteduhan.

Semoga hujan ini tidak berlangsung lama. Kiranya air mata duka yang tumpah sejak kemarin segera kering dibawa angin, digantikan oleh rahmat dan kekuatan yang baru dari-Nya.

Selamat jalan bagi mereka yang pulang. Dan bagi kita yang ditinggalkan, semoga hati kita tetap diberi kerelaan