30 Hari Bercerita #24 Kekuatan dari Balik Etalase Kaca


Salah satu keuntungan kecil yang sering kali terlupakan saat menjadi pengguna transportasi umum adalah kesempatan untuk “jajan” di stasiun. Bagi saya, jika pagi berjalan terlalu cepat dan sarapan di rumah terlewatkan, sepotong roti adalah penyelamat. Cukup dengan seduhan kopi panas, sekeping roti sudah lebih dari memadai untuk memulai mesin energi di dalam tubuh.

Tempat favorit saya? Loko Cafe di LRT Cikoko. Posisinya yang di pojok memberikan ketenangan tersendiri di tengah arus manusia yang bergegas. Begitu tiba di Cikoko, mata saya akan langsung tertuju pada etalase. Pilihan saya biasanya tak jauh dari Roti Abon yang gurih atau Cinnamon yang aromanya selalu berhasil memanjakan hidung. Namun, ritual ini bukan hanya soal transaksi perut.

Sambil memilih, saya biasanya menyapa mbak penjaga kafe. Bertanya ringan tentang kondisi hari itu, apakah pelanggan sedang ramai atau tidak, sembari menyiapkan QRIS untuk pembayaran.

Di titik inilah saya teringat satu hal penting: berlaku ramah adalah sebuah skill dasar. Mengucapkan “terima kasih” bukan sekadar tata krama, melainkan cara kita memanusiakan orang lain, sekaligus memanusiakan diri kita sendiri. Percayalah, hidup terasa jauh lebih bermakna saat kita berhenti sejenak untuk saling melihat.
Setiap pagi, ritual itu ditutup dengan satu kalimat yang sama dari balik meja kasir:

“Terima kasih Pak, hati-hati di jalan.”

Hanya sebaris kalimat pendek, namun dampaknya luar biasa. Saya bergegas ke peron dengan hati yang jauh lebih semangat. Di dunia yang sibuk ini, belum tentu kita mendapat salam hangat, bahkan dari orang terdekat sekalipun.

Bagi saya, ucapan “hati-hati” itu bukan sekadar formalitas. Ia terdengar seperti doa singkat yang mengingatkan saya bahwa “hati-hati” adalah bentuk kecermatan, kewaspadaan, dan pengingat bahwa ada rumah yang menanti kita kembali.

Terima kasih, Mbak, atas pengingat tulusnya setiap pagi. Semoga harimu pun berjalan menyenangkan dan penuh keberkahan.