30 Hari Bercerita #25 Simfoni di Bawah Pohon Rindang

Bagi seorang introvert, makan siang bukan sekadar urusan mengisi perut. Ini adalah ritual pengisian ulang baterai sosial yang hampir habis. Peta makan siang saya tidak berisi restoran yang viral di TikTok, melainkan titik-titik sunyi yang jauh dari keramaian.

Salah satunya adalah “markas” si Gondrong.
Saya sendiri tidak tahu nama aslinya, dan jujur saja, itu tidak penting. Di bawah pohon rindang ini, identitas formal kami tanggalkan. Mas Gondrong ini asal Cirebon, sudah berjualan mie ayam sejak usia muda. Ia adalah ensiklopedia hidup tentang ketekunan yang tenang.

Jangan tanya soal politik, gejolak ekonomi, atau isu sosial budaya hankam dengan dia. Di sini, topik-topik berat itu dilarang masuk. Obrolan kami mengalir santai tentang hal-hal yang benar-benar nyata:

  • Bagaimana kondisi panen di kampung halamannya.
  • Fluktuasi harga ayam di pasar pagi tadi.
  • Diskusi ringan soal motor-motor favorit.
  • Seni menjaga keharmonisan antar sesama penjual di bawah pohon rindang tersebut.

Yang membuat tempat ini istimewa bukanlah desain interiornya, melainkan sebuah gerobak yang “melek teknologi”. Gerobaknya dilengkapi musik yang terhubung lewat bluetooth.

Maka, makan siang di sini terasa seperti di kafe mewah, namun dengan udara yang lebih segar dan suasana yang lebih jujur. Saya tinggal memesan segelas kopi sachet, melempar permintaan lagu (mungkin lagu yang sedang Anda dengarkan di slide ini), dan mulai mengobrol.

Cukup lima belas hingga dua puluh menit, namun rasanya cukup untuk melepas beban dari pundak. Dari Mas Gondrong, saya belajar bahwa informasi yang bermakna tidak selalu datang dari portal berita atau laporan, tapi dari sapaan tulus dan cerita tentang hidup yang dijalani apa adanya.

Inilah ritual makan yang membuat waktu saya terasa lebih berharga. Di antara kepulan uap mie ayam dan rintik musik dari speaker kecil itu, saya menemukan kembali diri saya yang sempat “hilang” di balik layar laptop sejak pagi.