Saya baru tahu bahwa ada sebuah fitur di Direct Message Instagram di mana kita bisa membuat nickname atau nama panggilan khusus untuk salah satu kontak. Sebuah nama baru yang bisa lekas disapa, sesuatu yang lebih personal di luar nama akun resmi yang terpampang kaku di profil.
Dan orang yang dulunya diberikan nickname itu adalah saya.
Fakta ini baru saya sadari justru di momen akhirnya. Ketika teman saya memutuskan untuk menghapus (clear up) nickname tersebut, entah bagaimana algoritmanya, notifikasinya mampir ke layar saya. Jejak digital itu menunjukkan bahwa nama panggilan khusus tersebut sebenarnya sudah tersemat sejak Desember 2024.
Saya tahu persis apa arti di balik penghapusan itu. Intinya sederhana, namun telak: saya bukan lagi orang “penting” di dunianya.
Perihal menghapus nickname itu pada dasarnya hanyalah sebuah cara sunyi untuk melepaskan secara perlahan.
Saya tertegun sejenak menatap layar ponsel. Mungkin saya atau kita semua pernah menjadi bagian yang begitu penting dari kehidupan seseorang. Namun ternyata, selalu ada kesementaraan di sana. Peristiwa kecil ini seolah menggemakan kembali ritme yang baru saja kita masuki di Rabu Abu: Memento mori. Ingatlah akan kefanaan. Bukan hanya raga yang fana, melainkan juga posisi dan takhta kita di hati manusia.
Kesadaran akan hal itu jauh lebih penting daripada meratapi kepergian.
Kitab Amsal 4:23 memberikan sebuah nasihat klasik yang indah: “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” Namun, menjaga hati rupanya bukanlah melindunginya dalam kotak kaca agar tidak pernah tergores. Memang kita perlu menjaga hati, tetapi ada kalanya, hati itu justru perlu dibiarkan hancur. Dibiarkan remuk, terluka, dan kehilangan tempat bersandarnya yang lama. Mengapa? Agar di atas puing-puing itu bisa ditumbuhkan hati yang sepenuhnya baru. Sebagaimana janji yang tertulis dalam Yehezkiel 36:26, bahwa Tuhan sendiri yang akan menyingkirkan hati yang keras dan memberikan hati yang baru.
Hati yang baru ini adalah hati yang kompasnya telah diperbaiki. Ia mengarah pada sesuatu yang jauh lebih bermakna, lebih berkuasa, yang menegaskan kembali apa sebenarnya tujuan kehidupan ini.
Terluka itu boleh, tetapi kita harus bangkit. Remuk itu wajar, tetapi langkah harus terus berlanjut. Pada akhirnya, soal hati adalah tentang cara kita memandang kehidupan. Ini tentang pemaknaan bahwa di balik segala kehilangan, selalu ada kebenaran, keindahan, ketulusan, dan keberanian. Dan yang paling penting, dibutuhkan kerendahan hati yang utuh untuk mengakui bahwa sumber segala kehidupan, kebaikan, kebajikan, dan kebijaksanaan bukanlah manusia yang bisa berubah, melainkan Tuhan yang abadi.
Maka, biarlah fokus itu kembali kepada-Nya. Nama kita, sehebat apa pun nickname yang pernah disematkan orang lain, suatu saat akan hilang dari ingatan manusia. Perbuatan baik kita mungkin akan lenyap ditelan waktu. Namun, bagaimana perjalanan hati kita bertumbuh, hancur, dan terus-menerus dibarui oleh-Nya, itulah makna sejati dari sebuah hidup yang berarti.

Selamat menempuh hidup yang baru.