Kemarin pagi, langkah saya sedikit terhenti di peron LRT Harjamukti. Di tengah deretan wajah kantuk yang menunggu kereta, pandangan saya tertuju pada seorang perempuan. Ada torehan abu berbentuk salib di dahinya. Sejenak saya membatin, “Misa sepagi ini? Atau jangan-jangan ia menorehkannya sendiri sebelum berangkat?”
Pertanyaan itu menguap begitu saja saat saya melangkah masuk ke dalam gerbong KRL yang padat. Saya segera membuka layar ponsel, menenggelamkan diri dalam lembaran buku digital, sambil sesekali melirik jam. Otak saya mulai berhitung otomatis, memastikan langkah dan rute agar bisa tiba di kantor sebelum jam sembilan teng. Siklus pagi yang menuntut kecepatan dan ketepatan.
Namun, hari itu memang bukan hari biasa. Sore harinya, saya memacu langkah pulang lebih cepat dari kantor untuk mengejar kebaktian Rabu Abu pukul enam sore.
Di dalam ruang gereja yang tenang, suara pendeta menggema membawa sebuah pesan yang cukup menohok: menanggalkan kemunafikan.
Kata “munafik” ini terus terngiang di kepala saya. Di dunia kerja dan keseharian yang menuntut profesionalisme, adaptasi sering kali membuat kita harus tetap tersenyum di balik keletihan yang luar biasa, atau sengaja menyibukkan diri untuk menutupi luka yang sedang menganga. Apakah bertahan hidup semacam itu adalah kemunafikan? Saya rasa bukan. Itu adalah cara kita memeluk realitas.
Kemunafikan yang sesungguhnya jauh lebih berbahaya: kesalehan palsu. Tampil begitu rohani, rajin mengobral nasihat, namun batinnya kosong melompong. Di era sekarang, batas ini makin tipis dengan kebiasaan “memamerkan” kehidupan rohani di ruang digital. Saya sering kali menahan diri dan sangat berhati-hati soal ini. Saya tidak ingin memposisikan diri untuk menggurui apalagi menghakimi.
Rabu Abu justru datang menelanjangi semua kebanggaan semu itu. Torehan abu di dahi adalah pengingat paling jujur bahwa segala sesuatu di bawah matahari ini fana. Ada waktunya. Pada akhirnya, manusia hanya akan kembali menjadi debu. Jadi, untuk apa menyombongkan diri? Jabatan yang kita kejar mati-matian, rentetan karier yang cemerlang, bahkan berkat materi yang kita genggam, semuanya akan segera punah.
Menariknya, momen perenungan ini terjadi di bulan Februari. Rupa-rupanya semesta sedang merajut sebuah kebetulan yang puitis. Kata “Februari” sendiri berakar dari bahasa Latin, Februa, yang berarti penyucian atau pembersihan. Dan di bulan penyucian inilah, kita menyaksikan perjumpaan tiga muara spiritualitas dan budaya yang luar biasa.
Baru saja hari Selasa lalu saudara-saudara kita merayakan Imlek, memasuki Tahun Kuda, menyapu bersih rumah untuk menyambut berkah dan kesejahteraan dengan ritme yang berderap maju.
Tak lama lagi, saudara-saudara Muslim kita akan memasuki bulan puasa Ramadan, menyucikan jiwa dan mengekang keliaran hawa nafsu.
Dan bagi kita, Rabu Abu mengawali masa Prapaskah, momen menyucikan hati dengan mengingat kefanaan diri agar bisa sungguh-sungguh bekerja dan berkarya tanpa keangkuhan.
Ketiganya adalah Februa—proses penyucian—yang bermuara pada satu kerinduan: hadirnya kedamaian di wajah dunia dan di kedalaman batin manusia. Bagaimanapun, kehidupan spiritual pada akhirnya akan diuji oleh ketekunan dan dibuktikan dengan buah yang nyata bagi sesama.
Malam harinya, saat merenungkan semua ini, ingatan saya kembali melayang pada perempuan di peron LRT Harjamukti tadi pagi. Tiba-tiba, pertanyaan apakah ia menorehkan abu itu sendiri atau menerimanya dari imam, menjadi sama sekali tidak penting.
Di tengah hiruk-pikuk komuter dan kerasnya kejaran jam masuk kantor, ia membawa tanda kefanaannya dengan sunyi. Mungkin, itulah cara ia menghidupi Februa-nya. Ia menjadi pengingat berjalan, bukan untuk memamerkan kesalehan, melainkan untuk berbisik pada dirinya sendiri, dan mungkin pada orang-orang seperti saya yang tak sengaja menatapnya pagi itu: bahwa sehebat apa pun kita berlari mengejar dunia hari ini, pada akhirnya kita hanyalah debu yang sedang belajar untuk mencintai.


Semoga kita semua dimampukan menjalani masa penyucian ini.