Setiap pagi, saat melangkah masuk ke dalam gedung kantor, saya merasa seperti sedang memasangkan rompi. Di dunia itu, saya seperti mesin yang presisi: berbicara dalam bahasa formal, berpikir lewat skema terstruktur, dan surat-menyurat dengan kalimat tegas. Semuanya harus terukur, efisien, dan sedapatnya tanpa celah.
Namun, di balik rompi itu, ada jiwa yang tetap ingin merdeka. Jiwa yang menolak diringkas hanya menjadi sekadar angka beban kerja, beban pendukung. Terkadang jiwa ikut menangis, manakala melihat rekan-rekan sangat loyal bahkan melampaui apa yang ia terima lewat gaji bulanan.
Ada tegangan yang nyata setiap hari. Sering kali saya termenung. Bisakah saya tetap memiliki ketajaman berpikir seperti seorang investigator, namun tetap menyimpan kelembutan hati seorang kawan?
Para filsuf Yunani kuno ternyata sudah lama bergulat dengan hal ini. Aristoteles pernah memperkenalkan konsep Phronesis atau kebijaksanaan praktis. Baginya, menjadi manusia seutuhnya bukanlah tentang memilih antara menjadi pemikir yang dingin atau perasa yang hangat. Ia menawarkan jalan tengah sebuah keseimbangan.
Menjadi manusia yang utuh (Eudaimonia) berarti memiliki kemampuan untuk menyeimbangkan logika yang tajam dengan kebajikan hati. Secara harfiah Eudaimonia berarti “memiliki daimon (jiwa) yang baik,” merujuk pada kondisi hidup yang baik dan sejahtera. Dalam Nicomachean Ethics, Aristoteles menganggap eudaimonia sebagai tujuan akhir hidup manusia yang dicapai melalui aktivitas aktif sesuai kebajikan.
Mungkin gambarannya seperti ini: Di kantor, saya menggunakan logika; namun di JPO Cikoko saat mengejar sunset, saya menggunakan rasa. Keduanya tidak saling menghancurkan, melainkan saling menggenapi.
Ada suatu paradoks setiap hari bahwa dunia korporat menuntut saya untuk selalu “on”, bahkan tidak peduli saat cuti/istirahat. Maka, mencari ruang sunyi adalah bentuk perlawanan saya agar tidak menjadi mesin produksi sepenuhnya.
Inilah saat-saat itu:
Saat saya duduk di tempat Mas Gondrong, saya sedang mempraktekkan apa yang disebut Socrates sebagai “The unexamined life is not worth living.” Saya berhenti sejenak untuk memeriksa hidup lewat obrolan tentang harga ayam dan panen di kampung atau sekadar bertanya apakah jualannya ramai hari itu.
Saat saya mengejar sunset di Cikoko atau dimanapun, saya sedang melatih jiwa untuk tetap mampu mengagumi keindahan, sesuatu yang tidak bisa dimasukkan ke dalam puluhan slide powerpoint.
Begitulah kira-kira cara saya untuk tetap “hidup” dan mencoba tetap waras di tengah “mesin produksi” yang tak putusnya menuntut hasil ketimbang proses.
Bagaimana Menjadi Manusia Seutuhnya dan Bertahan?
Filsuf Stoa seperti Marcus Aurelius mengingatkan kita bahwa kita tidak selalu bisa mengendalikan sistem di luar sana, tapi kita punya kendali penuh atas “benteng batin” kita.
Bagaimanapun bekerja adalah suatu anugerah. Dan saya seharusnya bersyukur, karena itulah yang memberikan saya jalan untuk hidup untuk memenuhi kebutuhan saya. Namun, saya juga tak mau membiarkan bekerja yang terkadang membosankan itu mengambil alih kemudi jiwa saya.
Menemukan hal baru seharusnya menjadi kebiasaan. Sapaan mbak Loko Cafe, aroma kopi sachet, dan memori tentang Ibu adalah cara yang menjaga saya tetap membumi saat badai pekerjaan sedang kencang-kencangnya.
Seperti prinsip pendakian, jangan berhenti, teruslah bergerak (persistence). Jika lelah, jalanlah perlahan. Menjadi manusia seutuhnya adalah sebuah proses “menjadi” yang tidak pernah selesai. Ketajaman pikiran adalah alat untuk bekerja, namun kelembutan hati adalah alasan mengapa kita bekerja. Tanpa kelembutan, keberhasilan hanya akan terasa seperti angka-angka hampa.

Di tengah jadwal Anda yang padat hari ini, sudahkah Anda memberikan “makan” bagi jiwa merdeka Anda, meski hanya lewat satu menit permenungan mendalam?