Bonus Lap Cerita #31 Janus, Februa, dan Sebuah Nama di Balik Cerita

Januari baru saja melambaikan tangan, membawa kita ke depan gerbang Februari. Secara etimologi, Januari diambil dari nama Janus, dewa Romawi yang memiliki dua wajah: satu menatap ke masa lalu, dan satu lagi memandang jauh ke masa depan.

Sepanjang 30 hari kemarin, saya merasa persis seperti Janus. Saya menoleh ke belakang, melipat waktu, dan mengurai kembali benang-benang memori. Namun, setiap kali saya menceritakan tentang masa kecil, keruh-beningnya masa sekolah, hingga perjuangan masa kuliah, saya menyadari satu hal: Selalu ada bayang-bayang Ibu di belakang setiap kalimat saya.

Ibu adalah arsitek yang membentuk saya hingga menjadi seperti sekarang. Menjelang pergantian usia ini, saya sering terdiam dan merenung, membayangkan bagaimana dahulu ia mendidik anak laki-laki seperti saya.
Mungkin pikiran saya saat itu belum sekompleks sekarang, namun kini saya mulai bisa merasakan denyut kerisauan yang dulu sering menyelinap di hatinya. Kerisauan yang ia sembunyikan di balik senyum atau instruksi-instruksi sederhana.

Ada rindu yang tiba-tiba menyambar, membawa saya kembali ke momen-momen yang dulu terasa biasa saja, namun kini terasa sangat mewah:

  • DSaat-saat mencuci baju bersama di pagi hari, di mana curhatan mengalir sejernih air.
  • Mendengarkan cerita-ceritanya yang tak habis-habis saat kami pergi berbelanja bersama.
  • Suara di ujung telepon setiap Minggu saat saya masih di perantauan kuliah, sebuah jangkar yang menjaga saya tetap waras di kota orang.

Kini kita memasuki Februari, yang berasal dari kata Februa, sebuah festival penyucian dan pembersihan. Bagi saya, bulan ini adalah waktu untuk mensucikan rindu.
Ibu kini sudah tenang di surga. Ia mungkin tak lagi hadir secara fisik untuk memeluk saya saat lelah atau saat batin saya lelah dihajar kemunafikan duniai.

Namun, setiap kali saya menulis, saya merasa sedang melakukan “percakapan imajiner” dengannya. Tulisan-tulisan ini adalah sapaan saya, bukti bahwa didikan dan kasih sayangnya masih hidup dan berdenyut dalam setiap kata yang saya tuliskan.

“Salam untukmu di sana, Bu. Terima kasih telah mempercayakan dunia ini kepada anakmu.”

Menginjak Februari menuju usia yang baru, inilah cara saya memberikan penghormatan pada akar sebelum saya benar-benar melangkah ke kehidupan yang baru.

oplus_131104