Bunga mekar, harapan di tengah kegundahan


Minggu pagi ini udara terasa lembut, meski dalam hati ada rasa gundah yang sulit dihapus. Saat berjalan pagi, saya berhenti sejenak di sebuah jalan. Di tepi jalan itu, bunga-bunga jatuh mekar dengan tenang. Bunga itu seakan berbisik, mengajarkan arti kedamaian dan kesabaran.


Selanjutnya saya berjalan ke arah kolam renang milik kompleks perumahan, sebelum saya menceburkan diri, saya ambil beberapa gambar. Indah, tenang, dan penuh harapan.

Dari sana saya merenung: hidup pun sama. Meski diguncang kegaduhan, kita bisa memilih untuk tetap mekar, tetap memberi warna, tetap menjadi pengingat bahwa selalu ada sisi indah dalam keruhnya keadaan.

Percakapan Minggu Pagi
Pagi itu, saya berbincang dengan Yanti, seorang sahabat lama. Ia mengeluh betapa beratnya hidup akhir-akhir ini. Media sosial dipenuhi ujaran kebencian, provokasi, dan berita yang membuat hati semakin gelisah.
“Aku bete banget,” kata Yanti. “Bukan karena nggak peduli, tapi rasanya capek lihat semua keributan itu. Di timeline isinya cuma kemarahan, provokasi, saling tuduh. Kadang aku takut kalau komentar, bisa-bisa malah diserang balik.”

Saya hanya bisa memahami. Situasi memang tidak mudah. Apalagi ketika melihat perusakan halte, stasiun, dan mall—fasilitas umum yang seharusnya dijaga bersama.
Di sisi lain, ada Bagasta, seorang pekerja transportasi yang harus merasakan langsung dampaknya. Dengan nada getir ia berkata:
“Aku nggak peduli orang mau berjuang apa. Tapi jangan hancurkan tempat orang lain mencari makan. Apa pun alasannya, perusakan itu menyakiti banyak orang. Kesal rasanya.”

Yanti hanya terdiam. Ia bercerita bahwa dalam grupnya, banyak teman justru sibuk menyebarkan status provokatif, bahkan seperti menikmati situasi kacau. Ia merasa semakin muak.
“Kadang aku pengen keluar grup,” ucap Yanti lirih, “tapi takut dipertanyakan. Jadi ya cuma diem, atau mute aja. Tapi tetep aja bikin nyesek.”
Saya paham betul perasaannya. Apalagi ketika orang-orang terdekat ikut larut dalam provokasi. Sementara kita tahu, kerusuhan dan ujaran kebencian tidak pernah membawa kebaikan.

Pengingat dari Masa Lalu
Percakapan ini membuat saya teringat masa kecil. Saya anak seorang polisi, dan pernah merasakan bagaimana keluarga harus mengungsi ketika terjadi konflik di Aceh. Malam-malam tanpa tidur, rasa takut, hingga kehilangan rumah sementara. Semua itu meninggalkan luka.

Maka ketika melihat perusakan dan kerusuhan hari ini, saya tidak bisa diam. Saya tahu betul, tidak ada kebaikan yang lahir dari menghancurkan. Perjuangan macam apa yang tega merusak hidup orang lain?

Harapan di Tepi Kolam
Akhirnya, percakapan Minggu pagi ini bersama Yanti dan Bagasta menjadi pengingat. Kita semua pernah merasa lelah, marah, kecewa. Namun, di balik itu semua, selalu ada ruang untuk memilih: apakah kita ikut larut dalam keruhnya keadaan, atau justru berusaha menjadi bunga: tenang, memberi keindahan, dan menghadirkan harapan.

Harapan itu sederhana: semoga kegundahan perlahan sirna, semoga kebencian diganti dengan kedamaian, semoga masa depan menjadi lebih baik.

Bunga di tepi kolam itu masih berdiri. Ia mekar bukan karena dunia di sekitarnya sempurna, tapi karena ia memilih untuk tetap hidup dan memberi warna. Dan mungkin, begitulah seharusnya kita.