Dari Ritualisme Iman ke Spiritualitas

Persis pada titik perenungan yang tak biasa. Ketika pesan berduyun-duyun tiba dalam kotak pesan di ruang obrolan whatsapp. Teks-teks berjejalan, berderet mencari makna yang dititipkan si empunya. Ucapan maaf, ungkapan pengakuan atas kekhilafan sepanjang tahun hingga tiba saat tepat (yang dinisbahkan dalam momen diujung ramadhan, jelang hari kemenangan). Fragmen tersebut, sejenak mengajak untuk berziarah ingatan,…Continue Reading “Dari Ritualisme Iman ke Spiritualitas”

Sebuah Cerpen  Menyerahkan Diri Pada Kabut   Oleh: Dian Cahaya   “Tapi aku akan memilih mencintai daripada ketakutan, meski melawan arus norma-norma, sistem nilai, mungkin (juga) agama”  Adakalanya dihadapan kita tidak hanya ada satu jalan, namun kita harus  menghindar dari berbagai semak belukar, lorong-lorong gelap dan sempit, jalanan berliku dan penuh bahaya. Dihadapan kita telah terbentang jalan yang sulit nan panjang….Continue Reading “Sebuah Cerpen “

Jurnal Fotopuisi #8 Percakapan di Ruang Senja

Percakapan di Ruang Senja Barangkali ini adalah catatan yang menggenapi hari dengan tapak perjalanan dalam waktu yang fana takkan ada pesta perayaan kali ini karena beribu hari aku gagal mengeja peristiwa kemarin aku memahaminya melalui senja yang tenggelam dibatas kota untuk apa ada pesta perayaan kali ini? jika sepanjang hari kita bernyanyi-menangis bergembira-bersedih bersama angin…Continue Reading “Jurnal Fotopuisi #8 Percakapan di Ruang Senja”

Jurnal Fotopuisi #7 Yang Tak Terucapkan

Yang Tak terucapkan gemuruh angin membawa kabar tentang perempuan yang memanggul salib hidupnya ia menyeret langkahnya pada pusara takdir dalam sergapan karnaval luka Berkali-kali ia menolak cuaca yang bosan mengabarkannya melalui orkestra air hujan membawanya hanyut hingga ia terdampar dalam kubangan duka beribu kali menolak dingin udara namun kulitnya menerima perih karena dingin yang menusuk…Continue Reading “Jurnal Fotopuisi #7 Yang Tak Terucapkan”

Jurnal Fotopuisi #6 Doa di Padang Ilalang

*Doa di Padang Ilalang* . Telah ku panggul salibku dalam merenda hari depan, Meski ku terseok-seok dan selalu harus pulang pada tembok ratapan. . Tak ada yang mampu memastikan bahwa rindu dan cinta tak mungkin lekang, termasuk pula oleh kenangan. Tak ada yang sanggup memastikan bahwa hari esok hanya dipenuhi oleh kebahagiaan; itu tak mungkin…Continue Reading “Jurnal Fotopuisi #6 Doa di Padang Ilalang”

Jurnal Fotopuisi #5: Tak ada Tempat (lagi) Bagi Kehilangan

​*Tak ada Tempat (lagi) Bagi Kehilangan* Telah kujelajahi banyak tanah tempat manusia mengarungi hidup, tempat rindu dendamnya berkubang. . Jejak tanah basah antara Parapat dan pulau Samosir bentang alam Danau Toba kulewati dalam karnaval ingatan Berjejer deretan waktu terus mengulang-ulang rinduku yang luka ingatan itu tiba di poros langit mengadu tentang luka rindu yang berkali…Continue Reading “Jurnal Fotopuisi #5: Tak ada Tempat (lagi) Bagi Kehilangan”

Jurnal Fotopuisi #4 Matahari Terbit dari Takengon

Matahari Terbit dari Takengon Hangat sinar mentari mendekap udara yang dingin Awan berbisik mesra dengan gumpalan menari-nari dipelupuk mata Pagi itu tibalah sebuah pesan darimu, kekasih. Pesanmu adalah nasihat bijak bagi hidup yang kita aliri cinta yang dihidupi batas harapan dan kenyataan yang harus dikhidmati Pesanmu menyitir Coelho dari Sang Alkemis; “jika engkau mendambakan sesuatu,…Continue Reading “Jurnal Fotopuisi #4 Matahari Terbit dari Takengon”