Jurnal Fotopuisi #8 Percakapan di Ruang Senja

Percakapan di Ruang Senja Barangkali ini adalah catatan yang menggenapi hari dengan tapak perjalanan dalam waktu yang fana takkan ada pesta perayaan kali ini karena beribu hari aku gagal mengeja peristiwa kemarin aku memahaminya melalui senja yang tenggelam dibatas kota untuk apa ada pesta perayaan kali ini? jika sepanjang hari kita bernyanyi-menangis bergembira-bersedih bersama angin…Continue Reading “Jurnal Fotopuisi #8 Percakapan di Ruang Senja”

Jurnal Fotopuisi #7 Yang Tak Terucapkan

Yang Tak terucapkan gemuruh angin membawa kabar tentang perempuan yang memanggul salib hidupnya ia menyeret langkahnya pada pusara takdir dalam sergapan karnaval luka Berkali-kali ia menolak cuaca yang bosan mengabarkannya melalui orkestra air hujan membawanya hanyut hingga ia terdampar dalam kubangan duka beribu kali menolak dingin udara namun kulitnya menerima perih karena dingin yang menusuk…Continue Reading “Jurnal Fotopuisi #7 Yang Tak Terucapkan”

Jurnal Fotopuisi #6 Doa di Padang Ilalang

*Doa di Padang Ilalang* . Telah ku panggul salibku dalam merenda hari depan, Meski ku terseok-seok dan selalu harus pulang pada tembok ratapan. . Tak ada yang mampu memastikan bahwa rindu dan cinta tak mungkin lekang, termasuk pula oleh kenangan. Tak ada yang sanggup memastikan bahwa hari esok hanya dipenuhi oleh kebahagiaan; itu tak mungkin…Continue Reading “Jurnal Fotopuisi #6 Doa di Padang Ilalang”

Jurnal Fotopuisi #5: Tak ada Tempat (lagi) Bagi Kehilangan

‚Äč*Tak ada Tempat (lagi) Bagi Kehilangan* Telah kujelajahi banyak tanah tempat manusia mengarungi hidup, tempat rindu dendamnya berkubang. . Jejak tanah basah antara Parapat dan pulau Samosir bentang alam Danau Toba kulewati dalam karnaval ingatan Berjejer deretan waktu terus mengulang-ulang rinduku yang luka ingatan itu tiba di poros langit mengadu tentang luka rindu yang berkali…Continue Reading “Jurnal Fotopuisi #5: Tak ada Tempat (lagi) Bagi Kehilangan”

Jurnal Fotopuisi #4 Matahari Terbit dari Takengon

Matahari Terbit dari Takengon Hangat sinar mentari mendekap udara yang dingin Awan berbisik mesra dengan gumpalan menari-nari dipelupuk mata Pagi itu tibalah sebuah pesan darimu, kekasih. Pesanmu adalah nasihat bijak bagi hidup yang kita aliri cinta yang dihidupi batas harapan dan kenyataan yang harus dikhidmati Pesanmu menyitir Coelho dari Sang Alkemis; “jika engkau mendambakan sesuatu,…Continue Reading “Jurnal Fotopuisi #4 Matahari Terbit dari Takengon”

Jurnal Fotopuisi #3: Orang-orang yang berjalan

Orang-orang yang berjalan . Hidup adalah permainan layang-layang Demikian Kuntowijoyo meracik kata dalam cerpen “Dilarang mencintai bunga-bunga” orang-orang berjalan mengikuti langkah kaki setia pada degup jantung juga suara hati. orang-orang berjalan mencari penghidupan karena tak ingin mati apalagi hidup sia sia Lihatlah, langit melengkungkan cahaya pepohonan rimbun menghimpun udara Burung burung bertasbih dengan cinta dari…Continue Reading “Jurnal Fotopuisi #3: Orang-orang yang berjalan”

Kepada jalan setapak yang disesaki lautan manusia dan kendaraan di Kota Medan Jalan panjang yang terhampar antara Siantar-Tebing tinggi-Parapat hingga tiba di Pelabuhan Ajibata Angin bertiup menyapu dedaunan yang berserakan di tanah Ia berjanji tak membebani Seperti janji rindu kepada waktu.. Swiss van Java, Oktober 2017 12.35 dari Bangsal Rumah Sakit Dian Cahaya

Jurnal Fotopuisi #1 Pintu Kedatangan

Pada pintu kedatangan Aku mulai tunaikan rindu meski bercampur resah dan cemas satu bababk cerita hidup tempat manusia merebahkan harap kepada segala dzat yang asali Rindu tempat pulang ke muasal kasih yang paling manusiawi Lekaslah tunggu kedatanganku di pintu rumah ketulusanmu kelak disanalah tempat terakhirku memulai cerita dalam kehidupan yang baru Lekas lepaskanlah segala ragu…Continue Reading “Jurnal Fotopuisi #1 Pintu Kedatangan”