On duty – a short story

Never idealize others. They will never live up to your expectations.

Leo Buscaglia

Demi apa ya saya harus pergi di minggu siang berpanas-panas untuk menemui seseorang yang belum saya kenal. Saya sadar bahwa saya sedang dimintai tolong karena saya punya kapasitas untuk bertemu: jarak!

Tempat perjumpaannya adalah sebuah kafe atau warung kopi yang cukup terkenal, di mana hampir hadir di setiap kota terlebih yang punya pusat perbelanjaan. Tempat itu menjadi demikian populer karena mungkin sudah populer atau banyak orang menyematkan kepopuleran dengan tempat itu sebagai titik kumpul yang populer. Orang yang saya jumpai cukup ramah, bercerita tentang kesibukannya yang akhir-akhir ini, termasuk menyelenggarakan kelas daring dengan topik kurang lebih tentang stratejik di masa pandemi, serta ide-ide yang sebaiknya dilakukan untuk menerobos celah sempit pandemi demi keberlangsungan bisnis. Saya serasa katak di bawah tempurung. Kadang kala pembicaraan semacam itu hanya ada di ruang diskusi para pengambil keputusan. sementara roda waktu berputar dengan teratur, harus ada keputusan besar yang harus diambil.

Saya menunaikan tugas yang dititipkan ke saya seraya meminta petugas toko mengabadikannya:

Saya memerhatikan sekeliling, ada dua orang perempuan di meja masing-masing yang asyik dengan kegiatannya: satu menghirup nikotin, dan satu asyik membaca novel. Saya berpikir kira kira apa yang membuat orang mau datang hingga sampai mengantre ke tempat ini, dan saya simpulkan: bukan kopi. Tetapi pemandangan aktivitas orang lain dan merk.

Sekilas saya teringat mengenal merk tempat ini, ketika awal-awal di Bandung. Sebagai tempat titik temu. Kebetulan memang, sofa yang empuk serta ruangan yang nyaman membuat mood lebih baik. Perjalanan waktu akhirnya tidak membuat saya memilih tempat itu menjadi suatu tempat perjumpaan baik bagi orang lain maupun buat diri saya sendiri. Mungkin klise, tapi saya tidak suka minum kopi dari gelas plastik. Masih ada faktor lain, baiknya akan saya ceritakan pada tulisan selanjutnya.

Urusan saya selesai. Nyamannya AC tidak membuat saya betah, saya pulang menerobos panas aspal. Saya bayar siang panas saya dengan 20 gram kopi dan 300 ml air panas:

Semoga saya bisa mengambil hikmah positif, biar nggak terlalu jadi orang pengeluh.

hongpimpa alaihong gambreng: “dari Tuhan kembali pada Tuhan, ayo bermain!”

Usia mungkin sudah setengah jalan, banyakin main, dibikin happy saja okay.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × four =