30 Hari Bergerak #29 Terus Bergerak

Memasuki Hari ke-30, saya merasa seperti sedang berada di kilometer terakhir sebuah pendakian panjang. Stamina mulai menipis, napas terasa berat, dan godaan untuk berhenti sejenak, yang seringkali berujung pada berhenti seterusnya terasa begitu kuat.

Namun, di meja kerja saya pagi ini, ada dua “penyelamat” yang menjaga api konsistensi tetap menyala: secangkir kopi dan arsip foto.

Mencari ide selama hampir 30 hari berturut-turut ternyata bukan soal menunggu ilham jatuh dari langit, melainkan soal menggali.

  • Kopi adalah bahan bakarnya; ia memberikan kejernihan dan menghubungkan otot ingatan dengan pikiran.
  • Arsip Foto adalah mesin waktunya; setiap kali saya menggulir galeri ponsel, satu foto lama bisa menarik kembali ribuan emosi.

Terkadang, proses ini tidak berjalan linear. Saya sedang duduk dalam ketenangan, lalu tiba-tiba ada memori yang “menyambar” dalam ingatan, interupsi acak yang justru seringkali menjadi tulisan paling jujur.

Satu hal yang saya pelajari dari jalur pendakian dan saya terapkan dalam tantangan menulis ini adalah: Tetaplah bergerak.

Dalam pendakian, berhenti terlalu lama adalah musuh.
Pertama, Kehilangan Waktu. Kita bisa gagal mengejar target puncak atau kemalaman di jalur. Maka disiplin soal waktu istirahat adalah penting.
Kedua, Saat kita berhenti bergerak, suhu tubuh, atau dalam hal ini, momentum pikiran akan mendingin. Begitu dingin menyergap, otot (kreativitas) menjadi kaku, dan memulai lagi akan terasa berkali-kali lipat lebih berat. Maka, saya memilih untuk tetap melangkah, meski hanya sedikit demi sedikit. Satu paragraf, satu kalimat, bahkan satu kata saja. Lebih baik berjalan pelan dengan napas tersengal-sengal daripada duduk diam dan membiarkan semangat membeku.

Menulis 30 hari ini adalah bukti bahwa kedisiplinan seringkali lebih kuat daripada motivasi. Motivasi bisa hilang saat stamina turun, tapi disiplin, seperti langkah kaki pendaki yang diajak terus bergerak, pelan tapi party.

Saya belum sampai ke puncak, tapi setidaknya saya tidak membiarkan suhu tubuh saya mendingin. Saya masih bergerak.

Mari seruput dulu kopinya.