30 Hari Bercerita #28 Debere & Credere

Jauh sebelum saya mengenal rumitnya dunia birokrasi dan korporasi, perkenalan pertama saya dengan dunia pencatatan dimulai di sebuah tempat yang bagi saya waktu itu terasa magis: Bank. Sebuah Bank Pemerintah yang paling tua dan ada sampai pelosok desa.

Di masa kecil saya, pergi ke bank adalah sebuah peristiwa langka. Saya ingat betul rasanya menggenggam buku Tabanas (Tabungan Pembangunan Nasional) berwarna coklat abu . Masuk ke dalam gedung bank, wangi, rapi —sebuah kemewahan di masa itu—bercampur dengan aroma khas kertas dan uang.

Di balik meja yang tinggi, duduk seorang ibu kasir. Dalam ingatan bocah saya, ia begitu cantik, rapi, dan yang terpenting, ramah luar biasa. Dengan tangan kecil, saya menyodorkan buku Tabanas dan beberapa lembar uang Rupiah hasil menyisihkan jajan.

Ibu kasir itu tersenyum, jemarinya menari lincah di atas mesin tik atau kalkulator besar yang berbunyi cetak-cetok-zreeet. Ia berikan paraf. Kemudian sebuah stempel dibubuhkan dengan mantap. Bum!

Ia mengembalikan buku itu. Mata saya langsung berbinar melihat barisan angka baru tercetak di sana. Dan di sinilah “wangsit” pertama itu terpatri di kepala saya: Setiap kali tabungan saya bertambah, angkanya selalu tercetak di kolom sebelah kanan. Kolom yang berjudul KREDIT.
Bagi saya saat itu, Kredit = Uang Bertambah = Anak Kecil Gembira.

Bertahun-tahun kemudian, logika masa kecil yang indah itu terbentur keras di kelas dua SMA. Guru akuntansi kami, Pak Sembiring, berdiri di depan kelas dan berkata: “Untuk perusahaan, setiap penerimaan Kas (uang masuk), harus dicatat di kolom DEBET.”

Saya kebingungan. Ini jelas bertentangan dengan “logika” yang saya terima dari ibu kasir cantik di bank dulu! Bagaimana mungkin uang masuk dicatat di Debet (kiri)? Bukankah seharusnya di Kredit (kanan)?

Saya mencoba berdebat dengan logika Tabanas saya. Namun, akuntansi sekolah punya aturannya sendiri. Akibatnya, logika keras kepala dan saya gagal memperoleh penjelasan serta rumitnya memahami jurnal akuntansi dan berdampaklah pada angka 6 untuk nilai Akuntansi.

Dibutuhkan waktu hingga saya dewasa, melewati samudera, untuk akhirnya berdamai dengan kebingungan itu. Ternyata, baik ibu kasir maupun Pak Sembiring, keduanya benar. Ini soal di sisi meja mana kita duduk.

  • Di Bank: Saat saya menabung, bagi bank, uang saya adalah Hutang (Liabilitas). Bank berhutang pada saya. Dalam akuntansi, hutang bertambah di posisi Kredit. Itulah mengapa buku Tabanas saya mencatatnya di kanan.
  • Di Perusahaan (Pelajaran SMA): Saat perusahaan menerima uang, uang itu adalah Aset (Harta). Dan aturannya, aset bertambah di posisi Debet.

Setelah memahami sudut pandang ini, barulah saya bisa menyelami filosofi bahasanya yang indah. Akuntansi ternyata adalah seni keseimbangan Double Entry yang berakar dari bahasa Latin:

  • Debet (Debere): Artinya “berhutang” atau “apa yang kita gunakan”. Ini adalah sisi pengorbanan atau ke mana sumber daya mengalir.
  • Kredit (Credere): Artinya “percaya” atau “mempercayakan”. Ini adalah sisi sumber, dari mana nilai itu berasal dan dipercayakan.

Kenapa saya menulis ini, karena saya menemukan buku Tabanas yang ” dijual ” di cafe buku pada cerita soal kartupos sebelumnua. Kini, pada usia 10 (ditambah tiga puluh tiga tahun kenangan), saya tersenyum mengenang ibu kasir yang ramah dan angka 6 di rapor SMA itu. Keduanya adalah bagian penting dari jurnal kehidupan saya.

Saya menyadari bahwa hidup juga berjalan dengan prinsip yang sama:
Semesta “mengkreditkan” (mempercayakan) kebijaksanaan dan kematangan jiwa kepada saya. Sebagai penyeimbangnya, saya harus “mendebet” (mengeluarkan) biaya berupa waktu yang panjang, rambut yang mulai memutih, dan ribuan langkah lelah dari kecil ke bank hingga saya kemana-mana.

Sama halnya dengan Neraca yang harus seimbang. Hidup juga harusnya seimbang. Kita tidak bisa meminta “Kredit” kebijaksanaan yang melimpah tanpa rela “Mendebet” usia, waktu, pengorbanan, dan tenaga untuk menjalaninya.