
Hola. Selomita pagoda.
Pesan tak berjawab kembali mampir di ruang virtual. Orang akan terbiasa dengan notifikasi bahkan sampai tidak memedulikannya. Karena begitu banyaknya kata-kata, yang barangkali sudah kehilangan tenaga.
Maka pagi itu, ketika matahari belum begitu tinggi di seputaran Taman Sari, sebuah bangunan mencolok karena warnanya yang merah, menarik perhatian saya. Saya mendekat. Itu adalah sebuah vihara. Saya teringat, vihara di dekat kosan saya di Bandung, tidak semeriah itu warnanya.
Saya mengambil kamera dan memotret beberapa gambar, terlihat seorang pria di depan gerbangnya. Saya cukup berjarak dengannya, dan ia menunjukkan ekspresi wajah datar sambil mengisap sebatang rokok. Saya membayangkan ia baru saja berdoa disana. Rumah ibadah sejauh yang pernah saya datangi adalah tempat yang hening untuk menyingkir sejenak dari hiruk pikuk kesemrawutan pikiran dan kekuatiran, untuk memberikan keberserahan kepada Sang Pemilik Hidup. Simbol atau gambar atau patung atau apapun itu merupakan sarana untuk berkomunikasi dengan Yang Maha. Saya berefleksi apakah saya dapat berdoa di rumah ibadah yang bukan tempat ibadah kepercayaan saya? Pertanyaan selanjutnya apakah Tuhan hadir berganti agama ketika mendengar doa umatNya?
Pertanyaan selanjutnya adalah apakah kita perlu izin untuk berdoa? Mengingat rumah ibadah harus ada izin dulu dari masyarakat di sekitarnya. “Dilarang berdoa disini karena tidak berizin” adalah sebuah upaya membuat doa menjadi kepatuhan terhadap peraturan.
Jadi, kepada bapak pagi tadi. Itulah doamu. Dalam tarikan sebatang rokok, kau telah berkomunikasi. Asap rokokmu membubung bersama asap dupa mencapai sorga. Dan tak berjawab.
Taman sari, 180123