Berani seperti Bougainvillea

Bougainvillea di Tanah Cadas

Saya  mengenal pohon ini sejak kecil. Ia tumbuh di dekat rumah, meski bukan milik kami. Pohon berduri itu berdiri di tanah yang keras, rasanya jarang disiram. Tidak banyak rumah yang menanam pohon ini. Tapi ia tetap tumbuh. Bahkan berbunga.

Warnanya bunga putih atau merah muda. Kadang dalam satu pohon, muncul dua warna itu. Bunganya tak besar, tak harum, tapi ia hadir dengan cara yang tak bisa diabaikan. Ia tidak meminta perhatian, tapi kehadirannya dirasakan.

Satu hal yang unik dari pohon ini, ia berduri. Duri itu mengajarkan sesuatu: bahwa keindahan tak selalu bisa disentuh tanpa luka. Bahwa dalam hidup, ada hal-hal yang indah tapi perlu kebijaksanaan untuk mendekatinya.

Hidup, kadang seperti tanah berkarang. Keras, kering, dan tak bersahabat. Tak semua orang tumbuh di tanah yang empuk. Tak semua orang lahir dalam pelukan kenyamanan. Tapi seperti Bougainvillea, kita bisa memilih untuk tetap hidup. Untuk tetap berbunga. Meski akar kita harus menembus batu, meski hujan tak selalu datang, meski angin sering kali terlalu kencang.

Dan duri-duri itu? Mungkin itu luka-luka yang kita kumpulkan sepanjang jalan. Luka yang tak membuat kita lemah, tapi justru menjaga kita dari tangan-tangan yang tak tahu cara menyentuh dengan lembut.

Keberanian untuk bertahan hidup bukanlah tentang keras kepala. Ia adalah tentang kesadaran bahwa hidup ini tidak selalu adil, tapi kita tetap memilih untuk berani tetap hadir. Untuk tumbuh. Untuk memberi warna, untuk tetap berbunga. Meski dunia tak selalu ramah.

Selamat menjadi berani.