

Waktu terasa begitu cepat. Rasanya baru kemarin saya duduk di bangku SMA, bercanda dengan teman-teman sekelas, sibuk dengan tugas, dan menanti bel pulang. Tapi hari ini, saya melihat teman-teman seangkatan sudah mulai mengantar anak-anak mereka ke sekolah. Ada yang sudah kuliahkan anaknya. Haha… betapa diberkatinya saya.
Hari ini, saat beberes Google Drive, saya menemukan foto ini—halaman dari buku angkatan. Ini adalah foto teman-teman sekelas waktu kelas tiga SMA dulu. Ada yang gayanya masih polos, ada yang sudah mulai sok dewasa. Lihat gaya-gaya fotonya… cetak, gunting, tempel. Simpel, tapi penuh cerita. Sayangnya gambar saya tidak begitu jelas.
Saya tidak banyak berkomunikasi lagi dengan mereka. Hanya beberapa yang masih sesekali menyapa lewat pesan atau media sosial. Tapi satu hal yang masih saya sesalkan sampai sekarang: saya tidak sempat bertemu Bobby, teman saya, ketika dia sempat ke Jakarta. Padahal kami sempat komunikasi lewat SMS dan Facebook. Ia telah mendahului kami semua. Dalam foto ini, Bobby adalah yang mengenakan celana coklat dan kaos putih. Semoga ia tenang di sana.
Melihat foto ini, saya bersyukur. Setidaknya saya telah melewati masa itu dengan selamat. Kalau ditanya, “Mau balik lagi ke masa SMA?” Jawaban saya: tidak. Sudah cukup. Tapi kalau boleh mengulang, saya ingin lebih banyak jalan-jalan dan membaca buku. Siapa tahu, saya bisa sekolah ke luar negeri. Hahaha… mimpi yang datangnya belakangan. Tetapi untuk anak saya kelak, saya akan berpesan belajar sebaik-baiknya, terlibatlah dalam setiap kegiatan sekolah: olahraga, naik gunung, ikut kegiatan seni dan sebagainya. Perhaluslah budi, tambahkan kepekaan. Karena itu sangat-sangat berguna, dan itu tidak saya lakoni ketika SMA dulu.
Sekolah Kehidupan
Waktu terus bergulir. Perjalanan hidup yang panjang akhirnya mengajarkan saya tentang sekolah kehidupan yang sesungguhnya. Bahwa mimpi-mimpi pun tak harus tercapai untuk membuat hidup bermakna. Seperti kata Søren Kierkegaard, “Life can only be understood backwards; but it must be lived forwards.” Kita baru memahami makna dari masa lalu ketika kita sudah berjalan cukup jauh ke depan.
Betapa dunia berbalik. Dulu saya adalah anak sekolah, yang mungkin tak tahu apa-apa tentang kekhawatiran orang tua. Tapi sekarang, saya (seharusnya) telah menjadi orang tua—yang mungkin sama kuatirnya tentang anak-anaknya, tentang masa depan, tentang dunia yang terus berubah.
SMA dan kisahnya menjadi jembatan hidup selanjutnya—tempat saya belajar, tertawa, kecewa, dan tumbuh. Ia bukan sekadar masa lalu, tapi fondasi dari siapa saya hari ini.
Dan kini, saya menyadari: sekolah kehidupan tak pernah berhenti. Iaemberi kebijaksanaan, pelajaran merenung dan berefleksi tentang masa lalu untuk menghadapi masa depan. Kadang timbul takut, kuatir, gentar. Namun sekolah kehidupan tidak terikat pada waktu, ijazah kelulusan. Ia terus berjalan, menguji, mengasah, dan kadang menghibur dengan kenangan lama yang muncul tiba-tiba dari folder foto.
Selamat berjumpa lagi, kawan-kawan. Dalam foto, dalam ingatan, dan mungkin suatu hari nanti… dalam pertemuan yang nyata.



