Ada masa ketika dulu saya sering memotret suasana kemacetan maupun suasana malam Jakarta dari balik kaca gedung tinggi ataupun di jembatan penyeberangan, sewaktu saya masih bekerja di kawasan Kuningan. Biasanya itu terjadi saat lembur—ketika jam sudah melampaui angka delapan, dan arus kendaraan di Rasuna Said berubah menjadi lautan merah dari lampu rem yang tak berujung. Di sela rasa lelah, saya menemukan semacam keindahan dari hiruk-pikuk itu: pantulan cahaya kendaraan, siluet pejalan kaki, dan deru kota yang seperti tidak pernah tidur. Kamera saya jadi saksi, bukan hanya tentang macetnya ibukota, tapi tentang diam-diamnya momen yang membuat saya merasa hidup.
Sekarang, saya bekerja di tempat yang sangat berbeda. Kantornya modern, tapi tanpa jendela di dekat saya. Dindingnya tertutup rapat dari pandangan luar, saya tidak dapat melihat keluar dengan leluasa. Tidak ada cahaya alami, tidak ada pemandangan, hanya suara pendingin ruangan yang terus berdengung, serta keriuhan ruangan seperti suara printer atau sorakan selamat ulang tahun kepada rekan rekan yang dirayakan.
Kadang saya berpikir, betapa mahalnya harga sepotong pemandangan langit. Di luar pun tak banyak membantu, area istirahat penuh asap rokok, membuat saya memilih untuk kembali ke dalam ruangan yang dingin dan steril. Paling banter, sayannaik ke lantai dua stasiun melihat sunsetamun itu juga terhalang gedung . Hanya semburat-semburatnya saja. Lama-lama, saya sadar, saya butuh ruang jeda. Ruang untuk merilis kesumpekan, ruang untuk berkreasi, bukan sekadar untuk bekerja.
Beberapa waktu lalu, tanpa sengaja, saya menemukan tempat itu, diajak oleh adik dan saudara saya —Transit Hub Dukuh Atas. Saya datang bukan untuk menunggu kereta, karena memang tak ada kereta yang lewat di sana, tapi untuk menunggu diri saya sendiri yang tertinggal di antara rutinitas. Dari bangku beton di tepi jalur, saya bisa melihat lampu kendaraan yang mulai berpendar, gedung-gedung perlahan berganti warna memjadi berpendar lampu bercahaya. Angin sore membawa aroma kota, campuran asap dan raungan kendaraan,.sesekali terdengar gemuruh KRL. Orang-orang datang silih berganti: beberapa berfoto, ada yange ngobrol beberapa hanya duduk diam seperti saya, menikmati waktu yang tak perlu dikejar.
Saya belum pernah benar-benar melihat matahari tenggelam dari sana, tapi saya tahu, sunset di Transit Hub pasti indah. Ada sesuatu yang magis dari cara cahaya terakhir hari membelai gedung-gedung tinggi Jakarta, seolah mengingatkan bahwa bahkan kota sepadat ini pun punya momen tenangnya sendiri.
Di tempat itu, saya belajar lagi tentang pentingnya meluangkan waktu untuk pause—untuk istirahat, kontemplasi, dan menulis. Saya merekam dalam hati hal-hal yang saya rasakan, sekecil apa pun. Kadang hanya satu kalimat: “Hari ini, aku belajar diam.” Tapi dari situ, pelan-pelan pikiran yang kusut mulai terurai.
Transit Hub Dukuh Atas mungkin terlihat biasa di mata orang lain, tapi bagi saya, itu lebih dari sekadar tempat duduk. Ia adalah hiding place, tempat aman bagi jiwa untuk menenangkan diri, tempat di mana saya bisa mengingat kembali siapa saya di tengah bisingnya dunia. Rasanya perlu meletakkan hp, laptop, dan merasakan waktu melambat.


Tampaknya kita semua butuh ruang seperti itu. Tidak harus jauh, tidak harus mewah. Asal bisa membuat kita berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam, dan merasa utuh kembali. Dan siap menghadapi kembali kerasnya dunia.
Bagaimana dengan kamu, apa hiding place versi kamu?