Bur Telege — Di Antara Gunung dan Telaga, Saya Menemukan Rumah


Ada tempat yang mungkin tidak tercantum dalam daftar destinasi wisata dunia, tapi selalu tercantum di hati saya: Bur Telege.
Dalam bahasa Gayo, bur berarti gunung; Telege mungkin berasal dari kata telaga. Nama yang sederhana, namun menyimpan lanskap yang tidak sederhana — perpaduan gunung, udara sejuk, dan Danau Laut Tawar yang membentang seperti kaca raksasa menampung langit.

Yang menarik, Bur Telege bukanlah tempat wisata sejak dulu. Lokasinya sudah ada sejak lama, tapi tidak dikelola seperti sekarang. Dahulu semua orang tahu tempatnya indah, tapi belum ada fasilitas, belum ada sudut-sudut foto, belum ada jalur yang dibentuk khusus untuk menikmati panorama. Alamnya indah, tapi seperti dibiarkan menjadi rahasia.

Baru sekitar 8 sampai 10 tahun terakhir, Bur Telege mulai dibangun dan dikelola dengan baik. Masyarakat mulai sadar menghargai alam. Ada gazebo, ada titik pandang, bahkan hotel menghadap Danau Laut Tawar — bayangkan bangun pagi, menarik napas pertama, lalu langsung disambut siluet gunung dan riak air danau.

Dua Kunjungan, Dua Cerita

Saya pertama kali ke Bur Telege pada tahun 2017. Saat itu sedang tugas audit di Medan, lalu memutuskan untuk memanfaatkan akhir pekan: Sabtu–Minggu pulang ke Takengon.
Perjalanan singkat, tapi hati penuh. Saat menatap Danau Laut Tawar dari ketinggian, saya seperti diingatkan,

“Ada bagian dari hidupmu yang selalu menunggu untuk pulang.”

Kunjungan kedua datang pada tahun 2023. Kali ini berbeda — kami pulang ramai-ramai, bersama seluruh keponakan. Suasana jadi lebih riuh, lebih penuh tawa, tapi rasa hangatnya sama. Tempat yang sama, tapi memberikan kebahagiaan dengan cara berbeda. Begitulah rumah bekerja.

Apakah semuanya masih indah sekarang?
Saya tidak tahu. Saya menulis ini untuk menjadi pengingat, bahwa saya pernah kesana, dan kini saya tidak tahu kondisinya sama sekali, sama halnya saya sudah kehilangan kontak komunikasi dengan orang tua dan keluarga di sana sekarang ini. Betul-betul luluh lantak Takengon.

Saya Anak Gunung

Di sini saya sadar satu hal tentang diri saya:
Saya anak gunung.
Saya lebih betah dengan udara dingin yang menggigit pelan, kabut pagi yang turun seperti selimut, dan angin yang membawa suara-suara alam. Mungkin karena dari sinilah saya berasal, dari kota kecil yang terletak di ketinggian, di tengah Tanoh Gayo.

Dan setiap kali saya kembali, selalu ada bisikan halus dalam hati:

“Semoga lekas pulihlah Tanoh Gayoku — tumpah darah dan air mataku.”

Sampai kapan pun, Bur Telege akan terus menjadi pengingat bahwa pulang tidak selalu tentang waktu…
kadang hanya tentang tempat yang berhasil mengembalikan siapa diri kita sebenarnya.