Damai BersamaMu: Sebuah Refleksi

Berjumpa lagi dalam ruang maya
kini memasuki bulan puasa

Tak kuasa juga saya menahan haru, tatkala menyaksikan ruang yang kosong. Salah satu sudutnya adalah meja saya yang menjadi saksi tempat berkumpul saya dan teman-teman untuk melakukan ritual sebelum bekerja: Ngopi.

Menggiling kopi yang dibawa bergantian saya, Bisma, dan Om Taofik. Memfilter kopinya, lalu membaginya ke cawan masing-masing, menyesapnya sembari menertawakan hal-hal remeh -namun sekarang mahal-.

Sekarang kami berjumpa dalam layar kaca 360×640 atau 1024 x 760 secara dua dimensi. Dimanakah realitas dunia sesungguhnya, karena kita telah akrab dengan realitas pada gawai. Pertanyaannnya, apakah tercipta kedamaian berdasarkan jarak? suatu telaahan boleh terlahir dari sini.

Dalam proyek kolaborasi ini, kembali menyiarkan kerinduan akan kedamaian. Tidak rusuh, tidak ada berita duka. Namun begitulah kehidupan. Kehidupanpun seperti piano, kata orang bijak. Manakala kita mainkan tuts putih, mengingatkan kita pada kenangan manis, kenangan indah. Ketika kita mainkan tuts hitam, mengingatkan kita pada kenangan sedih, kenangan akan kecemasan dan kekuatiran. Namun bermain tuts putih dan tuts hitam menghasilkan musik yang indah. Nada-nada minorpun menjadikan lagu indah, sendu, haru. Nada mayor menggambarkan optimisme, semangat, antusiasme. Bukankah hidup juga berjalan seperti itu?

Damai bersamaMu. Akhirnya kita sadar pada siapa kita berlabuh. Di tengah dunia yang hiper-realis saat ini, kita sulit membedakan mana yang palsu mana yang tulus. Dalam kondisi sebelum pandemik ini saja sulit membedakannya, apalagi situasi sekarang ini. Bagaimana kita mengetahui ketulusan seseorang dari fotonya, suara, teks, dalam ruang-ruang virtual. Bagaimana cara kita mengetahui kedewasaan dan empati dari sekedar teks? entahkah teks itu asli atau salinan dari tempat yang entah berantah.

Namun lirik lagu ini mengajar optimisme, bahwa ada tempat bersandar di kala lelah. Ada tempat persembunyian dari hiruk-pikuk urusan dunia. Lewat lagu, menjadi duta damai.

Proses pembuatan videoklip ini sangat luarbiasa, proyek kolaborasi yang berjarak sosial. Terhubung dengan media percakapan, ide Pak Karim dan diaransemen oleh Pak Budiman dan disunting oleh Megi. Sungguh sebuah karya yang tidak hanya kata. Terima kasih teman-teman: Rida, Billy, Dini, Monica, Rano, Daniel, Ari, Adin, Om Taofik, Itep, Rizky, Alwy, Lae Angga, Agung, Yansen, Irfan, dan Mega. Pembuatan video ini mengajarkan saya banyak hal, termasuk patuh pada aturan nada dasar, supaya tak menjadi lagu sumbang. Selamat menikmati, semoga terhibur. Selamat memasuki bulan suci Ramadan.

Pax vobiscum

HWS23042020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *