Awal September. Jatuh di hari Jumat. Tugas-tugas saya kerjakan seperti biasa, tetapi ada dua hal yang membuat saya cukup menyadari, untuk apa saya ada.
Pertama, saya belajar bagaimana memaknai seperti apa waktu yang tepat. saya menunggu waktu cukup lama tentang berhasilnya suatu agenda. Kadangkala menunggu, adalah sebuah cara untuk melatih ketahanan dan ketabahan. Bahwa isu perlu adanya sekretaris Komisaris dan perlunya Komite Audit, sudah saya gaungkan sejak lama. Apa yang saya lakukan saat itu adalah terus menerus menarasikan hal itu, baik secara informal maupun secara formal. Sesungguhnya hal-hal seperti itu, tidaklah menyenangkan. Saya pernah juga berhadapan dengan situasi tidak mengenakkan ketika menyarankan seseorang untuk hidup sehat dan berolahraga. Tetapi saya belajar, dalam hal-hal kecil, yang terpenting adalah tidak menyepelekannya. Meski kadang saya sendiri lengah untuk hal itu.
Kedua, menaklukkan diri sendiri adalah pertarungan yang hebat. Pada Jumat malam, ketika saya tiba-tiba memutuskan untuk ke Taman Ismail Marzuki, sekedar untuk melihat seperti apa Pesta Literasi yang sudah bergaung beritanya di medsos maupun grup percakapan pembaca. Sesungguhnya, saya nyaris tidak pergi, karena badan saya sudah letih, dan saya merasa exhaust, life drain. Tetapi saya berpikir, dan hal hal ini sering mengubah keputusan saya tentang penting dan berharganya sebuah momen. Yakni: apakah itu hal baru? Akankah ia akan berulang? Akankah saya dapatkan pelajaran baru? Apakah saya berani melawan keengganan?
Maka demi menjawab hal itu, saya memutuskan kembali berjalan dari Gondangdia menuju Taman Ismail Marzuki. Ternyata jalan malam di pedestriannya sangat menyenangkan. Tak kalah dengan jalan Braga Bandung di kala malam. Saya merasa terhibur malam itu, dan akhirnya saya menyadari saya belum makan malam.
Seorang sahabat memberi nasihat saya: Remember, maintaining a healthy lifestyle is a lifelong journey, and small steps taken toward better health every day can make a big difference over time.
Sungguh menohok sekali. Karena saya tidak pernah diberikan teks sampai sedetail itu.
Dan akhirnya saya merenungkan pesan itu sambil memilih gambar yang cocok buat postingan ini.



Saya pulang, dan kembali menggumulkan untuk apa saya hidup, bagaimana saya mengenal hidup, dan berjalan dengan berani. Terima kasih kepada sahabat dan perjalanan, yang telah peduli kepada saya.
Tuhan memberkati.
Jakarta 1 September 2023
Helv.