Rabu 30 S

Progress

Yang kita lakukan ini sudah luar biasa. Programnya sudah berjalan.

jalan di tempat.

Suasana

Baik. Setelah saya melihat suasana, saya memutuskan untuk tidak masuk besok!

Mohon pertimbangan dengan suasini.

Zoom

Apakah kamu pernah mengalami kata sandi tidak bisa dimasukkan ke dalam aplikasi?

coba kata hati.

Cap cay

cap cay kuah satu! pedas!

makan sini?

makan sini!

kirain makan cap cay.

Pekerja

karena sesungguhnya tiada pekerjaan yang benar-benar selesai, karena itu memutuskan beristirahat lebih baik alih-alih berdalih menyelesaikan pekerjaan.

Nak, ingatlah. Milikilah semangat. Itulah yang membuatmu hidup. Milikilah harapan, itulah yang membuatmu semangat. Hidup itu bekerja. tak usah lagi kau termakan kata-kata orang pintar, ingatlah apa kata Rumi, bahwa antara kau dan segalanya ada jembatan yang dinamakan cinta. Hiduplah dengan cinta.

Jalan sekarang masih panjang, tetapi masa semakin sulit. Kita bertarung setiap hari dalam kesunyian. Sesungguhnya saat ini hanyalah bertahan. Pertahanan yang baik adalah bertahan. Tetapi, jangan padamkan api cinta. Ingatlah kebaikanNya dalam perjalanan sunyimu.

Syukur atas kecukupan dan kasihMu penuh. Syukur atas pekerjaan walau tubuhpun lemban. Syukur atas awan hitam dan mentari berseri. Syukur atas suka duka yang Kau beri tiap saat.

Sianjur mula mula

Sekali waktu saya pernah melewati Sianjur Mula-mula-tempat kelahiran penyair Sitor Situmorang-. Pemandangan dari arah Tele menuju Samosir sangat indah. Konon, katanya Debata Mulajadi Nabolon (Dewanya suku Batak) menurunkan anaknya, boru Deak Parujar dari kayangan ke Pusuk Buhit, lereng Desa Sianjur mula-mula. Kebenarannya, tidak ada yang tahu. Namanya juga mitos.

Belakangan saya baru tahu, Sitor situmorang dari sana ketika berita tentang pemakamannya diceritakan oleh JJ Rizal di twitternya. Karangan Sitor yang saya tahu adalah kumpulan puisi Ibu pergi ke surga, yang bukunya entah kemana sekarang. Satu terjemahan beliau yang belum sempat saya review adalah Mitos dari Lebak yang menggugat kebenaran kisah Max Havelaarnya Multatuli di Rangkasbitung.

Lalu apa kaitannya? dengan cerita awal?

sekedar menyambung saja, bahwa saya masih ada hubungan kewilayahan dengan Sianjur mula-mula, dari garis ibu.

Ia lahir di sana, dan hari ini berulang tahun.

Tirtosari

Sekelebat hadir lagi album kenangan setelah habis hujan. Bahwa bahagia itu sederhana sesungguhnya tidak ada. Ia bercampur dalam lautan perasaan yang luas, tak terikat pada definisi.

Waktu merayap lambat pada lantai dingin ruang itu. Setiap gerak pintu dan suara seperti lonceng penghenti detak jantung. Malam-malam lebih panjang dari biasanya. Setiap celah waktu adalah satu kesempatan. Sampai waktunya tiba: selamat berkumpul.

Sebuah lembar pengingat menawarkan tamasya ke masa lalu;

Padahal, paginya ada lautan air mata.

Medan, September 2018.

Tanpa judul

Berkali-kali mimpi itu datang, tentang kuatir yang tak perlu. Namun siapa yang menyambut sadar ketika lamunan adalah tamasya ke tempat-tempat imaji terbaik.

Adalah sebuah realitas yang diiringi dengan kesadaran dan kebijaksanaan memberitahukan tentang pertarungan setiap hari.

Berita tentang kenaikan positif covid semakin positif. Normal baru bak menerima kenyataan tiap hari normal dengan kenaikan rekor baru. Setiap hari para tenaga kesehatan harus bertaruh nyawa, tanpa kenal weefha. Demikian juga orang2 yang harus bekerja, memutar akal untuk bertahan hidup.

Sebelum serbuan surat-surat elektronik atau panggilan dadakan menerpa pagi, sebuah pemandangan sejuk mencuri perhatian saya. Sebelum pulang, saya simpan. Buat dijadikan album kenangan.

Pakai maskermu, kawan. Kita bertarung dalam sunyi.