Konon, teknologi diciptakan untuk mendekatkan manusia.
Karena itu, agar dapat bertemu dengan seseorang yang benar-benar berbeda, pertama-tama kita diminta menentukan rentang usia, radius, agama, pendidikan, tinggi badan, hobi, zodiak, selera musik, kebiasaan olahraga, dan preferensi terhadap bubur yang diaduk atau tidak.
Perbedaan rupanya harus melewati proses penyortiran terlebih dahulu.
Dating app lalu memperkenalkan kita kepada the Other. Bukan the Other yang asing, mengejutkan, dan mampu mematahkan ego, tentu saja. Itu terlalu berisiko bagi pengalaman penggunanya. Yang diperkenalkan adalah the Other yang sudah lolos algoritma, tinggal dekat, menyukai kopi, memiliki tiga foto di gunung, dan menulis:
“Suka obrolan mendalam, tetapi jangan mulai dengan ‘lagi apa?’
Di sana, keotentikan disusun dengan sangat teliti.
Pengguna app menuliskan bahwa dirinya spontan, lalu menghabiskan berjam-jam memilih foto yang terlihat spontan. Ia mengaku tidak suka pencitraan, tepat di bawah foto yang telah melewati hasil sortiran. Ia mencari hubungan yang mengalir, tetapi hanya dengan kandidat yang telah lulus proses visualisasi.
Kemudian aplikasi menemukan bahwa kami sama-sama menyukai hujan, buku, dan lagu-lagu lama.
Saya pun seperti, oh ada ya??.
Akhirnya, setelah sekian lama hidup di dunia yang luas dan rumit, saya bertemu seseorang yang juga pernah kehujanan, pernah membaca buku, dan pernah kesasar.
Katanya, ini sebuah kecocokan.
Kadang memang terasa benar. Kadang hanya halusinasi yang sudah diberi antarmuka menarik dan cerita-cerita halu.
Pengguna menganggap kecocokan itu sebagai takdir. Aplikasi menyebutnya engagement. Investor menyebutnya pertumbuhan. Algoritma tidak menyebutnya apa-apa karena ia sedang sibuk menghitung berapa lama kami menatap profil seseorang sebelum menggesernya ke kiri.
Di sinilah cinta modern mencapai efisiensinya.
Kita tidak lagi perlu mengalami orang lain sebagai misteri. Kita cukup membaca bio sepanjang tiga kalimat, melihat zodiaknya, cek medsos, lalu menyimpulkan seluruh struktur kepribadiannya.
Perjumpaan tidak lagi dimulai dengan rasa ingin tahu, tetapi dengan memeriksa terhadap preferensi.
Dan mungkin itulah sebabnya aplikasi tersebut tidak pernah benar-benar gagal. Kalau kita menemukan pasangan, ia berhasil mempertemukan manusia. Kalau kita tidak menemukan pasangan, ia berhasil mempertahankan pengguna untuk dipadupadankan dengan seenaknya.
Saya sempat curiga bahwa sikap sinis ini muncul hanya karena saya tidak mendapat match.
Namun, setelah dipikir-pikir, saya sebenarnya sudah bertemu dengan the Other.
Seseorang yang tidak sepenuhnya dapat saya pahami. Tidak bisa saya atur. Tidak tunduk pada harapan saya. Kehadirannya mematahkan ego dan mengingatkan bahwa dunia tidak dibangun semata-mata untuk memenuhi keinginan saya.
Sayangnya, melankolia saya sederhana:
Saya berhasil bertemu dengannya, tetapi hanya sampai pada tahap bertemu.
Barangkali di situlah cinta menjadi otentik. Bukan ketika orang lain berhasil kita miliki, melainkan ketika kita dipaksa menerima bahwa ia adalah manusia, bukan hadiah loyalitas setelah sekian lama menggunakan aplikasi.
Dating app berjanji membantu kita menemukan the Other.
Tetapi ketika the Other itu akhirnya datang dengan kehendaknya sendiri, kita kecewa karena ternyata ia tidak dapat digeser ke kanan, disimpan dalam favorit, atau diperpanjang masa berlakunya.
Ternyata perbedaan memang mematahkan ego.
Masalahnya, ego saya mengira setelah patah akan mendapatkan kompensasi.
Ternyata ya, hidup siklusnya gitu gitu aja.
HAHAHAHA.

*) Tulisan terinspirasi Buku The Agony of Eros, oleh Byung-Chul Han, filsuf dan teoritikus budaya kelahiran Korea Selatan