Oktober selalu datang dengan kalender yang penuh kemeriahan peringatan.
Kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Kita merayakan hari lahir TNI. Kita mengenang Sumpah Pemuda. Spanduk dipasang, pidato disampaikan, lalu kita pulang dengan perasaan telah menjadi bangsa yang cukup baik karena berhasil mengingat tanggal-tanggal penting dan mengunggahnya ke medsos, seolah kita ikut memahami apa maknanya.
Barangkali memang demikian cara kita mencintai negeri ini: dengan upacara.
Nietzsche pernah mencurigai manusia yang terlalu gemar memuja simbol tetapi enggan menghadapi kenyataan. Sebab simbol itu nyaman. Ia tidak meminta banyak hal. Ia hanya meminta kita berdiri tegak beberapa menit, mengucapkan beberapa kalimat, mendengarkan pidato, lalu merasa telah memenuhi kewajiban sebagai warga negara.
Padahal di luar sana, hutan masih terbakar.
Masih ada orang yang setiap pagi membuka aplikasi pencari dan magang kerja lebih sering daripada membuka media sosial. Masih ada keluarga yang menghitung ulang biaya sekolah, biaya kesehatan, biaya hidup, dan bertanya dalam hati: masih cukupkah biaya untuk liburan?
Masih ada sungai yang kotor, udara yang sesak, dan lingkungan yang perlahan rusak sambil kita sibuk berdebat tentang siapa yang paling nasionalis dan setia pada konstitusi.
Kadang saya bertanya, setelah semua peringatan itu selesai, siapa sebenarnya yang peduli?
Lalu saya merasa pesimis.
Namun entah mengapa, pesimisme itu tidak pernah benar-benar bertahan lama.
Mungkin karena bangsa ini memang unik.
Terlalu banyak alasan untuk menyerah, tetapi selalu ada alasan kecil yang membuat kita bertahan.
Pagi ini, di penghujung Oktober, dalam perjalanan pulang dengan kereta api, saya mencoba mengumpulkan alasan-alasan kecil itu. Di beberapa stasiun yang saya amati, suasana terlihat sepi. Tetapi kemudian saya sadar, sepi bukan berarti mati. Kadang sesuatu hanya sedang beristirahat sebelum kembali bergerak.


Udara terasa lebih bersih setelah hujan turun. Jakarta yang biasanya penuh debu dan tergesa-gesa mendadak menjadi sedikit lebih ramah. Tidak banyak, tetapi cukup untuk membuat napas terasa lebih panjang.
Lalu ketika kereta tiba di Harjamukti, samar-samar terlihat Gunung Salak di kejauhan.


Bukan pemandangan yang spektakuler. Hanya siluet tipis di balik kabut.
Tetapi justru karena itu ia terasa penting.
Gunung Salak tidak muncul karena sedang ingin diperlihatkan. Ia hanya terlihat karena udara hari itu cukup bersih untuk membiarkannya hadir.
Mungkin harapan juga seperti itu.
Harapan bukan pidato yang keras. Bukan slogan yang dicetak besar-besar. Bukan pula optimisme kosong yang menolak melihat masalah.
Harapan adalah kemampuan untuk tetap melihat gunung di tengah kabut.
Kita tahu karhutla masih ada. Kita tahu biaya hidup tidak sedang baik-baik saja. Kita tahu lingkungan menghadapi tekanan yang nyata. Kita tahu masih banyak hal yang jauh dari selesai.
Tetapi kita juga tahu bahwa bangsa ini masih memiliki sesuatu yang belum habis: orang-orang yang tetap bekerja, tetap belajar, tetap menolong, tetap bermimpi, dan tetap percaya bahwa Indonesia layak diperjuangkan.
Barangkali itulah makna terdalam Sumpah Pemuda yang sering kita romantiskan.
Bukan sekadar bersatu dalam bahasa, tanah air dan bangsa. Melainkan tetap memilih menjadi satu bahkan ketika keadaan tidak sedang mudah.
Nietzsche pernah berkata bahwa seseorang yang memiliki alasan untuk hidup akan sanggup menghadapi hampir segala cara hidup.
Maka mungkin tugas kita hari ini bukan berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Tugas kita adalah menjaga alasan itu tetap ada.
Sedikit naif, mungkin.
Sedikit terlalu berharap, bisa jadi.
Tetapi hidup memang terus berjalan. Kereta tetap berangkat. Hujan tetap turun. Gunung tetap berdiri di kejauhan.
Dan Indonesia, dengan segala kekacauannya, masih bergerak ke depan. Sedikit demi sedikit. Seperti kereta yang melaju menembus kabut pagi, tanpa pernah benar-benar tahu seperti apa cuaca di depan sana, namun tetap memilih untuk tetap berangkat.
Selamat tinggal Oktober, selamat datang November.
Jayalah Indonesia