Semua ini bermula dari sebuah unggahan di IG saya.
“Saya bilang, mungkin kita menyukai miniatur karena kita suka mengatur sesuatu yang mini”. Ada yang menanggapi secara pribadi, mungkin merasa seperti halnya kita berhak mengatur orang kecil.
Padahal maksud saya bukan itu.
Sesuatu yang kecil, yang dapat diletakkan, dipindahkan, dibongkar, lalu disusun kembali sesuai keinginan.
- Kereta harus berhenti di stasiun.
- Lokomotif harus menghadap ke depan.
- Pohon ditempatkan di sebelah rumah.
- Orang-orang kecil berdiri di peron, menunggu kereta kecil yang hampir selalu datang tepat waktu.
- Tidak ada penumpang yang marah.
- Tidak ada masinis yang terlambat.
- Tidak ada gangguan perjalanan.
Kalaupun ada yang tidak sesuai, tinggal kita ambil dengan dua jari, lalu kita letakkan kembali pada tempat yang dianggap benar.
Miniatur menyenangkan karena hidup tidak sekecil itu.
Hidup nyata terlalu besar. Terlalu ramai. Terlalu banyak variabel yang tidak mau tunduk pada Hari ini kita membuat agenda, besok kenyataan datang sambil berkata, “Oh bagus .”
Hidup bergerak dar der dor. Hampir tidak terprediksi.
Baru saja kita merasa memahami keadaan, keadaan sudah berubah bentuk. Baru saja mencoba mengendalikan sesuatu, sesuatu yang lain mendadak muncul dan merebut perhatian. Belum selesai satu perkara, perkara berikutnya sudah mengirim undangan rapat.
Barangkali karena itu kita menyukai miniatur.
Di dalam dunia yang mini, kita menjadi semacam Tuhan kecil. Kita menentukan letak, arah, proporsi, dan cerita. Tidak ada yang benar-benar dapat menolak keputusan kita.
Sayangnya, dalam kehidupan nyata, kita bukan Tuhan.
Diri yang Disusun Sedikit demi Sedikit
Dari miniatur, pikiran saya bergerak kepada identitas.
Bukankah identitas juga semacam susunan kecil tentang diri kita?
Kita menyebut diri dengan beberapa kata agar kerumitan hidup terasa lebih mudah dijelaskan.
Saya laki-laki.
Saya pekerja.
Saya berasal dari keluarga tertentu.
Saya memiliki pendidikan tertentu.
Saya bekerja di bidang tertentu.
Saya menyukai hal tertentu.
Saya tidak suka dianggap sebagai orang tertentu.
Semua itu benar, tetapi tidak pernah sepenuhnya lengkap.
Identitas seperti miniatur. Ia menyederhanakan sesuatu yang sebenarnya jauh lebih besar. Ia membantu kita menjelaskan diri tanpa harus membawa seluruh riwayat kehidupan setiap kali berkenalan dengan orang baru.
Bayangkan jika setiap pertanyaan “Anda siapa?” harus dijawab dengan seluruh luka, kegagalan, keinginan, ketakutan, bacaan, percakapan, dan keputusan yang membuat kita menjadi diri kita sekarang.
Tidak akan efisien.
Kita mungkin langsung diminta membuat versi satu halaman.
Maka kita menyederhanakan diri.
Namun, identitas bukan hanya sesuatu yang kita susun sendiri. Banyak tangan ikut menyusunnya.
Keluarga menempatkan fondasi pertama. Kadang berupa nilai-nilai baik, kadang berupa kecemasan yang diwariskan secara turun-temurun tanpa dokumen serah terima.
Pendidikan mengajarkan cara berpikir. Sekolah juga memberi tahu bahwa jawaban yang benar biasanya sudah tersedia dan tugas kita adalah menemukannya. Sayangnya, setelah dewasa, kita baru mengetahui bahwa banyak pertanyaan penting justru tidak memiliki pilihan ganda.
Budaya mengajari kita apa yang pantas diperjuangkan dan apa yang sebaiknya disembunyikan.
Pergaulan mengajarkan cara berbicara, tertawa, menempatkan diri, dan berpura-pura santai ketika sebenarnya kita sedang membandingkan hidup sendiri dengan hidup orang lain.
Buku memberi bahasa kepada sesuatu yang sebelumnya hanya terasa sebagai kegelisahan. Kadang kita membaca satu kalimat, lalu mendadak merasa seseorang yang hidup ratusan tahun lalu ternyata lebih memahami kita dibandingkan orang-orang yang bertemu kita setiap hari.
Kemudian datang media sosial.
Media sosial membantu kita menemukan identitas yang lebih praktis. Tinggal pilih apa yang ingin ditampilkan.
Sedang bahagia, unggah.
Sedang bekerja keras, unggah.
Sedang membaca buku, unggah sampulnya.
Sedang berlibur, unggah pemandangannya.
Sedang merenung, pilih foto yang cukup gelap, lalu tambahkan tulisan putih.
Kita tidak benar-benar berbohong. Kita hanya melakukan kurasi.
Kurasi terdengar jauh lebih dewasa dibandingkan “memilih bagian yang ingin dilihat orang”.
Lama-lama, kita sendiri ikut melihat diri melalui apa yang kita tampilkan. Kita merasa sedang mengekspresikan identitas, padahal mungkin sedang menyusun etalase.
Algoritma kemudian mengenali kita.
Atau, setidaknya, ia mengenali apa yang membuat kita berhenti menggulir layar selama tiga detik lebih lama.
Dari sana, ia menyimpulkan apa yang kita sukai, apa yang kita takuti, apa yang perlu kita beli, dan identitas seperti apa yang mungkin cocok untuk kita coba minggu depan.
Cukup efisien.
Kita bahkan tidak perlu terlalu repot memilih diri sendiri.
Budaya Korporasi dan Korporasi yang Merasa Berbudaya
Dahulu, kita mengenal istilah budaya korporasi.
Sekarang, kadang yang terjadi justru sebaliknya. Bukan budaya yang membentuk korporasi, tetapi korporasi yang menyatakan dirinya memiliki budaya paling baik.
Budayanya lebih unggul.
Sistemnya lebih mapan.
Nilainya lebih kuat.
Orangnya lebih adaptif.
Lingkungannya lebih kolaboratif.
Perusahaannya lebih manusiawi.
Semua itu biasanya tertulis rapi di dinding, layar pembuka komputer, dan materi orientasi pegawai baru. Masalahnya, tulisan di dinding kadang memiliki pengalaman kerja yang lebih baik daripada orang yang membacanya. Integritas tertulis besar, tetapi keputusan tetap menunggu siapa yang berbicara.
Kolaborasi dicetak warna-warni, tetapi setiap unit menjaga datanya seperti rahasia keluarga. Inovasi diumumkan, tetapi ide baru harus melalui tujuh meja untuk memastikan bahwa ia tidak terlalu baru. Kepedulian menjadi nilai utama, selama tidak mengganggu target. Keberlanjutan dibicarakan, selama hitungannya tidak membuat investasi terlihat terlalu lama kembali.
Manusia disebut aset paling berharga. Namun, ketika laporan keuangan memburuk, aset paling berharga itu biasanya menjadi salah biaya pertama yang dihitung ulang.
Tentu saja, ini bukan kemunafikan.
Kita menyebutnya: alignment.
Korporasi Merasa Paling Tahu tentang Kita
Setelah bekerja cukup lama, organisasi mulai merasa mengenal kita.
Ia memiliki data kinerja kita.
Ia memiliki hasil asesmen kita.
Ia mengetahui kompetensi, potensi, kelemahan, kekuatan, dan kemungkinan promosi kita.
Ia mengetahui kapan kita masuk, kapan kita pulang, berapa target yang tercapai, berapa pelatihan yang diikuti, dan berapa persen perilaku kita dianggap sesuai dengan nilai perusahaan.
Data tersebut kemudian disusun menjadi sebuah miniatur tentang diri kita.
Miniatur itu diberi nama profil pegawai.
Diletakkan dalam matriks.
Diberi warna.
Lalu dibahas oleh orang-orang yang mungkin mengenal angka kita lebih baik daripada mengenal kehidupan kita.
Yang berbahaya bukan ketika organisasi mengukur manusia. Pengukuran memang diperlukan.
Yang berbahaya adalah ketika organisasi mengira hasil pengukurannya telah selesai menjelaskan manusia.
Manusia yang tidak cocok dengan kategori sistem dianggap belum berkembang. Jarang sekali sistem mempertimbangkan kemungkinan bahwa kategorinyalah yang terlalu sempit.
Keunikan memang sering disebut penting. Namun, biasanya keunikan dihargai sepanjang membantu organisasi mencapai target.
Kreatif, asal tidak terlalu berbeda.
Kritis, asal tidak terlalu sering.
Berani, asal sudah mendapatkan persetujuan.
Otentik, asal tetap sesuai panduan perilaku.
Korporasi menyukai keunikan sebagaimana taman kota menyukai pohon. Silakan tumbuh, asalkan tetap berada di kotak yang telah disediakan dan tidak merusak trotoar.
Masuklah Sartre
Di titik ini, saya teringat Sartre.
Bagi Sartre, eksistensi mendahului esensi. Manusia hadir terlebih dahulu, kemudian membentuk dirinya melalui pilihan dan tindakan.
Kita tidak lahir sebagai manajer.
Kita tidak dilahirkan untuk menjadi analis, direktur, sekretaris, auditor, petugas pelayanan, ataupun pekerja dengan kategori “memenuhi sebagian ekspektasi”.
Semua itu datang kemudian.
Itu adalah peran yang kita jalankan, bukan hakikat terakhir diri kita.
Masalahnya, sistem korporasi menyukai esensi yang stabil.
Sistem perlu mengetahui bahwa seseorang termasuk kategori tertentu. Berpotensi atau tidak. Siap atau belum. Sesuai atau kurang sesuai. Dapat dikembangkan atau perlu dipertimbangkan kembali.
Sartre berkata bahwa manusia selalu berada dalam proses menjadi.
Korporasi meminta proses itu diselesaikan sebelum batas waktu pengumpulan penilaian.
Sartre berkata bahwa manusia adalah kebebasan.
Korporasi bertanya apakah kebebasan itu sudah masuk ke dalam KPI.
Sartre berbicara mengenai autentisitas.
Saya membayangkan seseorang mengangkat tangan dan bertanya:
“Apakah autentisitas ini dapat diturunkan menjadi indikator perilaku?”
Saya tertawa membayangkannya.
Lalu saya berhenti tertawa karena sadar saya mungkin pernah mengajukan pertanyaan serupa dengan istilah yang berbeda.
Di sinilah satir menjadi kurang nyaman.
Ternyata saya bukan hanya manusia yang dibentuk korporasi.
Saya juga ikut membentuk manusia lain melalui cara korporasi bekerja.
Saya ikut menyusun target.
Saya ikut membaca angka.
Saya ikut memberikan penilaian.
Saya ikut meminta seseorang menerjemahkan kerumitan pekerjaannya ke dalam ringkasan satu halaman.
Saya mengeluh ketika sistem menyederhanakan diri saya, tetapi juga merasa terbantu ketika sistem menyederhanakan orang lain untuk saya.
Saya ingin diri saya dipahami secara utuh. Namun, ketika harus mengambil keputusan mengenai orang lain, saya meminta datanya terlebih dahulu.
Rupanya manusia sangat menghargai kompleksitas dirinya sendiri, tetapi sering membutuhkan versi sederhana dari manusia lain.
Mungkin karena memahami orang lain secara utuh melelahkan.
Sementara rapat hanya dijadwalkan satu jam.
Kebebasan yang Tidak Bebas-Bebas Amat
Masalahnya, Sartre tidak sedang mengajak kita berpura-pura bahwa situasi tidak ada. Manusia memang bebas, tetapi kebebasannya selalu berhadapan dengan kenyataan.
Kita memiliki kebutuhan ekonomi.
Kita memiliki keluarga.
Kita memiliki cicilan.
Kita memiliki jabatan.
Kita memiliki atasan.
Atasan kita juga memiliki atasan.
Atasannya mungkin masih memiliki atasan lagi.
Pada titik tertentu, struktur organisasi tampak seperti cara manusia memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang benar-benar merasa sebagai pengambil keputusan terakhir.
Kita mungkin menolak identitas yang diberikan organisasi. Namun, setiap pagi kita tetap datang, membuka surat elektronik, membaca pesan, mengikuti rapat, dan mengerjakan target. Kita tidak sepenuhnya menerima sistem.
Namun, kita juga tidak sepenuhnya berada di luar sistem.
Di situlah dilema individu korporat berada.
Kita ingin menjadi diri sendiri, tetapi diri sendiri harus mengisi lembar penilaian.
Kita ingin bebas, tetapi kebebasan perlu menyesuaikan kalender rapat.
Kita ingin mempertahankan keunikan, tetapi keunikan tersebut perlu diterjemahkan menjadi kompetensi yang dapat diukur.
Kita ingin hidup autentik, tetapi tetap membutuhkan persetujuan cuti.
Maka, kebebasan dalam kehidupan korporat bukan kebebasan untuk melakukan apa saja. Kebebasan adalah kesadaran bahwa, bahkan di dalam batas-batas yang ada, kita masih mengambil sikap.
Ketika kita berkata, “Saya hanya menjalankan sistem,” Sartre mungkin akan curiga.
Sebab kalimat itu dapat menjadi cara paling sopan untuk melarikan diri dari tanggung jawab.
Sistem memang membatasi kita. Namun, sistem juga dijalankan oleh orang-orang yang mengaku hanya menjalankan sistem.
Tidak Sepenuhnya Menolak
Saya tidak ingin tulisan ini terdengar seperti protes seseorang yang besok pagi akan mengundurkan diri.
Tidak.
Besok pagi saya mungkin tetap bekerja.
Tetap mengikuti rapat.
Tetap membaca laporan.
Tetap menanyakan capaian.
Tetap kesal jika data terlambat disampaikan.
Saya tidak menolak korporasi.
Saya tahu organisasi membutuhkan struktur. Target diperlukan. Produktivitas penting. Sistem membantu memastikan pekerjaan tidak hanya bergantung pada suasana hati seseorang.
Saya hanya ingin mengingatkan diri sendiri bahwa sesuatu yang diperlukan belum tentu berhak menjadi satu-satunya ukuran kebenaran.
KPI diperlukan, tetapi KPI bukan manusia.
Jabatan diperlukan, tetapi jabatan bukan identitas yang final.
Asesmen diperlukan, tetapi asesmen bukan nubuat.
Budaya korporasi diperlukan, tetapi budaya korporasi tidak boleh mengambil alih seluruh ruang batin seseorang.
Produktivitas penting, tetapi kehidupan bukan pabrik yang seluruh keberhasilannya ditentukan oleh jumlah keluaran.
Ada bagian dari manusia yang tidak mudah diukur.
Kesetiaan yang tidak dipamerkan.
Kebaikan yang tidak dicatat.
Keberanian yang tidak memperoleh penghargaan.
Kelelahan yang disembunyikan.
Pertanyaan moral yang tidak dapat diselesaikan dengan menambah kolom pada spreadsheet.
Semua itu mungkin tidak terbaca oleh sistem.
Namun, tidak terbaca bukan berarti tidak ada.
Kembali Menyusun Miniatur
Saya kembali melihat miniatur.

Dalam dunia kecil itu, saya memiliki kendali penuh.
Mungkin korporasi juga memandang manusia seperti saya memandang miniatur.
Setiap orang harus berada pada posisinya.
Setiap fungsi harus menjalankan perannya.
Setiap gerak harus memiliki tujuan.
Setiap penyimpangan perlu dikoreksi.
Setiap orang harus dapat digantikan agar sistem tetap berjalan.
Semua harus tampak rapi dari atas.
Masalahnya, manusia bukan miniatur.

Manusia memiliki ingatan.
Manusia memiliki penolakan.
Manusia dapat mempertanyakan rel yang dianggap sudah benar.
Manusia dapat meninggalkan posisi yang disediakan.
Manusia dapat berubah, bahkan ketika sistem telah menetapkan bahwa dirinya termasuk kategori tertentu.
Dan manusia dapat menyadari bahwa selama ini ia terlalu sibuk memenuhi gambaran orang lain tentang siapa dirinya.
Barangkali itu yang membuat hidup manusia tidak dapat dikendalikan sepenuhnya.
Kenyataan tidak selalu mengikuti rencana.
Identitas tidak pernah benar-benar selesai.
Hari ini saya mengenali diri melalui pekerjaan. Besok mungkin saya menyadari bahwa terlalu banyak bagian diri yang saya serahkan kepada jabatan.
Hari ini saya merasa berhasil karena target tercapai. Besok mungkin saya bertanya apakah hasil itu sungguh membuat hidup menjadi lebih baik.
Hari ini saya merasa mengenal seseorang melalui kinerjanya. Besok mungkin saya tersadar bahwa saya hanya mengenal bagian kecil yang berhasil masuk ke dalam laporan.
Sartre barangkali benar.
Kita tidak menerima identitas sebagai produk jadi. Kita membentuknya melalui pilihan, tindakan, dan tanggung jawab.
Namun, kebebasan itu juga berarti saya tidak bisa terus-menerus menyalahkan keluarga, pendidikan, budaya, media sosial, atau korporasi atas diri saya hari ini.
Mereka membentuk saya.
Tetapi saya juga ikut membiarkan beberapa bentuk itu menetap.
Saya menerima sebagian.
Menolak sebagian.
Menjalankan sebagian.
Bahkan mewariskan sebagian kepada orang lain.
Saya masih menyukai miniatur.
Tetapi saya tidak ingin menjadi salah satunya.
Setidaknya, belum.
Besok kita lihat lagi.
Tergantung agendanya.
