Kemarin saya mengucapkan selamat ulang tahun kepada Bu Ambar Wahyuni, mantan atasan saya pada periode 2007–2009.
Barangkali bagi sebagian orang, ucapan ulang tahun hanyalah formalitas tahunan. Sebuah pesan singkat yang dikirim karena media sosial mengingatkan. Namun ada beberapa orang yang tetap saya ingat tanpa bantuan pengingat apa pun. Bu Ambar adalah salah satunya.
Beliau pernah bercerita bahwa dirinya adalah akuntan perempuan pertama di kantor tempat kami bekerja saat itu. Cerita itu terasa masuk akal. Pada daftar nama pejabat yang saya ingat, hanya beliau yang mencantumkan gelar “Ak” di belakang namanya. Sebuah identitas profesi yang sangat melekat pada dirinya.
Dan memang, beliau adalah akuntan dalam arti yang sesungguhnya.
Beliau sangat teliti.
Sangat, sangat teliti.
Setiap laporan yang kami buat diperiksanya dengan saksama. Tidak hanya substansi, tetapi juga hal-hal yang sering dianggap sepele. Tabel diperiksa. Penjumlahan dicek ulang. Angka pada lampiran dibandingkan dengan angka pada laporan utama. Judul dan subjudul diperhatikan. Konsistensi format tidak luput dari pengamatan.
Yang lebih mengesankan, beliau selalu ingat.
Beliau ingat koreksi yang pernah diberikan. Dan beliau juga ingat jika koreksi tersebut tidak ditindaklanjuti.
Bagi staf muda seperti saya waktu itu, tentu tidak jarang hal tersebut membuat kami waswas. Tetapi seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa ketelitian seperti itulah yang menjaga kualitas pekerjaan.
Dari beliau saya belajar bahwa sebuah laporan tidak menjadi benar hanya karena terlihat rapi. Ia harus benar sampai ke angka terakhir.
Tentu saja, seperti manusia pada umumnya, beliau bukan sosok yang disukai semua orang. Ada yang kurang cocok dengan gaya kepemimpinannya. Beliau sendiri juga tidak selalu cocok dengan semua orang.
Namun pengalaman mengajarkan saya bahwa seseorang tidak harus sempurna untuk memberikan pelajaran yang berharga dalam hidup kita.
Ada satu kenangan sederhana yang masih saya ingat hingga sekarang. Pada suatu ulang tahun, beliau memberikan saya sehelai batik sebagai hadiah.
Mungkin nilainya tidak besar. Tetapi perhatian yang menyertainya membuat peristiwa itu tetap tersimpan dalam ingatan hingga hari ini.
Kami terakhir bertemu pada tahun 2018 dalam sebuah Kongres Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Saat itu beliau menjabat sebagai Kepala Perwakilan di Medan.
Yang membuat saya terkesan bukan jabatan tersebut.
Yang membuat saya terkesan adalah beliau masih mengingat saya.
Kami sempat berfoto bersama. Sayangnya, entah di folder arsip yang mana foto itu sekarang tersimpan.
Menurut ingatan saya, Bu Ambar lahir pada tahun 1960. Jika benar demikian, tahun ini usianya sekitar 66 tahun.
Ada satu hal yang sampai hari ini belum saya realisasikan: mengunjungi beliau di Yogyakarta.
Niat itu sudah lama ada, tetapi selalu tertunda oleh berbagai alasan. Padahal semakin bertambah usia, kita semakin memahami satu kenyataan sederhana bahwa waktu bukanlah sumber daya yang tak terbatas.
Ada orang-orang yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup kita. Orang-orang yang membentuk cara kita bekerja, berpikir, dan memandang tanggung jawab. Kadang kita terlalu lama menunda untuk sekadar berkunjung, menyapa, atau mengucapkan terima kasih.
Dalam balasan WhatsApp atas ucapan ulang tahun saya, Bu Ambar menuliskan apresiasinya karena saya masih mengingat hari ulang tahunnya.
Sebenarnya bukan karena saya memiliki ingatan yang baik.
Saya mengingatnya karena ulang tahun beliau bertepatan dengan ulang tahun ibu saya.
Setiap tahun, ketika saya mengingat hari lahir ibu, saya juga teringat pada seorang mantan atasan yang mengajarkan ketelitian, tanggung jawab, dan standar kerja yang tinggi.

Mungkin itulah makna sebenarnya dari mengingat ulang tahun seseorang, menambahkan makna dari sekadar tanggal, namun juga mengingat jejak yang pernah ditinggalkannya dalam hidup kita.
Selamat ulang tahun Bu Ambar dan Ibu di atas (dadah ke langit).