Sebuah Foto di Antara Barang yang Hendak Disingkirkan
Foto ini ditemukan abang saya ketika sedang beberes rumah.
Kegiatan semacam itu biasanya menjadi saat pengadilan bagi barang-barang lama. Setiap benda harus menjawab pertanyaan yang terdengar sederhana, tetapi menentukan nasibnya: masih berguna atau sebaiknya dibuang?
Saya termasuk orang yang kurang berbakat menjawab pertanyaan tersebut. Saya gemar menyimpan barang dengan alasan, “Siapa tahu nanti diperlukan.” Bagi orang rumah, kebiasaan ini tentu menjengkelkan. Barang-barang terus bertambah, sementara kata “nanti” tidak pernah memiliki tanggal yang jelas.
Sekarang orang menyebut kegiatan memilah dan mengurangi barang sebagai decluttering. Istilah yang terdengar modern untuk sebuah proses yang sebenarnya cukup kejam: menentukan benda mana yang masih berhak tinggal bersama kita dan mana yang harus dikeluarkan dari sejarah kehidupan. Padahal setiap barang punya cerita sendiri dengan hidup kita, tinggal apakah kita melekat atau tidak.
Namun, di antara barang-barang yang hendak disingkirkan itu, muncul foto ini.
Seketika saya teringat bahwa tidak semua benda lama hanya memenuhi ruang. Sebagian menyimpan pintu menuju masa lalu. Kita baru mengetahuinya ketika pintu itu tiba-tiba terbuka.
Foto ini adalah salah satu pintu tersebut.

Tahun 2005 dan Diklat Auditor Terampil
Foto ini diperkirakan diambil pada 2005, hampir setahun setelah saya menyelesaikan pendidikan D3.
Saat itu, kami sedang mengikuti pendidikan dan pelatihan sebagai auditor. Namanya terdengar cukup meyakinkan: Diklat Auditor Terampil. Pendidikannya berlangsung selama tiga bulan.
Untuk mengikuti diklat tersebut, saya harus berangkat dari Stasiun Pondok Ranji menuju Stasiun Kalibata menggunakan KRL. Dari Stasiun Kalibata, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju tempat pelatihan. Teman-teman saya ada yang menggunakan sepeda motor.
Begitulah perjalanan yang harus ditempuh setiap hari.
Sebenarnya tersedia fasilitas mes. Namun, entah atas pertimbangan apa, kami diminta pengelola Diklat tetap pulang-pergi. Keputusan ini cukup membingungkan karena hampir semua peserta belum berkeluarga dan masih tinggal di tempat kos yang cukup jauh dari tempat Diklat. Saya sendiri bahkan belum memiliki sepeda motor.
Ongkos perjalanan terasa cukup besar untuk keadaan kami saat itu. Waktu dan tenaga juga banyak habis di jalan. Mungkin saat itu belum tersedia anggaran makan bergizi gratis (MBG) bagi calon auditor. Kalaupun ada, barangkali anggarannya sedang direvisi, dialihkan, menunggu disposisi, atau diperiksa oleh calon auditor lain.
Begitulah kami belajar mengenai efektivitas dan efisiensi. Materinya diberikan di ruang kelas, sedangkan contoh kebalikannya kami jalani setiap hari. Kami mungkin jadi bahan efisiensi yang diklaim pengelola Diklat.
Mungkin itu bagian dari metode pembelajaran.
Dalam kelompok kami seharusnya terdapat lima belas orang. Tiga orang lainnya sedang mengikuti pendidikan Diploma 4 karena memperoleh prestasi terbaik ketika menjalani D3.
Mulai dari kiri dan bergerak searah jarum jam, ada Agung, Indira, Budi, Daniel, Rahmi, saya, Faiz, Tri, Marhendra, Eko, Yanhari, dan Najib. Ada pula Wipy. Namun, Wipy tidak terlihat karena dialah yang mengambil foto tersebut.
Di situlah jasa orang yang berada di balik kamera. Sosoknya tidak masuk ke dalam bingkai, tetapi tanpa dirinya, bingkai itu tidak pernah ada. Ternyata tombol kamera sanggup memanggil kembali nama, wajah, perjalanan, dan cerita yang selama bertahun-tahun tidak pernah muncul bersamaan. Saya berterima kasih kepada Wipy karena foto ini membuat ingatan lama menemukan jalan pulang.
Budi dan Teman dalam Perjalanan Pulang
Di antara orang-orang dalam foto tersebut, ada satu orang yang telah lebih dahulu menyelesaikan perjalanannya. Budi.
Budi meninggal dunia pada 2009. Budi mendahului kami menghadap Sang Pencipta.
Saya masih sempat menjenguk Budi ketika dirawat di ruang ICU RS Premier Bintaro. Kenangan itu membuat keberadaan Budi di dalam foto ini terasa berbeda. Budi tidak lagi hanya hadir sebagai salah satu nama dalam daftar peserta diklat, tetapi sebagai pengingat bahwa kebersamaan tidak selalu berlangsung selama yang kita bayangkan. Ketika mengikuti diklat, Budi merupakan teman perjalanan pulang saya. Kebersamaan itu berlanjut pula dalam perjalanan pulang dari tempat kerja. Dalam perjalanan tersebut, Budi banyak bercerita tentang dunia audit, termasuk pengalaman ketika pihak yang diaudit adalah lembaga penegak hukum.
Cerita-cerita Budi memberi saya gambaran bahwa pekerjaan auditor tidak hanya berhubungan dengan angka, dokumen, dan kertas kerja. Di balik pekerjaan itu terdapat hubungan relasi kekuasaan, keberanian profesional, dilema, serta berbagai sisi manusia yang tidak selalu tertulis dalam pedoman audit.
Pada masa itu, Budi juga beberapa kali mendapat tugas ke luar negeri.
Tentu saja, sebagai orang muda, saya pernah melihat perjalanan-perjalanan itu sebagai sesuatu yang menarik. Namun, sekarang saya memahami bahwa saya tidak perlu iri. Setiap orang memiliki jalan hidupnya sendiri, termasuk kehormatan, kesempatan, kesulitan, dan batas waktunya. Budi memiliki jalan yang tidak saya jalani. Saya pun menempuh jalan yang tidak dijalani Budi.
Siapa tahu, ketika saya melihat kehidupan orang lain dan menganggapnya lebih beruntung, pada saat yang sama ada orang lain yang memandang kehidupan saya dengan cara serupa. Manusia memang sering terlalu sibuk menghitung apa yang diterima orang lain, tanpa mengetahui seluruh harga yang harus dibayar untuk menjalaninya.
Barangkali inilah salah satu absurditas kehidupan.
Kita membandingkan perjalanan, padahal tidak pernah memegang peta kehidupan orang lain secara lengkap. Kita melihat penugasan, jabatan, perjalanan ke luar negeri, atau berbagai pencapaian yang tampak dari luar. Namun, kita tidak pernah benar-benar mengetahui seberapa panjang jalan seseorang, apa yang dipikulnya, dan kapan perjalanan itu akan berakhir.
Melihat Budi dalam foto ini membuat saya menyadari bahwa pertanyaan terpenting bukanlah siapa yang berjalan paling jauh. Pertanyaannya adalah: apa yang kita lakukan selama masih diberi kesempatan untuk berjalan?
Kami Belum Menjadi Siapa-Siapa
Ketika foto ini diambil, kami belum mengetahui ke mana kehidupan akan membawa kami.
Kami hanya sekelompok orang yang baru memulai karier, mengikuti pelajaran, saatnya coffee break, kami duduk mengelilingi meja, mengikuti pelatihan, dan berusaha bertahan dengan bekal yang tersedia. Kami belum tahu siapa yang akan tetap berada di lembaga itu, siapa yang akan berpindah, siapa yang akan menjadi pejabat, siapa yang akan bertugas ke luar negeri, dan siapa yang akan meninggalkan dunia lebih dahulu.

Di sinilah pemikiran Jean-Paul Sartre terasa dekat.
Sartre dikenal melalui gagasan bahwa eksistensi mendahului esensi. Manusia hadir terlebih dahulu, kemudian membentuk siapa dirinya melalui pilihan, tindakan, dan tanggung jawab yang dijalani. Kita tidak datang ke dunia dengan identitas yang sudah selesai. Kita membentuk diri kita melalui perjalanan.
Pada 2005, kami belum menjadi kesimpulan.
Kami masih berupa kemungkinan.
Kami belum sepenuhnya menjadi auditor, pejabat, pegawai perusahaan negara, atau profesi yang lain. Semua predikat itu datang kemudian. Identitas tersebut dibentuk oleh pekerjaan yang dijalani, keputusan yang diambil, kegagalan yang diterima, peluang yang dipilih, dan keadaan yang tidak pernah direncanakan. Kisah Budi juga mengingatkan adanya batas dalam kebebasan manusia.
Kita memang bebas memilih sikap dan tindakan, tetapi kita tidak bebas menentukan seluruh keadaan. Kita tidak memilih tempat kelahiran, banyak peristiwa yang menimpa kita, ataupun panjang waktu yang tersedia. Di antara kebebasan dan keterbatasan itulah manusia membentuk dirinya.
Sartre juga mengingatkan bahwa kebebasan tidak selalu terasa menyenangkan. Kebebasan membawa tanggung jawab. Kita boleh mengeluhkan sistem, keterbatasan anggaran, ongkos perjalanan, fasilitas yang tidak dapat digunakan, atau keputusan organisasi yang sulit dipahami. Semua itu nyata. Namun, pada akhirnya, kita tetap harus menentukan sikap.
Berangkat atau tidak.
Bertahan atau berhenti.
Menjalani perjalanan atau kembali pulang.
Kami memilih berangkat.
Bukan karena memahami seluruh alasannya. Bukan pula karena telah mengetahui hasil akhirnya. Kami berangkat karena kehidupan terlalu sedikit pilihan untuk tidak selalu memberi penjelasan terlebih dahulu sebelum meminta seseorang menjalaninya. Barangkali keberanian tidak selalu hadir dalam bentuk keputusan besar. Saat itu, keberanian yang tersedia hanya berupa kesediaan untuk bangun pagi, naik KRL, berjalan kaki dari Kalibata, mengikuti pelatihan, lalu mengulanginya lagi keesokan hari.

Paradoks Sebuah Perjalanan
Setelah masa pelatihan berakhir, kehidupan membawa kami ke tempat yang berbeda-beda.
Tidak semua meneruskan perjalanan di lembaga tersebut. Saya dan Daniel menempuh karier di perusahaan pelat merah. Indira melanjutkan perjalanan di lembaga pengawas industri perbankan. Walaupun institusinya berbeda, pekerjaan kami ternyata tidak pernah benar-benar jauh dari audit. Rekan-rekan yang lain juga tidak seluruhnya menjadi auditor, ada yang di SDM, ada yang menjadi periset internal, bahkan sangat aktif di berbagai organisasi profesi akuntan dan auditor.
Mungkin audit bukan sekadar profesi.
Mungkin audit adalah kutukan profesional yang sangat tertib. Ke mana pun pergi, seseorang tetap diminta menemukan apa yang salah, mengapa hal itu terjadi, siapa yang bertanggung jawab, dan mengapa dokumen pendukungnya belum lengkap. Paradoks yang menarik justru datang dari Wipy. Orang yang dahulu berdiri di balik kamera kemudian menjadi pejabat di tempat diklat tersebut. Orang yang tidak terlihat dalam foto akhirnya memiliki posisi untuk menentukan bagaimana orang-orang lain akan menjalani pengalaman di tempat yang sama.
Hidup rupanya memiliki cara tersendiri untuk mengatur ironi.
Semoga pengalaman masa lalu membuat Wipy lebih memahami peserta-peserta muda yang datang kemudian. Mereka mungkin membawa semangat besar, tetapi belum memiliki kendaraan, tabungan, atau kemampuan untuk memahami logika setiap kebijakan. Mereka belajar mengenai tata kelola di ruang kelas, sementara kehidupan menguji tata kelola itu melalui pengalaman sehari-hari.
Ada pula paradoks yang lebih sunyi.
Rekan saya yang dahulu beberapa kali bepergian ke luar negeri ternyata mendapat waktu hidup yang lebih singkat. Orang yang mungkin pernah memandang perjalanan tersebut dengan rasa iri justru masih diberi kesempatan berjalan lebih jauh dalam waktu.
Karena itu, keberuntungan tidak mudah diukur.
Kita tidak dapat menilai kehidupan hanya dari banyaknya tempat yang dikunjungi, tingginya jabatan, atau panjangnya daftar penugasan. Kehidupan bukan perlombaan dengan titik mula dan garis akhir yang sama. Masing-masing orang berjalan dengan rute, beban, kesempatan, dan batas waktu yang berbeda. Dahulu kami menganggap gedung pelatihan sebagai tujuan perjalanan. Kami berpikir perjalanan selesai ketika tiba di sana. Setelah lebih dari dua puluh tahun berlalu, saya menyadari bahwa tempat itu hanyalah salah satu stasiun.
Tujuan sebenarnya mungkin bukan gedung pelatihan.
Tujuannya adalah membentuk orang yang sanggup menempuh perjalanan menuju ke sana.
Melalui Jalan yang Terjal
Lebih dari dua puluh tahun telah berlalu sejak foto itu diambil.
Berbagai perjumpaan kembali dan reuni yang saya alami tahun ini membuat saya melihat perjalanan tersebut dengan cara berbeda. Saya tidak terlalu ingin membandingkan siapa yang memiliki jabatan paling tinggi, penghasilan paling besar, atau kehidupan yang paling terlihat berhasil. Perbandingan semacam itu tidak akan pernah selesai. Selalu ada seseorang yang tampak berada satu langkah di depan. Jika ukuran hidup hanya didasarkan pada posisi sosial, kita akan terus menemukan alasan untuk merasa tertinggal.
Kisah Budi membuat perbandingan semacam itu semakin kehilangan makna.
Saya tidak perlu iri terhadap jalan hidup orang lain. Setiap orang memiliki lintasannya sendiri. Lagi pula, siapa tahu jalan hidup yang saya keluhkan justru merupakan jalan yang diinginkan orang lain. Kita tidak pernah benar-benar mengetahui bagaimana kehidupan kita terlihat dari mata orang lain. Ketika menoleh dari 2005 sampai hari ini, saya melihat sesuatu yang lebih penting: saya telah dipelihara Tuhan dengan cara yang luar biasa.
Bukan berarti semua jalan terasa mudah. Bukan pula berarti setiap keinginan terpenuhi. Namun, saya masih diberi kesempatan untuk mengingat, menafsirkan, bersyukur, dan meneruskan perjalanan.
Pernah saya lihat di Macbook staf saya sebuah Pepatah Latin: Per aspera ad astra.
Sebuah pepatah yang berarti melalui jalan yang terjal menuju bintang-bintang.
Saya tidak tahu apakah kami telah mencapai bintang. Sebagai orang-orang yang akrab dengan audit, mungkin kami masih perlu memastikan definisi bintang, indikator pencapaiannya, dokumen pendukungnya, serta pihak yang berwenang menyatakan bahwa bintang tersebut benar-benar telah dicapai atau tidak.
Namun, setidaknya kami telah melewati banyak jalan terjal.
Sebagian masih meneruskan perjalanan. Sebagian berpindah jalan. Budi telah lebih dahulu tiba pada batas perjalanannya. Dan kami yang masih berjalan mempunyai tanggung jawab untuk memaknai waktu yang tersisa.
Dua Puluh Tahun Mendatang
Jika foto ini baru kembali kepada saya setelah lebih dari dua puluh tahun, saya kemudian bertanya: bagaimana saya akan memandang kehidupan dua puluh tahun lagi?

Pada 2046, mungkin saya akan melihat foto hari ini dengan perasaan serupa. Hal-hal yang sekarang terasa besar mungkin telah menjadi cerita kecil. Persoalan yang hari ini memenuhi pikiran mungkin tidak lagi penting. Sebaliknya, percakapan sederhana, perjalanan pulang bersama, dan orang-orang yang sekarang sering berada di sekitar saya mungkin justru menjadi hal yang paling dirindukan.
Kesadaran itu membuat saya ingin menjalani dua puluh tahun ke depan dengan lebih hati-hati, tetapi bukan dengan ketakutan. Saya ingin lebih menghargai perjalanan tanpa harus menunggu semuanya menjadi kenangan. Saya ingin lebih memperhatikan orang-orang yang saat ini mungkin hanya berada di balik kamera. Saya ingin mengingat percakapan-percakapan dalam perjalanan pulang, sebab sering kali seseorang meninggalkan bagian penting dari dirinya bukan melalui pidato besar, melainkan melalui cerita sederhana di kereta atau di jalan.
Saya juga ingin memahami bahwa keberhasilan tidak semata-mata terletak pada seberapa tinggi kedudukan yang dicapai atau seberapa jauh seseorang pernah ditugaskan. Keberhasilan mungkin terletak pada seberapa banyak pengalaman membuat seseorang lebih mampu memahami kesulitan orang lain. Jika kehidupan memang tidak menyediakan makna yang sudah selesai, sebagaimana dapat dibaca dari pemikiran Sartre, tugas manusia bukanlah menunggu makna itu ditemukan. Tugas manusia adalah membentuknya melalui pilihan yang dijalani dengan sadar dan bertanggung jawab.
Saya tidak dapat memastikan siapa diri saya pada 2046. Saya hanya dapat menentukan nilai apa yang ingin saya bawa menuju ke sana: rasa syukur, tanggung jawab, kepedulian, serta kesediaan untuk tidak melupakan orang-orang yang pernah berjalan bersama.
Pada akhirnya, foto ini bukan hanya bukti bahwa kami pernah muda. Foto ini mengingatkan bahwa kami pernah berada dalam keadaan serba terbatas, belum mengetahui masa depan, tetapi tetap memilih untuk berangkat.
Kami pernah duduk di meja yang sama.
Kami pernah berjalan pulang bersama.
Kami pernah menjadi sekumpulan kemungkinan.
Lalu waktu membawa kami menuju jalan masing-masing.
Dua puluh tahun mendatang, jika Tuhan masih memberi kesempatan, mungkin saya akan kembali menemukan foto hari ini di antara barang-barang lama. Ketika saat itu tiba, saya berharap tidak hanya melihat seseorang yang berhasil bertahan, tetapi juga seseorang yang semakin mengerti untuk apa perjalanan itu dijalani.
Sebab makna kehidupan mungkin bukan memastikan semua hal berlangsung sesuai rencana. Maknanya justru tumbuh ketika kita belajar menjadi manusia melalui jalan yang tidak pernah sepenuhnya kita pilih.
Karena itu, satu kesimpulan sederhana rasanya cukup:
Berangkat dan berjalan meski tidak tahu dimana perhentian itu, dan selama masih diberi waktu, perjalanan ini harus dimaknai dengan rasa syukur.