Tentang perantauan, dan perjalanan yang tidak harus selalu efisien
Gunung Ungaran sebenarnya tidak pernah masuk agenda.
Saya datang ke Bandungan, Kabupaten Semarang, untuk mengikuti lomba inovasi dan improvement. Sebuah acara yang mengharuskan manusia membuktikan bahwa segala sesuatu dapat diperbaiki, dipercepat, disederhanakan, dan kalau memungkinkan, dimasukkan ke dalam slide dengan grafik yang bergerak naik.
Di dunia kerja, bahkan kegelisahan pun sebaiknya memiliki indikator keberhasilan.
Rencana awal saya justru hendak kembali ke Gunung Merbabu. Ada urusan yang terasa belum selesai sejak saya mengikuti Merbabu Sky Race sekitar Juni 2024. Kala itu, saya bergerak dalam kabut sambil terburu-buru mengejar cut-off time. Dalam perlombaan, waktu memang tidak peduli kita sedang lelah, ingin berhenti, atau sekadar hendak menikmati pemandangan. Terlambat berarti perjalanan selesai. Ironisnya, saya datang jauh-jauh ke gunung untuk menikmati alam, tetapi justru berlari melewatinya. Saya sibuk menjaga kecepatan, menghitung waktu, memperkirakan jarak, dan memastikan diri tidak tersingkir. Pohon, kabut, tanah basah, udara gunung, dan suara langkah hanya berubah menjadi latar belakang dari sebuah target finish.
Barangkali begitulah manusia kini menikmati kehidupan. Kita mengambil foto makanan sebelum mencicipinya, merekam konser daripada mendengarkan musiknya, dan mendaki gunung sambil melihat jam.
Kecepatan akhirnya menjadi tujuan, bukan lagi alat.
Merbabu meninggalkan pelajaran yang agak menyebalkan: tidak semua yang berhasil diselesaikan benar-benar sempat dinikmati.
Saya memang mengikuti perlombaan, berlari menuju garis finish, dan berusaha mengejar batas waktu. Namun sebagian diri saya seperti tertinggal di antara kabut, napas yang pendek, dan langkah yang terlalu tergesa-gesa. Karena itu, saya ingin kembali. Bukan untuk menaklukkan Merbabu, sebab gunung tidak pernah meminta ditaklukkan. Saya hanya ingin mengulang perjalanan dengan harapan cuaca lebih cerah, langkah lebih tenang, dan kepala tidak terus-menerus dikendalikan oleh angka dan notifikasi.
Akan tetapi, seperti banyak rencana manusia, niat itu kalah oleh jarak yang lebih dekat. Bahwa Hotel Wahid Bandungan, tempat saya menginap, tidak begitu jauh dari basecamp Gunung Ungaran melalui jalur Parantunan.
Parantunan.
Nama itu terdengar seperti plesetan yang disiapkan secara khusus untuk saya. Saya adalah anak perantauan dari Aceh, khususnya Aceh Tengah. Sudah lebih dari dua puluh tahun saya meninggalkan tanah kelahiran, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, membawa nama kota kelahiran di berbagai formulir, walaupun alamat di kartu identitas dan lokasi keberadaan terus berubah. Maka rasanya cukup masuk akal apabila seorang anak perantauan pada akhirnya mendaki melalui Parantunan.
Berangkat dari Laut, Berjalan ke Gunung
Saya mulai merantau sejak 2001. Kalau ingatan saya tidak terlalu banyak dimodifikasi oleh waktu, sekitar September tahun itu saya memulai perkuliahan di kawasan selatan Jakarta, di sebuah tempat yang konon mencetak abdi negara. Perjalanan tersebut dimulai dengan Kapal Pelni KM Sinabung berangkat dari Pelabuhan Belawan ke Tanjung Priok. Laut menjadi halaman pertama dari kehidupan saya sebagai perantau. Mungkin detail perjalanan itu pernah saya tuliskan dalam tulisan lain di blog ini. Mungkin juga belum seluruhnya.
Ingatan seorang perantau muda sering seperti barang bawaan di kapal. Ada yang disimpan rapi, ada yang tercecer, dan ada yang baru ditemukan bertahun-tahun kemudian ketika membuka kembali ruang yang jarang disentuh. Rupanya perjalanan hidup saya cukup konsisten. Selalu ada kendaraan, jarak yang panjang, barang bawaan, dan ketidakpastian tentang apa yang menunggu di tempat tujuan.
Bedanya, pada 2001 saya membawa harapan seorang anak muda yang hendak kuliah. Kini saya lebih sering membawa pengalaman, kelelahan, notifikasi pekerjaan, dan mungkin sedikit kebijaksanaan yang belum tentu dapat digunakan. Perantauan ternyata bukan sekadar perpindahan geografis. Ia adalah latihan panjang dalam kehilangan dan menemukan. Kita kehilangan kedekatan dengan kampung halaman, tetapi menemukan kota-kota baru. Kehilangan sebagian kebiasaan lama, lalu menemukan cara hidup yang berbeda. Kehilangan versi diri yang dulu, kemudian bertemu versi diri yang lain, meskipun kadang tidak langsung akrab. Mungkin itu sebabnya perjalanan selalu menarik bagi saya. Ia menawarkan kesempatan untuk keluar dari susunan hidup yang sudah telanjur dianggap tetap.
Kadang-kadang kita perlu berpindah (baca merantau) agar menyadari bahwa diri kita ternyata belum selesai dibentuk.
Sunrise yang Kalah oleh Kasur
Setelah menyelesaikan presentasi lomba pada hari Rabu, saya memutuskan mendaki pada Kamis pagi. Awalnya saya ingin mengejar matahari terbit. Niat semacam itu terdengar gagah dan cocok ditulis sebagai takarir foto Instagram. Bangun dini hari, mendaki dalam gelap, lalu berdiri di puncak menyaksikan matahari perlahan muncul.
Namun, ada satu persoalan serius: kasur hotel terlalu empuk. Saya mulai memikirkan betapa sayangnya meninggalkan kamar yang nyaman, selimut yang hangat, dan fasilitas hotel yang sudah dibayar Perusahaan, hanya untuk berjalan dalam gelap sambil mengantuk.
Matahari terbit setiap hari. Kasur hotel tidak selalu tersedia. Akhirnya saya memilih tidur lebih lama. Keputusan ini mungkin tidak heroik, tetapi setidaknya jujur. Manusia sering berbicara tentang keberanian meninggalkan zona nyaman, padahal zona nyaman kadang-kadang memang sangat nyaman. Saya tidak jadi mengejar sunrise.
Barangkali setelah pengalaman di Merbabu, saya mulai memahami bahwa tidak semua hal harus dikejar. Ada yang cukup dinikmati ketika waktunya tiba. Matahari tidak akan membatalkan terbit hanya karena saya terlambat datang.
Rute, Neraca Perjalanan dan Kehilangan
Perjalanan menuju basecamp dimulai dengan urutan berikut:
Naik ojek online dari hotel menuju Alun-Alun Bandungan.
Dari alun-alun, naik ojek pangkalan menuju basecamp Gunung Ungaran via Parantunan.
Membeli tiket masuk.
Menyewa sepatu.
Sarapan.
Mulai mendaki.
Kehilangan uang tanpa direncanakan.
Adapun rincian biaya perjalanan adalah:
Ojek online ke Alun-Alun Bandungan: Rp11.500
Ojek pangkalan ke basecamp: Rp30.000
Tiket masuk: Rp25.000
Sewa sepatu: Rp25.000
Sarapan mi instan, kue, dan air mineral: Rp35.000
Uang yang hilang: Rp120.000
Total pengeluaran yang saya rencanakan adalah Rp126.500.
Jika ditambah uang yang hilang, totalnya menjadi Rp246.500.
Dalam laporan keuangan, uang hilang mungkin masuk kategori selisih kas. Dalam laporan perjalanan, ia masuk kategori pelajaran hidup. Dalam hati, untuk beberapa saat, ia masuk kategori menyebalkan.
Namun, sepanjang perjalanan menuju puncak, ternyata tidak ada warung sama sekali. Tidak ada tempat membeli gorengan, kopi, air mineral tambahan, atau mi instan dengan harga yang meningkat sesuai ketinggian gunung. Dengan kata lain, saya kehilangan uang di tempat yang hampir tidak menyediakan kesempatan untuk menggunakan uang.
Di situlah kehilangan mulai terasa aneh.
Uang itu tidak ada, tetapi ketidakadaannya belum langsung menimbulkan kekurangan. Ia hilang secara fisik, tetapi belum sepenuhnya hilang dalam pengalaman. Saya baru benar-benar merasa kehilangan ketika kembali ke wilayah yang menyediakan transaksi. Mungkin di sini Derrida dapat ikut mendaki, meskipun ia mungkin akan memperlambat rombongan karena terlalu banyak mempertanyakan makna papan petunjuk. Dalam pemikiran Derrida, makna tidak berdiri sendiri secara utuh. Ia muncul melalui perbedaan, jejak, serta hubungan antara apa yang hadir dan apa yang tidak hadir. Dekonstruksi juga menggoyahkan pasangan-pasangan yang sering kita anggap tegas, seperti hadir dan absen.
Uang Rp120.000 itu tidak lagi hadir di saku saya. Namun, justru karena tidak hadir, ia terasa semakin hadir di kepala.
Yang hilang meninggalkan jejak.
Saya meraba saku, mengingat-ingat kapan terakhir melihatnya, dan menduga-duga di mana uang itu jatuh. Ketidakhadirannya menghasilkan serangkaian kehadiran baru: kecurigaan, penyesalan, perhitungan, dan keinginan untuk memeriksa tas berulang kali.
Mungkin kehilangan bukanlah lawan sederhana dari kepemilikan. Sesuatu dapat tidak lagi kita miliki, tetapi terus-menerus menguasai pikiran kita.
Sebaliknya, sesuatu dapat masih kita miliki, tetapi sama sekali tidak kita sadari nilainya.
Sepanjang jalur tanpa warung itu, saya mulai memahami bahwa kebutuhanlah yang memberi bunyi pada kehilangan. Ketika tidak ada yang perlu dibeli, uang yang hilang hanya berupa angka. Begitu kembali melihat daftar menu, kehilangan tersebut mendadak memperoleh tubuh.
Inilah paradoks benda: uang tidak pernah benar-benar diam. Ketika ada, ia meminta digunakan. Ketika hilang, ia meminta dipikirkan.
Kantor yang Sunyi, Grup yang Tidak Pernah Tidur
Saya mendaki karena salah satunya dda keruwetan yang perlu dijauhkan sejenak. Dulu orang meninggalkan kantor dan merasa pekerjaannya selesai. Kini kantor mungkin sunyi, lampu telah dimatikan, meja-meja kosong, dan kursi-kursi tersusun rapi. Namun grup percakapan terus meloncengkan notifikasi.
Pesan datang tanpa mengenal pintu.
Ada yang bertanya, ada yang mengingatkan, ada yang meneruskan pesan, ada yang hanya menulis “izin menambahkan”, lalu benar-benar menambahkan beban pikiran.
Teknologi berhasil membuat manusia tidak harus selalu berada di kantor. Sebagai gantinya, kantor dapat selalu berada di dalam saku manusia. Di sinilah efisiensi mulai terlihat seperti dewa baru dalam dunia KPI. Ia disembah melalui indikator, target, tenggat, dan tabel pencapaian. Setiap kegiatan harus lebih cepat. Setiap pekerjaan harus menghasilkan keluaran. Setiap perjalanan harus memiliki tujuan. Bahkan istirahat perlu dijelaskan manfaatnya terhadap produktivitas.
Kalau Kafka hidup di masa grup percakapan kantor, barangkali Gregor Samsa tidak bangun sebagai serangga. Ia bangun sebagai admin grup. Dunia Kafka sering dibaca sebagai dunia ketika administrasi tumbuh melampaui manusia, prosedur berjalan tanpa tujuan yang benar-benar jelas, dan individu merasa tidak berdaya di hadapan sistem. Kajian mengenai birokrasi Kafka juga menyoroti administrasi yang berkembang liar, sampai sarana dan prosedur seolah menggantikan tujuan awalnya.
Dalam dunia semacam itu, efisiensi bisa menjadi paradoks.
Kita diminta menghemat waktu dengan mengikuti lebih banyak rapat tentang cara menghemat waktu. Kita membuat laporan untuk menunjukkan bahwa laporan sebelumnya telah ditindaklanjuti. Kita mengisi indikator agar sistem mengetahui bahwa kita bekerja, lalu menghabiskan waktu kerja untuk membuktikan bahwa kita sedang bekerja. KPI semula dibuat untuk membantu manusia melihat tujuan. Kadang-kadang, tanpa disadari, manusia justru bekerja untuk memberi makan KPI.
Mungkin karena itulah saya berjalan ke gunung. Di jalur pendakian, tidak ada notifikasi berwarna merah. Tidak ada pesan yang harus segera dijawab. Tidak ada kolom pencapaian yang harus diperbarui. Yang ada hanya tanjakan, napas, keringat, dan tubuh yang secara jujur menyampaikan bahwa ia lelah. Gunung tidak menanyakan produktivitas.
Ia hanya bertanya, apakah kita masih mau melangkah atau memutuskan balik arah.
Empat Anak Muda dan Secangkir Kopi
Meskipun berniat mengasingkan diri, saya selalu bertemu orang baru di gunung.
Ada yang menyapa saat turun. Ada yang tersenyum. Ada yang memberi semangat. Ada pula yang mengucapkan kalimat klasik dunia pendakian:
“Sudah dekat, Bang.”
Kalimat itu biasanya tidak memiliki hubungan yang kuat dengan jarak sebenarnya.
Di puncak, saya bertemu empat anak muda. Usia mereka mungkin sekitar lima belas tahun di bawah saya. Mereka bersahabat sejak SMA, sama-sama pencinta alam, dan tetap kompak sampai sekarang. Mereka datang dari Tasik dengan sepeda motor, menuju Gunung Ungaran untuk mendaki dan berkemah. Saya tidak tahu mana yang lebih kuat, persahabatan mereka, semangat mereka, atau pinggang mereka setelah perjalanan jauh dengan sepeda motor.
Empat anak muda itu mengingatkan saya pada keberanian yang sering dimiliki usia muda. Keberanian berangkat hanya karena ingin mencoba. Keberanian menempuh perjalanan panjang. Keberanian membuat pengalaman baru tanpa terlalu sibuk menghitung apakah semuanya menguntungkan.
Semakin dewasa, kadang-kadang kita tidak kehilangan kemampuan untuk bepergian. Kita hanya terlalu pandai menemukan alasan untuk tidak berangkat:
Jadwal sulit disatukan. Pekerjaan menumpuk. Cuaca belum tentu baik. Kendaraan perlu diperiksa. Pengeluaran harus dihitung. Risiko harus dipetakan. Setelah semua analisis selesai, kesempatan sudah lewat.
Anak-anak muda itu datang, mendaki, berkemah, lalu membuatkan saya kopi.
Ya, saya dibuatkan kopi. Saya kehilangan uang Rp120.000, tetapi mendapatkan secangkir kopi dari orang-orang yang sebelumnya tidak saya kenal. Semesta rupanya memiliki sistem pengembalian dana yang tidak mengikuti perhitungan untung-rugi. Uang saya hilang dalam bentuk tunai, lalu kembali sebagai kopi dan segenggam cerita.
Kopi itu mungkin sederhana. Namun ketulusan tidak memiliki satuan rupiah.
Ia terasa hangat bukan hanya karena airnya, melainkan karena dibuatkan oleh orang lain tanpa kewajiban, tanpa kepentingan, ternyata di tengah dunia yang sibuk mengukur kontribusi, ada orang-orang yang berbuat baik tanpa menghitungnya.
Parantunan bagi Seorang Perantauan
Mungkin rasa cukup tidak muncul ketika semua keinginan terpenuhi. Ia muncul ketika kita berhenti menuntut setiap pengalaman agar sempurna.
Saya pernah datang ke Merbabu dan terlalu sibuk mengejar waktu sehingga tidak sepenuhnya menikmati alam. Kali ini saya datang ke Ungaran tanpa mengejar kecepatan. Tidak ada cut-off time. Tidak ada garis akhir yang harus dicapai sebelum waktu tertentu. Tidak ada kewajiban untuk membuktikan bahwa saya lebih cepat daripada siapa pun. Saya hanya perlu terus berjalan.
Perjalanan mengajarkan bahwa keberanian bukan selalu tindakan besar. Kadang keberanian adalah memutuskan berangkat ke tempat yang tidak masuk agenda. Mencoba jalur baru. Berbicara dengan orang yang baru dikenal. Menerima kopi dari empat anak muda. Atau mengakui bahwa tubuh lelah, tetapi hati justru terasa lebih lapang.
Saya flashback sejenak. Sejak 2001, barangkali hidup saya memang dibentuk oleh perjalanan-perjalanan semacam itu.
Ada perjalanan yang membawa saya ke tempat belajar. Ada yang membawa saya ke pekerjaan. Ada yang mempertemukan saya dengan tanggung jawab. Ada pula yang hanya membawa saya ke suatu tempat baru agar saya dapat duduk, minum kopi, dan untuk sementara tidak menjadi siapa-siapa.
Seorang perantau terbiasa meninggalkan tempat, tetapi belum tentu terbiasa meninggalkan beban pikirannya.
Karena itu, sesekali ia perlu pergi tanpa tujuan besar. Bukan untuk melarikan diri, melainkan untuk mengingat bahwa hidup lebih luas daripada meja kerja.
Gunung Ungaran melalui Parantunan tampaknya bukan plesetan dari anak perantauan. Ia seperti simpul kecil dalam perjalanan panjang saya. Dahulu saya berangkat dengan kapal untuk memulai masa depan. Kemudian suatu waktu saya mendaki gunung untuk sesekali kembali menemui diri sendiri.
Saya pulang dari Ungaran kepala juga terasa lebih ringan. Ada uang yang hilang dan meninggalkan jejak. Ada kopi hangat yang justru terasa mahal karena ketulusannya. Ada perjalanan yang melelahkan, tetapi memberikan rasa cukup.
Mungkin itulah arti perjalanan bagi seorang perantau.
Kita tidak harus selalu tiba lebih cepat. Kita hanya perlu cukup berani untuk berangkat, cukup terbuka untuk mencicipi pengalaman baru, dan cukup tenang untuk menerima bahwa tidak semua yang hilang membuat kita pulang dengan lebih sedikit.
Kadang-kadang kita memang harus berjalan jauh, hanya untuk mengetahui bahwa yang kita cari bukanlah puncak.
Melainkan rasa cukup.



















